• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Anemia Hemolitik

Anemia Hemolitik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anemia hemolitik_

Pengertian Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik atau hemolytic anemia adalah gangguan kurang darah yang terjadi karena sel darah merah dihancurkan lebih cepat, daripada waktu terbentuknya kembali sel baru. Masalah kesehatan ini perlu segera ditangani sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya pada organ jantung, seperti gagal jantung. 

Anemia hemolitik bisa terjadi sejak bayi dilahirkan karena langsung diwariskan dari orangtua atau berkembang setelah lahir. Kondisi anemia hemolitik yang didapat bukan karena keturunan bisa disebabkan karena kondisi medis tertentu, paparan senyawa kimia berlebihan, hingga efek samping dari konsumsi obat-obatan. 

Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya anemia hemolitik bisa disembuhkan dengan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Meski begitu, ada pula kondisi saat anemia hemolitik terjadi dalam waktu lama atau kronis, terlebih yang terjadi karena keturunan dari orangtua. 

 

Penyebab Anemia Hemolitik

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya anemia hemolitik karena diturunkan atau diwariskan dari orangtua, yaitu: 

  • Anemia sel sabit.
  • Thalasemia.
  • Ovalositosis.
  • Sferositosis.
  • Kurang enzim piruvat kinase.
  • kurang enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase.

Sementara itu, ada pula kondisi yang tidak disebabkan karena faktor keturunan dan bisa memicu terjadinya anemia hemolitik, antara lain: 

  • Infeksi, seperti hepatitis, tipes, infeksi bakteri atau virus. 
  • Masalah yang berkaitan dengan autoimun, seperti lupus, kolitis ulseratif, rheumatoid arthritis, dan anemia hemolitik autoimun.
  • Efek samping penggunaan obat tertentu, seperti obat antiinflamasi nonsteroid, paracetamol, levodopa, rifampicin, metildopa, dapsone, dan antibiotik jenis tertentu. 
  • Kanker, terlebih kanker darah.
  • Gigitan ular yang berbisa.
  • Keracunan timah maupun arsen. 
  • Pernah menerima transfusi darah dari pendonor dengan golongan darah yang tidak sama.
  • Reaksi tubuh karena pernah menjalani operasi transplantasi organ.
  • Kurang asupan vitamin E, khususnya pada bayi yang lahir prematur. 

Lalu, faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami anemia hemolitik, antara lain: 

  • Bayi baru lahir.
  • Memiliki riwayat penyakit autoimun.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan thalasemia.
  • Menerima transfusi darah.
  • Mengonsumsi obat-obatan.

 

Gejala Anemia Hemolitik

Gejala penyakit anemia hemolitik bisa bersifat ringan saat penyakit baru memasuki fase awal. Namun, gejala akan semakin memburuk, bisa terjadi secara tiba-tiba atau secara perlahan. Tanda yang muncul berbeda pada setiap pengidap, tetapi gejala yang umum terjadi, antara lain: 

  • Kulit terlihat pucat.
  • Sering pusing.
  • Tubuh cepat merasa lelah.
  • Demam.
  • Urine berwarna gelap.
  • Bagian putih mata dan kulit menguning atau mengalami penyakit kuning.
  • Perut terasa sangat tidak nyaman karena terjadi pembesaran organ hati dan limfa.
  • Jantung sering berdebar.

 

Diagnosis Anemia Hemolitik

Guna mendapatkan diagnosis yang lebih akurat, dokter pertama-tama akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh pengidap, riwayat kesehatan pengidap, dan anggota keluarganya untuk mengetahui apakah ada anggota keluarga yang pernah mengidap anemia. Lalu, dokter akan melakukan pemeriksaan pada kulit, melihat apakah kulit terlihat berwarna kuning atau pucat. 

