Mengapa Pengidap Sindrom Marfan Rentan Terkena Pectus Excavatum?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mengapa Pengidap Sindrom Marfan Rentan Terkena Pectus Excavatum?

Halodoc, Jakarta - Namanya mungkin belum cukup familiar, tetapi sindrom Marfan termasuk salah satu kondisi yang bisa berujung serius. Sindrom ini adalah gangguan pada jaringan ikat, yang terjadi akibat kelainan genetik. Salah satu komplikasi yang juga dapat terjadi dari sindrom ini adalah pectus excavatum atau kondisi tulang dada yang menonjol ke dalam. Bagaimana bisa demikian?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa jaringan ikat adalah jaringan yang berfungsi sebagai penunjang atau penghubung antara organ tubuh. Itulah sebabnya gangguan apapun yang terjadi pada jaringan ini akan berdampak pada seluruh tubuh. Gejala sindrom Marfan pun sangat bervariasi. Beberapa pengidap mungkin hanya mengalami gejala yang ringan, tetapi pada pengidap lain, gejala yang muncul bisa berbahaya.

Baca juga: Ketahui Cara Pencegahan Sindrom Marfan Sejak Dini

Berikut beberapa gejala sindrom Marfan yang umum muncul dari kanak-kanak hingga menjelang dewasa:

  • Tubuh tinggi, kurus dan terlihat tidak normal.

  • Bentuk kaki yang besar dan ceper.

  • Bentuk lengan, tungkai, serta jari tangan dan kaki yang panjang atau tidak proporsional.

  • Sendi lunglai dan lemah.

  • Masalah pada tulang belakang, seperti skoliosis.

  • Gigi bertumpuk tidak beraturan.

  • Gangguan pada mata, seperti glaukoma, rabun jauh (miopia), katarak, pergeseran lensa mata, dan ablasi retina.

  • Stretch mark pada pundak, punggung bawah, dan panggul.

  • Gangguan jantung dan pembuluh darah, seperti perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah arteri besar (aorta) atau penyakit katup jantung.

Cara Sindrom Marfan Memicu Terjadinya Pectus Excavatum

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa jaringan ikat memiliki fungsi untuk menunjang dan menghubungkan organ tubuh. Tidak hanya itu, jaringan ini juga ternyata memiliki andil dalam pembentukan struktur tulang. Itulah sebabnya pengidap sindrom Marfan, terutama yang mengidapnya sejak kecil, sangat rentan terhadap gangguan pertumbuhan tulang, seperti salah satunya pectus excavatum.

Baca juga: Enggak Bisa Sembuh, Ketahui Komplikasi yang Diakibatkan Sindrom Marfan

Pectus excavatum adalah kondisi ketika bentuk tulang dada masuk ke dalam. Pada kondisi yang ringan, pengidap biasanya tidak akan memiliki keluhan selain bentuk dadanya yang tidak normal, hingga memunculkan rasa tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya. Namun, jika cekungan semakin parah dan dalam, kinerja jantung dan paru-paru akan terganggu.

Tingkat keparahan pectus excavatum ditentukan oleh sebuah metode pengukuran bernama Indeks Haller. Untuk dapat menghitung Indeks Haller, dokter akan menyarankan pengidap untuk melakukan X-ray atau CT scan. Dari hasil pencitraan tersebut, dokter kemudian akan mengukur jarak antara tulang tengah dinding dada (sternum) hingga tulang punggung. Angka yang normal adalah 2,5, dan pectus excavatum dianggap cukup parah apabila sudah melebihi angka 3,25.

Pectus excavatum yang parah akan menekan organ jantung dan paru-paru, maka pengidap biasanya akan merasakan gejala-gejala seperti:

  • Infeksi pernapasan kambuhan.

  • Berkurangnya kekuatan berolahraga.

  • Detak jantung cepat atau berdebar.

  • Jantung berdesir.

  • Bersin atau batuk-batuk

  • Kelelahan.

  • Nyeri pada dada.

Baca juga: Perlu Tahu, Perawatan Rumah bagi Pengidap Sindrom Marfan

Itulah sedikit penjelasan tentang mengapa pengidap sindrom Marfan rentan terkena pectus excavatum. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!