Perlu Tahu 5 Penyakit Komplikasi Akibat Demam Kuning

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Perlu Tahu 5 Penyakit Komplikasi Akibat Demam Kuning

Halodoc, Jakarta - Pernah alami gejala demam yang disertai nyeri otot, sakit kepala dan munculnya perubahan pada bagian putih mata dan kulit yang menguning? Di dalam dunia medis, ini merupakan gejala umum dari penyakit demam kuning. Penyakit ini terjadi akibat infeksi virus yang berinkubasi di dalam tubuh selama 3 hingga 6 hari. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa penyakit ini merupakan penyakit endemik di Afrika dan Amerika Tengah. Selain itu, sebagian kecil pasien yang tertular virus flavivirus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini bisa mengalami gejala parah bahkan bisa meninggal dalam 7 atau 10 hari.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat antivirus yang khusus untuk demam kuning. Tetapi, perawatan suportif yang baik di rumah sakit bisa meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. 

Baca juga: Sama-Sama Karena Nyamuk, Lebih Bahaya Demam Kuning atau DBD?

Komplikasi Akibat Demam Kuning

Penting untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit jika gejala demam kuning terjadi. Kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter saat hendak melakukan perawatan. Jika pengidap demam kuning tidak mendapatkan perawatan tepat, maka terjadi komplikasi yang berbahaya, yaitu: 

  • Miokarditis. Ini merupakan kondisi yang terjadi saat otot jantung (miokardium) mengalami peradangan atau inflamasi. Padahal, otot ini memiliki fungsi yang vital, yakni mengatur fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh organ tubuh. Saat bagian ini mengalami peradangan, fungsi tersebut mungkin akan mengalami masalah, bahkan terhambat. Terhambatnya kinerja jantung karena peradangan ini memicu gejala, seperti nyeri pada dada, gangguan irama jantung, hingga sesak napas.

  • Edema Paru. Demam kuning memicu komplikasi pada organ paru, yakni edema paru. Pengidap demam mengalami gejala sulit bernapas akibat adanya penumpukan cairan di dalam kantung paru-paru (alveoli). Di dalam kondisi tubuh yang normal, saat bernapas paru-paru akan kemasukan udara. Pada kondisi ini, paru-paru terisi cairan ketika sedang bernapas. Hal itu bisa menjadi berbahaya karena tidak ada oksigen yang masuk ke paru-paru dan aliran darah.

  • Radang Otak. Radang otak atau ensefalitis bisa muncul sebagai penyakit komplikasi akibat demam kuning. Kondisi ini muncul karena adanya inflamasi yang terjadi pada otak. Penyakit ini lebih mudah menyerang orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah.

  • Hepatorenal. Gejala kuning yang terjadi akibat penurunan fungsi organ hati juga bisa berkembang menjadi penyakit hepatorenal. Penyakit ini merupakan sindrom dari sejumlah gejala akibat gagal ginjal yang berawal dari penyakit hati stadium lanjut. 

  • Infeksi Bakteri Sekunder. Komplikasi ini biasanya berpotensi terjadi malah setelah seseorang dinyatakan sembuh dari penyakit demam kuning. Infeksi bakteri sekunder adalah jenis infeksi bakteri yang muncul selama atau setelah pengobatan.

Baca juga: Inilah Fakta-Fakta Penting Mengenai Demam Kuning

Perawatan untuk Atasi Demam Kuning

Belum ada obat untuk mengobati atau menyembuhkan infeksi demam kuning. Pengidapnya bisa melakukan beberapa hal seperti beristirahat, minum cairan, dan menggunakan penghilang rasa sakit dan obat-obatan untuk mengurangi demam. Pengidapnya perlu menghindari obat-obatan tertentu, seperti aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid lainnya karena meningkatkan risiko perdarahan.

Sementara itu, orang dengan gejala yang cukup parah harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan ketat dan perawatan suportif. Jika setelah kembali dari perjalanan kamu merasa memiliki gejala demam kuning (biasanya sekitar satu minggu setelah digigit nyamuk yang terinfeksi), lindungi dirimu dari gigitan nyamuk hingga 5 hari setelah gejala dimulai. Hal ini membantu mencegah penyebaran demam kuning ke nyamuk yang tidak terinfeksi yang bisa menyebarkan virus ke orang lain.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Yellow Fever.
World Health Organization. Diakses pada 2019. Yellow Fever.