01 November 2018

Perlu Tahu, Begini Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis C

Perlu Tahu, Begini Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis C

Halodoc, Jakarta - Penyakit yang kerap dijuluki sebagai silent killer ini disebabkan oleh virus HCV (Hepatitis C Virus), yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui darah. Julukan tersebut didapat hepatitis C karena sifatnya yang tidak menunjukkan gejala pada tahap-tahap awal.

Pada sebagian besar kasus, gejala umumnya baru akan dirasakan ketika infeksi virus telah menggerogoti organ hati selama bertahun-tahun. Selain itu, gejala yang muncul juga memiliki indikasi yang mirip dengan penyakit-penyakit lain, sehingga seringkali tidak disadari oleh pengidapnya.

Seperti dikatakan di awal, hepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus, yang ditularkan melalui darah. Oleh sebab itu, siapa saja dapat tertular penyakit ini jika melakukan kontak yang berhubungan dengan darah dengan orang yang telah terinfeksi. Berbagi jarum suntik dengan pengidap hepatitis C, membuat tato dengan jarum yang tidak steril, atau melakukan seks bebas, merupakan hal-hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit ini. Namun, virus hepatitis C tidak akan menular melalui ASI, makanan, minuman, dan bersentuhan kulit.

Pengobatan Hepatitis C

Penanganan terhadap hepatitis C sedini mungkin sangatlah diperlukan, untuk mencegah dan menghambat kerusakan hati. Namun, seperti apa pengobatan yang diperlukan akan sangat bergantung pada diagnosis dokter. Pada beberapa kasus yang masih ringan, pengidap hepatitis C seringkali tidak membutuhkan penanganan medis yang intens.

Sebab, sistem kekebalan tubuh umumnya mampu memberantas infeksi, dan tidak semua pengidap hepatitis C pasti akan mengalami kerusakan hati. Pengidap hepatitis C akut biasanya bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Sementara pengidap hepatitis C kronis biasanya membutuhkan langkah-langkah penanganan melalui pemberian obat-obatan antivirus. Obat tersebut berguna untuk menghentikan perkembangan virus dan mencegah gagal hati.

Bahkan, beberapa waktu lalu para pakar berhasil menemukan jenis obat baru untuk hepatitis C, yang digadang lebih efektif sekaligus aman, sehingga bisa ditoleransi oleh tubuh. Nama obat tersebut adalah Direct Antiviral Agent (DAA).

Namun, perlu diingat bahwa meski sudah sembuh dari hepatitis C, bukan berarti tubuh seseorang memiliki kekebalan sepenuhnya terhadap virus serupa. Pengidap hepatitis C yang telah dinyatakan sembuh tetap perlu berhati-hati, karena memiliki risiko untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.

Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah hepatitis C. Namun, beberapa cara dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan. Misalnya, berhenti atau tidak menggunakan obat-obat terlarang terutama bentuk suntik, tidak berbagi penggunaan barang-barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah, seperti gunting kuku dan sikat gigi.

Meski jarang menular melalui hubungan intim, penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom dapat mengurangi risiko serangan virus hepatitis C, terutama jika hubungan intim yang dilakukan terjadi kontak dengan darah, seperti pada hubungan yang dilakukan ketika sedang menstruasi. Selain itu, pengidap hepatitis C juga memiliki risiko tinggi untuk terkena hepatitis jenis lain. Untuk itu, mendapat vaksin untuk mencegah hepatitis A dan B sangat dianjurkan.

Itulah sedikit penjelasan tentang pengobatan dan pencegahan hepatitis C yang dapat dilakukan. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal penyakit ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu 1 jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!

Baca juga: