Perlu Tahu, Ini Bedanya Serangan Panik dan Serangan Kecemasan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Perlu Tahu, Ini Bedanya Serangan Panik dan Serangan Kecemasan

Halodoc, Jakarta - Baik serangan panik maupun serangan kecemasan (gangguan kecemasan) sama-sama membuat pengidapnya waswas. Ada sebagian orang yang pernah mengalami panik “setengah mati” pada situasi tertentu. Bahkan, tubuh mereka sampai gemetaran, keringat bercucuran, hingga sulit bernapas.

Serangan panik ini melibatkan perasaan terteror tiba-tiba yang menyerang tanpa adanya peringatan. Kondisi ini bisa terjadi kapan saja, bahkan saat pengidapnya tertidur. Dalam beberapa kasus, pengidap serangan panik percaya bahwa mereka mengalami serangan jantung. Bahkan, mereka juga percaya akan gila atau mati.

Baca juga: Gejala dari Serangan Panik yang Selama Ini Diabaikan

Menurut ahli dari Outpatient Behavioral Health Services di Henry Ford Hospital, Amerika Serikat, panic attack bisa terjadi secara spontan, dan bukan sebagai reaksi dari sebuah situasi yang penuh tekanan.

Sedangkan serangan panik atau gangguan kecemasan umum, merupakan rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tak terkendali. Nah, inilah yang bakal mengganggu aktivitas sehari-hari pengidapnya. Kondisi jangka panjang ini bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Baca juga: 5 Tanda Anxiety Disorder yang Perlu Diketahui

Gejala yang Timbul Hampir Mirip

Baik serangan panik maupun gangguan kecemasan memiliki gejala tersendiri. Tapi, kalau ditelaah lebih jauh gejalanya hampir mirip. Sebenarnya serangan panik ini enggak hanya ditandai dengan panik atau rasa cemas yang berlebihan saja. Sebab, ada sederet gejala lainnya yang menyertainya.

Yang perlu ditegaskan, gejala dari gangguan kecemasan ini biasanya muncul secara tiba-tiba dan akan mencapai puncaknya hanya dalam hitungan menit. Meski kebanyakan kasus panic attack hanya berlangsung selama 5–20 menit, namun ada juga yang bisa menyerang selama satu jam.

Lalu, apa saja sih gejala dari kondisi mental ini?

  • Gemetaran.

  • Berkeringat secara berlebihan.

  • Kram perut.

  • Sakit dada.

  • Deg-degan dan gelisah.

  • Timbulnya rasa terlepas dari tubuh dan merasa mengalami situasi yang tak nyata.

  • Merasa adanya kilatan hawa dingin atau panas yang menyerupai demam.

  • Pusing atau pingsan.

  • Mati rasa atau geli.

  • Merasa adanya bahaya akan datang.

  • Takut kehilangan kendali atau takut mati.

  • Jantung berdetak cepat dan terasa keras.

  • Mual.

  • Timbul rasa sesak di tenggorokan dan sulit bernapas.

Gangguan Kecemasan

Gejala yang timbul dari segi psikis:

  • Senantiasa cemas, bahkan untuk hal sepele.

  • Resah dan tidak bisa tenang.

  • Selalu tegang.

  • Sulit konsentrasi.

  • Uring-uringan.

  • Ketakutan, terutama dalam memutuskan sesuatu.

Gejala yang timbul dari sisi fisik:

  • Kelelahan.

  • Sakit kepala.

  • Mual.

  • Diare.

  • Sakit perut.

  • Insomnia.

  • Keringat berlebihan.

  • Gemetaran.

  • Otot-otot yang nyeri akibat selalu tegang.

  • Detak jantung yang cepat.

  • Mulut kering.

  • Napas pendek.

Kenali Faktor Risikonya

Hingga saat ini penyebab pasti dari serangan panik belum diketahui. Tapi, orang yang memiliki kerentanan biologis mengalami panic attack, kondisi panik biasanya terjadi terkait dengan perubahan dalam hidup.

Contohnya, memulai pekerjaan pertama, menikah, perceraian, memiliki anak di luar rencana, dan sebagainya. Tak cuma itu, gaya hidup yang penuh stres pun diduga menjadi biang keladi dari gangguan kecemasan ini. Serangan panik bisa saja terjadi dari kombinasi faktor internal dan eksternal.

Selain hal-hal di atas, berikut faktor lainnya yang bisa memicu panic attack:

  • Terjadinya perubahan atau ketidakseimbangan zat yang berdampak pada fungsi otak.

  • Faktor genetik, punya sejarah serangan panik di dalam keluarga.

  • Stres berlebihan, contohnya karena kehilangan seseorang yang sangat berarti.

  • Memiliki temperamen yang rentan terpengaruh oleh stres atau emosi negatif.

  • Merokok atau mengonsumsi minuman kafein secara berlebihan.

Baca juga: Kecemasan Anak Diwarisi Orangtua, Kok Bisa?

Bagaimana dengan faktor risiko dari gangguan kecemasan?

  • Pernah mengalami kecemasan, misalnya kekerasan dalam rumah tangga atau perundungan.

  • Pernah menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi minuman keras.

  • Adanya aktivitas berlebihan dari bagian otak yang mengendalikan emosi dan tingkah laku.

  • Jenis kelamin. Wanita dipercaya lebih rentan mengidap gangguan ini.

  • Faktor keturunan, orangtua atau kerabat dekat dengan gangguan kecemasan umum memiliki risiko lima kali lebih besar untuk mengalami kondisi sejenis.

Untuk membedakan serangan panik dan gangguan kecemasan memang tak mudah. Kita perlu berdiskusi dengan dokter atau tenaga profesional untuk mengetahui kedua hal tersebut.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!