Masih Perlukah Orang Dewasa Minum Obat Cacing?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Masih Perlukah Orang Dewasa Minum Obat Cacing?

Halodoc, Jakarta - Karena cacingan identik dengan penyakit anak-anak, minum obat cacing pun cenderung lekat dengan imej ‘anak-anak’. Padahal, cacingan juga sebenarnya bisa terjadi pada orang dewasa, lho. Kalau begitu apakah orang dewasa masih perlu minum obat cacing?

Pada kasus cacingan anak, dokter biasanya akan menganjurkan untuk minum obat cacing setidaknya 6 bulan sekali sebagai langkah pencegahan sekaligus pengobatan. Ketika orang dewasa terinfeksi cacing, tentu saja mengonsumsi obat cacing merupakan suatu keharusan. Sebab jika tidak diobati, cacingan dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti penyumbatan usus dan malabsorbsi nutrisi. 

Baca juga: Banyak Makan Tetap Kurus karena Cacingan, Benarkah?

Apakah rekomendasi konsumsi obat cacing 6 bulan sekali sebagai upaya pencegahan juga diperlukan oleh orang dewasa? Jawabannya iya, bagi yang berisiko tinggi mengalami cacingan. Lalu, pertanyaan selanjutnya, siapa sajakah yang berisiko tinggi dan sebaiknya rutin minum obat cacing?

1. Orang yang Bekerja di Tempat yang Rawan Cacing

Orang yang bekerja atau menghabiskan sebagian besar waktunya berada di tempat yang rawan cacing, seperti tanah liat, tanah gembur, dan pasir, memiliki risiko tinggi terinfeksi cacing. Terlebih jika aktivitas utamanya kerap membuat kulit berkontak langsung dengan tanah, seperti buruh bangunan, penggali tanah, peternak, dan petani.

2. Orang yang Tinggal di Daerah Endemik Cacingan

Warga yang bermukim di lokasi endemik penyakit cacingan harus  mewaspadai penularan penyakit schistosomiasis dengan meminum obat cacing. Schistosomiasis, atau demam keong, adalah infeksi parasit akut dan kronis yang disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum. Di Indonesia, cacing ini ditemukan endemik sejak 2008 di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu.

Schistosomiasis umum terjadi di di daerah tropis dan subtropis, khususnya di masyarakat daerah pinggiran atau pedalaman tanpa akses ke air minum bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai. Penularan terjadi ketika pengidap schistosomiasis mencemari sumber air tawar dengan feses mereka yang mengandung telur parasit yang kemudian menetas di dalam air.

Baca juga: Terkena Cacing Kremi, Inilah Pengobatan yang Bisa dilakukan

3. Orang yang Tinggal di Lingkungan Kumuh

Infeksi cacing lebih rawan terjadi pada tempat-tempat beriklim hangat dan lembap, seperti pada lingkungan kumuh dengan fasilitas sanitasi yang tidak memadai, misalnya bantaran kali. Tanah pada lingkungan seperti ini juga memiliki kemungkinan terkontaminasi oleh feses dari orang yang terinfeksi cacingan saat ia buang air besar di kali atau ketika kotoran manusia digunakan sebagai pupuk. 

Orang yang tinggal di daerah seperti ini berisiko tinggi terinfeksi cacing jika tanah yang terkontaminasi dengan kotoran manusia memasuki mulut mereka, atau jika mereka makan sayur, daging, atau buah yang tidak dicuci bersih, dikupas dengan baik, atau dimasak hingga matang.

4. Orang yang Kurang Memperhatikan Kebersihan Makanan

Kebiasaan mengonsumsi buah atau sayur yang tidak dicuci bersih, terkupas dengan baik, atau dimasak hingga benar-benar matang, akan membuat risiko infeksi cacing meningkat. Selain itu, orang yang hobi mengonsumsi daging babi dan daging sapi yang tidak dimasak matang juga memiliki risiko tinggi untuk terkena cacingan.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Ini Gejala Infeksi Cacing Gelang pada Anak

Bagaimana Aturan Minum Obat Cacing Bagi Orang Dewasa?

Sebagai upaya pencegahan, jika kamu merasa termasuk orang yang memiliki risiko tinggi terinfeksi cacing, mengonsumsi obat cacing secara rutin (setidaknya 6 bulan sekali) perlu dilakukan. Dosis obat cacing termasuk dosis tunggal, sehingga tidak akan memunculkan efek samping berat setelah minum obat meski tubuh tidak memiliki cacing.

Jika kamu merasa bukan termasuk golongan yang berisiko tinggi, dan sudah menerapkan gaya hidup sehat dan bersih, seperti selalu mencuci buah dan sayur hingga bersih, memasak daging hingga matang, dan rajin mencuci tangan, kamu bisa mengubah dosis minumnya menjadi satu tahun sekali.

Itulah sedikit penjelasan tentang obat cacing. Jika kamu mengalami tanda-tanda cacingan, segera periksakan diri ke dokter di rumah sakit pilihan kamu. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasinya sekarang!