• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Skoliosis

Skoliosis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Penyakit Skoliosis - Gejala, Penyakit, dan Cara Mengobati | Halodoc.com

Pengertian Skoliosis

Skoliosis merupakan kondisi tulang belakang melengkung atau menyamping secara tidak normal. Kebanyakan kasus skoliosis terjadi pada anak-anak sebelum masa pubertas. Walaupun kasus ini tergolong ringan, tetap harus diwaspadai dan dianjurkan untuk menjalani X-ray agar mengetahui perkembangnya. Gangguan ini dapat terjadi saat mengalami kondisi, seperti cerebral palsy dan distrofi otot, meski secara umum tidak diketahui.

Pengidap skoliosis dewasa jika tulang belakang melengkung semakin parah akan merasakan sulitnya bernapas, timbulnya rasa nyeri, serta kelainan bentuk pada tulang belakang. Jika terus dibiarkan, mungkin saja kelumpuhan dapat terjadi. Maka dari itu, penanganan perlu dilakukan segera saat masalahnya masih dalam tahap ringan untuk mencegah berbagai komplikasi yang dapat membahayakan.

Baca juga: Idap Skoliosis di Masa Kecil Bisa Sampai Dewasa, Benarkah?

Faktor Risiko Skoliosis

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti dari skoliosis tidak dapat diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya, yaitu:

  • Usia. Meski bisa terjadi pada usia berapa pun, kelainan tulang belakang ini lebih umum terjadi pada anak-anak, remaja, dan lansia. 
  • Jenis kelamin. DIbanding anak laki-laki, risiko pengembangan penyakit skoliosis lebih buruk pada anak perempuan.
  • Riwayat kesehatan keluarga. Meski jarang, memiliki anggota keluarga dengan riwayat skoliosis dapat meningkatkan risiko.

Penyebab Skoliosis

Kebanyakan kasus skoliosis tidak diketahui penyebabnya, yang disebut juga dengan skoliosis idiopatik. Masalah ini tidak dapat dicegah dan dianggap tidak berhubungan dengan beberapa hal lainnya, seperti postur tubuh yang buruk, dampak dari olahraga serta diet. Namun, faktor keturunan atau gen dapat membuat seseorang lebih rentan untuk mengalaminya. Selain skoliosis idiopatik, berikut ini beberapa penyebab dari masalah tulang ini:

  • Skoliosis degeneratif. Penyebab ini terjadi karena adanya kerusakan bagian tulang belakang dan sering terjadi pada orang dewasa seiring bertambahnya usia.
  • Skoliosis idiopatik. Pada kasus idiopatik kali ini, terjadi karena faktor genetika.
  • Skoliosis kongenital. Penyebab kongenital terjadi karena tulang belakang yang tidak tumbuh dengan normal pada saat bayi didalam kandungan.

Gejala Skoliosis

Jika lengkungan dari skoliosis semakin parah, tulang belakang juga dapat mengalami berputar atau melintir, selain melengkung ke satu sisi ke sisi lainnya. Hal ini dapat menyebabkan tulang rusuk di satu sisi tubuh lebih menonjol dibanding sisi lainnya. 

Gejala skoliosis lainnya yang dapat dilihat dari adanya perubahan penampilan pada bagian dada, pinggul dan bahu, seperti:

  • Condong ke satu sisi.
  • Salah satu bagian bahu akan terlihat lebih tinggi.
  • Salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol.
  • Adanya tonjolan pada salah satu bagian pinggul.
  • Nyeri punggung bawah.
  • Kekakuan punggung.
  • Nyeri dan mati rasa di kaki Anda (karena saraf terjepit).
  • Kelelahan karena ketegangan otot.

Baca juga: Haruskah Pengidap Skoliosis Dioperasi?

Diagnosis Skoliosis

Untuk memastikan diagnosis skoliosis, dokter akan menanyakan gejala yang dialami dan riwayat penyakit yang dimiliki. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dengan meminta pengidap untuk berdiri atau membungkuk, serta memeriksa kondisi saraf.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan rontgen dan CT scan untuk mengetahui adanya skoliosis dan tingkat keparahan lengkungan tulang belakang yang dialami. 

Pengobatan Skoliosis

Bagi pengidap skoliosis ringan, mungkin tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, dokter tetap melakukan pengawasan rutin dan mengambil sinar-X setiap 6 bulan untuk memastikan jika gangguan yang terjadi tidak semakin parah. 

Jika masalah pada tulang ini terjadi pada anak-anak atau orang dewasa, beberapa perawatan yang umum dilakukan, antara lain:

1.Penyangga Tulang Belakang

Pada anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan ketika mengalaminya, penggunaan penyangga dapat menghentikan lekukan yang terjadi agar tidak lebih buruk. Cara ini umumnya dilakukan apabila sudut lengkungnya lebih dari 20 derajat. 

Alat ini juga biasanya terbuat dari plastik dan kebanyakan digunakan selama 24 jam sehari. Meski begitu, alat ini tidak terlihat saat menggunakan pakaian dan mampu beraktivitas seperti biasa.

2.Operasi Fusi Tulang Belakang

Operasi ini dilakukan dengan meletakkan potongan tulang atau bahan serupa di antara bagian pada tulang belakang. Dokter menggunakan perangkat keras agar dapat menahan tulang tetap di tempatnya hingga kembali normal. Operasi ini dapat mencegah skoliosis menjadi lebih buruk.

3.Operasi Pertumbuhan Tulang Belakang dan Tulang Rusuk

Metode ini dilakukan dengan memperbaiki skoliosis yang lebih serius pada anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Ahli medis akan menempelkan tongkat ke tulang belakang atau tulang rusuk untuk menjaga agar tulang dapat tumbuh tanpa kelainan. Dokter akan menyesuaikan panjang batang dengan pertumbuhan anak.

Selain itu, dokter juga dapat memberikan obat untuk seseorang dengan gangguan skoliosis saat dewasa agar rasa nyeri yang dirasakan dapat mereda. Biasanya juga operasi yang dilakukan saat perawatan dari masalah pada tulang belakang ini tidak kunjung sukses dan lengkungan sudah lebih dari 50 derajat.

Baca juga: Pengaruh Skoliosis Terhadap Perkembangan Janin

Komplikasi Skoliosis

Rasa sakit yang dialami pengidap skoliosis beragam, mulai dari rasa sakit yang menjalar dari tulang belakang ke bagian kaki, pinggul dan tangan ketika sedang berjalan, hingga mengalami nyeri punggung secara terus menerus dan sulit ketika bernapas. 

Terdapat komplikasi pada penyakit skoliosis yang mungkin terjadi, seperti:

  • Nyeri punggung jangka panjang yang biasanya dialami oleh orang dewasa yang saat kecil sudah mengidap kondisi skoliosis.
  • Gangguan pada jantung dan paru-paru. 
  • Mengganggu penampilan. Bahu atau pinggul terlihat tidak simetris, tulang iga menonjol, dan posisi pinggang bergeser.
  • Kerusakan saraf tulang belakang. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gangguan, seperti impotensi, inkontinensia urine, kesemutan, atau kelemahan pada tungkai.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala yang telah disebutkan, segera berbicara dan periksakan diri ke dokter jika mengalami keluhan pada tulang. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang bekerja sama dengan Halodoc.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Scoliosis.
Web MD. Diakses pada 2021. Scoliosis.
Medical News Today. Diakses pada 2021. Scoliosis.


Diperbarui pada 18 Mei 2021