• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlu Ketahui 4 Fakta Seputar Gangguan Obsesif Kompulsif

Perlu Ketahui 4 Fakta Seputar Gangguan Obsesif Kompulsif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Tidak hanya kesehatan fisik, tentunya kamu pun perlu menjaga kesehatan mental agar kualitas hidup tetap terjaga dengan baik. Berbagai gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh siapa saja, salah satunya adalah gangguan obsesif kompulsif atau yang dikenal dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). 

Baca juga: Ini 3 Cara Diagnosis untuk Deteksi Penyakit OCD

Gangguan ini merupakan salah satu gangguan mental di mana pengidapnya merasa harus melakukan sesuatu secara berulang untuk mengatasi rasa cemas maupun khawatir yang berlebihan.Tidak hanya pada orang dewasa, gangguan ini juga dapat dialami oleh anak-anak hingga remaja. Nah, untuk mengenal gangguan ini lebih banyak, tidak ada salahnya ketahui beberapa fakta seputar gangguan obsesif kompulsif, di sini. Berikut ulasannya.

1.Gejala Dikelompokkan Menjadi Dua Jenis

Rasa khawatir dan cemas berlebihan menjadi salah satu ciri khas dari gangguan obsesif kompulsif. Namun, melansir dari National Institute of Mental Health, pengidap gangguan ini juga dapat mengalami dua jenis gejala, yaitu obsesif dan kompulsif. 

Gejala obsesif terjadi ketika pengidap memiliki pikiran, dorongan, atau gambaran yang muncul secara berulang dan menimbulkan kecemasan. Sedangkan gejala kompulsif merupakan perilaku berulang yang dialami pengidap sebagai respon dari gejala obsesif yang dialami. 

2.Gangguan Ini Dapat Diturunkan Melalui Genetik

Penyebab gangguan ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat tingkatkan risiko seseorang alami gangguan obsesif kompulsif, seperti adanya gangguan pada struktur otak, pengalaman yang menyebabkan trauma, kondisi depresi, hingga adanya faktor genetik atau riwayat keluarga.

Melansir Mayo Clinic, adanya riwayat keluarga yang cukup dekat, seperti orangtua atau saudara kandung, yang mengalami gangguan ini sangat rentan tingkatkan risiko yang serupa. Gejala obsesif dan kompulsif dapat terjadi ketika seseorang melihat dan terbiasa dengan gejala yang dialami oleh keluarga lainnya. Hal ini membuat seseorang menjadikan gejala gangguan ini sebagai suatu hal yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Hal yang Terjadi pada Otak saat Mengalami OCD

3.Mengelola Tingkat Stres dapat Cegah Gangguan Obsesif Kompulsif

Melansir Help Guide, kondisi stres nyatanya dapat memicu gangguan ini. Tidak ada salahnya untuk mengelola tingkat stres dengan baik agar kamu terhindar dari berbagai dampak pada kesehatan. Berbagai cara bisa kamu lakukan untuk mengatasi kondisi stres, seperti rutin melakukan olahraga, mendengarkan musik kesukaan, hingga membaca buku.

4.Pengobatan Medis Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Gejala

Gangguan obsesif kompulsif menjadi salah satu gangguan mental yang sulit untuk diatasi. Namun, dengan melakukan perawatan dan pengobatan secara medis, kamu dapat menekan risiko gejala yang mungkin dialami oleh pengidap.

Berbagai pengobatan dapat dilakukan untuk menurunkan risiko gangguan obsesif kompulsif, seperti terapi perilaku kognitif. Pengobatan ini dilakukan untuk membantu pengidap mengontrol pikiran obsesif yang dapat menyebabkan cemas dan takut berlebih. Penggunaan obat-obatan juga dapat digunakan untuk meredakan kondisi cemas atau takut yang muncul secara berlebihan.

Itulah beberapa fakta mengenai gangguan obsesif kompulsif yang perlu diketahui. Tidak ada pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari kondisi ini, tetapi, saat kamu merasa diri sendiri atau kerabat dekat mengalami cemas secara berlebihan dalam durasi yang cukup lama, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat agar kondisi ini dapat ditangani dengan tepat.

Baca juga: Inilah Pemeriksaan yang Dapat Mendiagnosis OCD

Gangguan obsesif kompulsif yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan berbagai dampak, seperti gangguan pada hubungan sosial, menurunnya kualitas hidup, mengalami gangguan kesehatan fisik, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
Help Guide. Diakses pada 2020. Obsessive Compulsive Disorder (OCD).