• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlu Tahu, Ini Penyebab Utama Terjadinya Anemia Hemolitik
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perlu Tahu, Ini Penyebab Utama Terjadinya Anemia Hemolitik

Perlu Tahu, Ini Penyebab Utama Terjadinya Anemia Hemolitik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 27 Mei 2021
Perlu Tahu, Ini Penyebab Utama Terjadinya Anemia Hemolitik

Halodoc, Jakarta - Sebaiknya jangan sepelekan jika perut terasa tidak nyaman, jantung berdebar, pusing dan mengalami kondisi pucat. Kondisi tersebut bisa menjadi gejala dari penyakit anemia hemolitik. Penyakit ini berhubungan dengan sel darah merah, yang terjadi ketika seseorang mengalami kondisi kurang darah akibat proses penghancuran sel darah merah lebih cepat dibandingkan proses pembentukannya.

Pada tubuh yang sehat, sel darah merah memiliki usia 120 hari sebelum sel darah merah diganti dengan sel darah merah yang baru dan kaya oksigen secara alami. Namun, saat belum mencapai usia yang seharusnya dan sel darah merah sudah dihancurkan, kondisi ini menyebabkan sumsum tulang belakang bekerja lebih keras untuk menghasilkan sel darah merah yang baru.

Jika proses tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sumsum tulang tidak dapat menghasilkan sel darah merah yang cukup dan terjadilah kondisi anemia hemolitik. Untuk lebih jelasnya mengenai penyebab anemia hemolitik dan hal-hal lainnya, simak ulasannya di bawah ini, ya.

Baca juga: Ketahui Jenis-Jenis Anemia Hemolitik yang Mengganggu Kesehatan

Inilah Penyebab Anemia Hemolitik

Tidak hanya pada orang dewasa, penyakit anemia hemolitik juga dapat dialami oleh bayi yang baru dilahirkan dan anak-anak. Kondisi anemia hemolitik bisa disebabkan karena faktor keturunan. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami anemia hemolitik yang diturunkan, seperti anemia sel sabit, sferositosis, ovalositosis, thalassemia, kekurangan enzim glukosa 6 fosfat dehydrogenase, dan kekurangan enzim piruvat kinase.

Tidak hanya masalah keturunan atau bawaan lahir, penyebab anemia hemolitik lainnya dapat dipicu oleh infeksi, seperti tipes, hepatitis atau paparan infeksi dari bakteri E.coli. Seorang pengidap penyakit autoimun dan kanker darah juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap anemia hemolitik. Selain itu, faktor risiko lainnya yang perlu diwaspadai, yaitu gigitan ular berbisa, keracunan arsenik, reaksi tubuh akibat transplantasi organ.

Baca juga: Kenalan Lebih Dalam dengan Anemia Hemolitik Autoimun

Ketahui Gejala Anemia Hemolitik

Jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter di aplikasi Halodoc ketika mengalami sejumlah gejala anemia hemolitik. Beberapa gejala yang umum yang tampak, yaitu tubuh yang mudah lelah, pusing, kulit yang tampak lebih pucat, demam, urine berwarna gelap, mengalami gejala penyakit kuning, perut yang terasa tidak nyaman karena adanya pembesaran bagian hati dan limpa, serta jantung yang terus berdebar.

Bagi kamu pengidap kanker darah, autoimun atau mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu sebaiknya lakukan pemeriksaan rutin untuk menghindari penyakit anemia hemolitik. Penyakit anemia hemolitik juga dapat terjadi akibat efek samping dari penggunaan obat-obatan tertentu.

Selain melakukan pemeriksaan fisik, ada pemeriksaan lain yang dilakukan dokter untuk memastikan kondisi anemia hemolitik. Penghitungan darah lengkap, pemeriksaan bilirubin, tes coombs dan aspirasi sumsum tulang dilakukan ketika seseorang dicurigai mengalami anemia hemolitik.

Baca juga: Waspada 3 Komplikasi dari Anemia Hemolitik

Pengidap anemia hemolitik dapat melakukan pengobatan dengan beberapa cara, seperti mengonsumsi suplemen folat dan suplemen zat besi. Penggunaan obat imunosupresan juga dilakukan untuk menekan sistem imun tubuh agar sel darah merah tidak terlalu cepat dihancurkan. Melakukan suntik immunoglobulin dan transfusi darah dapat dilakukan sebagai pengobatan untuk mengatasi anemia hemolitik. Kondisi anemia hemolitik yang tidak segera diatasi bisa mengakibatkan komplikasi, seperti gangguan irama jantung, kelainan otot jantung dan gagal jantung. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia
Web DM. Diakses pada 2021. What Causes Hemolytic Anemia?