• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penyebab Utama Terjadinya Aneurisma Otak

Penyebab Utama Terjadinya Aneurisma Otak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Otak adalah organ penting dalam tubuh manusia yang sangat rentan.  Terdapat berbagai penyakit atau kondisi medis tertentu yang dapat menurunkan hingga merusak fungsi otak. Salah satu kondisinya adalah aneurisma otak yang dianggap sebagai kondisi medis serius. Hal ini dikarenakan, gejalanya dapat menimbulkan dampak yang fatal bagi pengidapnya. Umumnya, kondisi ini terjadi pada kalangan orang dewasa yang berusia di atas 40 tahun. Namun, apa sebenarnya penyebab utama aneurisma otak? Yuk simak penjelasan medisnya di sini!

Baca juga: Begini Tahapan Diagnosis untuk Deteksi Aneurisma Otak

Penyebab Utama Aneurisma Otak

Aneurisma otak terjadi akibat melemahnya pembuluh darah di otak. Akibatnya,  penggelembungan seperti balon saat aliran darah menekan dinding pembuluh darah dapat terjadi. Jika hal ini dibiarkan dan tidak diberi penanganan, pembuluh darah pengidapnya dapat pecah dan mengalami perdarahan subarachnoid. Sayangnya, penyebab mengapa melemahnya dinding pembuluh darah tersebut masih belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor risiko yang juga dapat menyebabkan dinding pembuluh darah pengidap aneurisma otak menjadi lemah, antara lain: 

  • Usia

Peningkatan risiko aneurisma otak terjadi pada orang-orang yang berusia di atas 40 tahun. Hal ini disebabkan oleh melemahnya dinding pembuluh darah seiring bertambahnya usia dan juga tertekan aliran darah yang melewati dinding pembuluh darah. Maka dari itu, makin tua usia, risiko aneurisma otak juga semakin meningkat. Inilah mengapa lansia sangat rentan untuk mengalami aneurisma otak. 

  • Hipertensi

Hipertensi juga dikenal dengan istilah tekanan darah tinggi. Risiko seseorang untuk mengalami aneurisma otak meningkat ketika usianya di atas 40 tahun juga mengidap hipertensi. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada dinding pembuluh darah semakin meningkat akibat aliran dan tekanan darah yang semakin tinggi. 

  • Pernah Mengalami Cedera Kepala

Risiko aneurisma otak akan semakin meningkat jika seseorang pernah mengalami cedera pada kepala. Apalagi jika cedera tersebut dampaknya sampai ke otak. Kamu juga harus berhati-hati karena cedera pada kepala juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi, selain penyakit aneurisma otak. 

  • Konsumsi Alkohol yang Berlebihan

Mengonsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dalam tubuh. Dampak negatif alkohol juga dapat berlanjut hingga stroke dan aterosklerosis. Nah, peningkatan tekanan darah dalam tubuh tentunya menyebabkan hipertensi yang juga menjadi faktor risiko dari aneurisma otak. 

  • Jenis Kelamin

Sebagian besar pengidap aneurisma otak berjenis kelamin wanita. Hal ini diduga berkaitan dengan elastisitas pembuluh darah yang dapat melemah akibat penurunan produksi hormon estrogen. Penurunan produksi hormon estrogen tersebut disebabkan oleh faktor usia dan terjadi pasca fase menopause. 

Baca juga: Kenapa Lansia Rentan Alami Aneurisma Otak?

Apa Gejala Aneurisma Otak? 

Seseorang yang mengidap aneurisma otak akan mengalami gejala yang berbeda. Hal in disebabkan oleh perbedaan tingkat keparahan yang dialami setiap pengidapnya. Pengidap yang masih berada pada tahap awal (belum mengalami pembengkakan) umumnya tidak menunjukan gejala yang signifikan. Namun, ketika aneurisma mengalami pembengkakan hingga menekan saraf atau jaringan pada otak, pengidapnya akan menunjukan berbagai gejala, seperti: 

  • Pusing.
  • Nyeri pada area sekitar mata.
  • Terganggunya keseimbangan tubuh.
  • Kesulitan dalam berbicara.
  • Memiliki daya ingat yang pendek.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mengalami gangguan penglihatan.
  • Kelopak mata turun.

Sementara saat kondisinya sudah parah, kebocoran darah dapat terjadi akibat aneurisma otak. Kebocoran darah tersebut ditandai dengan pusing yang terjadi secara tiba-tiba. Nah ketika kondisi ini terjadi, risiko gelembung pada aliran darah pecah akan semakin meningkat. Terdapat berbagai gejala yang dapat dialami pengidap aneurisma otak saat aneurisma tersebut pecah, antara lain: 

  • Mual hingga muntah.
  • Leher terasa kaku.
  • Mengalami kejang-kejang.
  • Lumpuh pada salah satu sisi tubuh.
  • Merasa sakit kepala yang parah.
  • Mengalami penglihatan ganda atau pandangan kabur (gangguan penglihatan).

Meskipun tidak ada tindakan pencegahan yang spesifik, tetapi kamu dapat mengurangi faktor risiko aneurisma otak. Kamu harus menjalani pola hidup sehat dengan berhenti merokok, menjaga asupan nutrisi, membatasi makanan dengan kadar lemak tinggi karena meningkatkan risiko hipertensi, yang juga faktor risiko aneurisma otak. Selain itu, kamu juga harus rutin melakukan medical check-up agar bisa mengetahui kondisi tubuhmu, terutama kamu yang sudah memasuki fase pasca menopause. Karena itu, aneurisma otak lebih mudah untuk ditangani dengan deteksi dini sebelum kondisinya menjadi parah. 

Baca juga: Bisakah Anak-Anak Mengidap Aneurisma Otak?

Jika kamu memiliki sejumlah gejalanya, lebih baik kamu segera temu dokter di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Dokter akan melakukan sejumlah langkah untuk mendiagnosis aneurisma otak yang kamu alami. Kemudian, dokter akan melakukan penanganan yang tepat untuk mengurangi risiko komplikasi yang dampaknya bisa saja fatal bagi kesehatanmu. 

Referensi: 
WebMD.com. Diakses pada 2019. What Is a Brain Aneurysm?