• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perilaku Sering Kacau, Awas Gejala Skizofrenia

Perilaku Sering Kacau, Awas Gejala Skizofrenia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Pernah mendapati seseorang atau dirimu sendiri kesulitan membedakan realita dan khayalan? Hati-hati, mungkin kamu sedang mengalami gejala skizofrenia, yaitu gangguan mental kronis yang mengakibatkan terjadinya masalah pada proses berpikir. Gangguan jiwa ini juga membuat pengidapnya tidak mampu berpikir, memahami, atau mengingat suatu masalah tertentu.

Skizofrenia paranoid menjadi jenis yang paling umum ditemui di masyarakat. Gejala paling nyata pada gangguan jiwa ini adalah munculnya halusinasi dan delusi. Inilah yang mengakibatkan pengidap, seperti mendengar suara dalam pikiran mereka sendiri dan melihat sesuatu yang tidak nyata menurut orang lain.

Perilaku Sering Kacau Menjadi Salah Satu Gejala Skizofrenia

Umumnya, gejala awal skizofrenia muncul ketika masa remaja. Oleh karena itulah, gejala ini sering dianggap remeh karena dinilai wajar terjadi pada usia remaja. Gejala awal skizofrenia pada pria umumnya terjadi pada rentang usia 15 hingga 30 tahun, sedangkan pada wanita terjadi mulai usia 25 hingga 30 tahun. 

Baca juga: Pengidap Skizofrenia Alami Kepribadian Ganda, Benarkah?

Gejala umum dari skizofrenia yang bisa kamu lihat adalah cenderung menarik diri dari orang lain, mudah tersinggung dan marah, terjadinya perubahan pola tidur, kurangnya motivasi dan konsentrasi, hingga mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas. Namun, ada lagi gejala lain yang perlu kamu ketahui, yaitu:

  • Halusinasi, perasaan sedang mengalami sesuatu yang terasa sangat nyata, tetapi sebenarnya hal tersebut hanya ada di pikiran pengidap. Ini seperti mendengar suara atau melihat sesuatu yang tidak nyata bagi orang lain.
  • Delusi, disebut juga dengan waham, kondisi ketika pengidap meyakini sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan. Gejalanya bervariasi, mulai dari perasaan, seperti sedang diperhatikan atau diawasi, merasa sedang diikuti, dan merasa paranoid atau ketakutan yang berlebihan.
  • Pikiran dan bicara yang tidak beraturan, karena pengidap mengalami kesulitan berkonsentrasi, bahkan menonton televisi atau membaca surat kabar. Cara bicara pun cenderung sulit dimengerti oleh orang lain.
  • Perilaku menjadi kacau dan sulit diprediksi, termasuk cara berpakaian yang terlihat aneh dan tidak biasa bagi orang lain. Pun, tanpa diduga, pengidap bisa marah dan berteriak tanpa alasan yang jelas. 

Baca juga: Ini Jenis-Jenis Skizofrenia yang Perlu Diketahui

Sementara itu, skizofrenia juga menunjukkan adanya gejala negatif pada pengidapnya, seperti hilangnya minat pada suatu hal yang sebelumnya disenangi. Gejala ini bisa berlangsung hingga beberapa tahun sebelum adanya gejala awal. Seringnya, hubungan pengidap dan keluarga atau pasangan menjadi berantakan karena munculnya gejala negatif ini, karena terlihat seperti sikap tidak sopan atau malas. 

Kamu perlu tahu bahwa gejala negatif pada pengidap skizofrenia muncul secara bertahap dan semakin memburuk seiring dengan berjalannya waktu, termasuk:

  • Ekspresi dan gaya bicara yang tidak berubah atau cenderung monoton,
  • Kesulitan merasa puas atau senang,
  • Tidak mau bersosialisasi dan lebih senang mengurung diri di dalam rumah,
  • Hilangnya minat pada berbagai hal, seperti menjalin hubungan dengan lawan jenis atau bahkan berhubungan intim dengan pasangan,
  • Berubahnya pola tidur,
  • Enggan memulai percakapan dan merasa tidak nyaman ketika berada dekat dengan orang lain.
  • Tidak peduli pada kebersihan dan penampilan diri sendiri.

Baca juga: Jenis Terapi untuk Atasi Skizofrenia Paranoid

Jika kamu merasa mengalami salah satu gejala di atas, segera lakukan penanganan sebelum skizofrenia berkembang menjadi lebih buruk. Terlebih jika kamu merasa stres dan depresi karena mendengar suara atau melihat hal yang tidak nyata bagi orang lain. Tanyakan penanganan pertamanya pada psikolog di aplikasi Halodoc, dan apabila diperlukan, kamu bisa membuat janji di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan lanjutan.

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Schizophrenia.
WHO. Diakses pada 2020. Schizophrenia.
Medscape. Diakses pada 2020. Schizophrenia.