Dokter juga akan meraba dan menekan perut pengidap untuk mengetahui adanya pembesaran organ limfa dan hati. Apabila dokter mencurigai adanya gejala anemia hemolitik, akan dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti: 

  • Pemeriksaan perhitungan darah lengkap guna mengetahui jumlah sel darah di dalam tubuh.
  • Pemeriksaan kadar bilirubin, senyawa sisa yang berasal dari proses penghancuran sel darah merah yang bisa menyebabkan terjadinya penyakit kuning.
  • Pemeriksaan Coombs guna mengetahui kemungkinan antibodi justru menyerang sel darah merah. 
  • Aspirasi sumsum tulang, guna mengetahui bentuk maupun tingkatan kematangan dari sel darah merah. 

 

Pengobatan Anemia Hemolitik

Terapi anemia hemolitik dapat dilakukan tergantung dari beberapa faktor, seperti berapa usia pengidap, kesehatan secara keseluruhan, dan riwayat medis. Selain itu, pengobatan diberikan sesuai dengan penyebabnya. Beberapa hal yang mungkin dipertimbangkan oleh dokter untuk memilih jenis terapi adalah tingkat dan penyebab kondisi serta toleransi untuk obat, prosedur, dan terapi.

Sementara itu, kemungkinan terapi yang dapat diberikan pada pengidap anemia hemolitik, antara lain:

  • Terapi asam folat.
  • Kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid diberikan pada pengidap anemia hemolitik dengan penyakit autoimun.
  • Immunoglobulin G intravena.
  • Terapi eritropoetin. Terapi ini diberikan pada pasien dengan gagal ginjal.
  • Tidak melanjutkan konsumsi obat-obatan yang berisiko menimbulkan anemia hemolitik.

Beberapa kondisi yang mengarah pada individu yang memiliki tingkat anemia hemolitik dengan keparahan yang tinggi memerlukan rawat inap dan perawatan sebagai berikut:

  • Transfusi darah. Terapi ini biasanya diberikan kepada pengidap anemia hemolitik berat atau dengan gangguan jantung maupun paru, penyakit thalasemia atau penyakit anemia sel sabit. Salah satu efek samping dari terapi ini adalah penumpukan besi di dalam tubuh akibat transfusi berulang. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan terapi kelasi besi.
  • Operasi pengangkatan limpa. Tindakan ini dilakukan sebagai pilihan dalam kasus-kasus hemolisis yang tidak merespon kortikosteroid dan imunosupresan.

 

Pencegahan Anemia Hemolitik

Kondisi anemia hemolitik yang diturunkan dari orang tua tidak dapat dicegah. Namun, hal tersebut memiliki pengecualian, seperti kekurangan glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD). Jika seseorang terlahir dengan kondisi defisiensi G6PD, pencegahan dilakukan dengan menghindari zat yang dapat memicu kondisi tersebut. 

Misalnya, hindari kacang fava, naftalena (zat yang ditemukan di beberapa ngengat), kamper, dan obat-obatan tertentu. Ada juga beberapa jenis anemia hemolitik yang dapat dicegah, seperti reaksi terhadap transfusi darah yang dapat menyebabkan anemia hemolitik. Ini membutuhkan pencocokan tipe-tipe darah yang seksama antara donor darah dan penerima.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan kesehatan apabila mengalami salah satu atau beberapa gejala yang mengarah pada kondisi anemia hemolitik, terlebih adanya masalah pada kulit, jantung berdebar, dan mata yang menguning. 

Perlu diketahui bahwa anemia hemolitik bisa terjadi karena kondisi gangguan autoimun atau efek samping dari konsumsi obat tertentu. Jadi, pastikan kamu berdiskusi dan bertanya langsung pada dokter apabila memiliki masalah autoimun atau sedang mengonsumsi obat tertentu dalam jangka panjang. 

Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan tanya jawab dengan dokter spesialis, beli obat dan vitamin melalui fitur pharmacy delivery, dan buat janji berobat di rumah sakit terdekat. Jadi, sudah download aplikasi Halodoc?

Referensi:
WebMD.com Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia.
Healthline. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It.
Drugs. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia.
Diperbarui pada 16 Desember 2021.