21 January 2019

Enggan Menikah tapi Bisa Punya Anak dengan Platonic Parenting

Enggan Menikah tapi Bisa Punya Anak dengan Platonic Parenting

Halodoc, Jakarta - Beberapa waktu terakhir, kasus perceraian marak terjadi. Alasannya beragam, mulai dari masalah ketidakcocokan, perbedaan prinsip, masalah finansial, hingga hadirnya orang ketiga. Alasan-alasan ini, secara tidak langsung, membuat orang-orang ragu untuk membina rumah tangga. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk hidup sendiri alias tidak menikah.

Namun, beberapa orang yang memutuskan untuk tidak menikah mengatakan ingin memiliki buah hati. Inilah yang kemudian menjadi tren pola asuh atau parenting masa kini: tidak terlibat dalam hubungan pernikahan, tetapi bisa memiliki dan membesarkan sang buah hati seperti orang tua pada umumnya. Tren ini dikenal dengan istilah platonic parenting.

Sederhananya, pola asuh ini adalah keterlibatan dua orang di luar hubungan pernikahan untuk bersama-sama membesarkan anak. Ketakutan membina hubungan rumah tangga yang bisa merenggut kebebasan dan banyak alasan lainnya membuat wanita dan pria yang memutuskan tidak menikah memilih cara ini untuk tetap bisa memiliki anak. Tanpa komitmen, mungkin saja terasa lebih mudah.

Baca juga: Timbang-Menimbang Pola Asuh untuk Anak

Cara memperoleh anak dilakukan dengan menggunakan donor sperma atau proses bayi tabung. Namun, di Indonesia, pola asuh ini masih terbilang jarang dan tabu untuk dibicarakan. Proses bayi tabung memang tak lagi asing di telinga, karena sering menjadi opsi untuk pasangan yang belum dikaruniai buah hati. Namun, bukan berarti pasangan tersebut tidak menikah.

Kritik dan Kendala dalam Platonic Parenting

Oleh karena terbilang sebagai pola asuh baru di kehidupan modern, platonic parenting tak lepas dari berbagai kritik dan kendala. Seperti artikel yang ditulis oleh W. Bradford Wilcox, direktur dari sebuah lembaga di University of Virginia, National Marriage Project, berjudul Sperm Donor, Life Partner, dituliskan pola asuh ini bisa memicu dampak negatif pada tumbuh kembang anak, karena ketidakstabilan hubungan yang terjadi antara orang tua.

Pasalnya, pola asuh ini tidak melibatkan adanya perasaan, terlebih tidak adanya aktivitas hubungan intim antara kedua pasangan sehingga hubungan tidak akan bertahan lama. Pada dasarnya, suatu hubungan seksual yang dikatakan sehat dapat memberikan dampak positif pada ikatan fisik dan emosional pasangan dalam jangka panjang. Namun, platonic parenting tidak memiliki dasar hubungan tersebut.

Baca juga: Keuntungan Menerapkan Pola Asuh Autoritatif

Wilcox menambahkan pada akhirnya, salah satu atau masing-masing pihak akan mengembangkan daya tarik yang sama pada orang lain. Ini membentuk hubungan baru platonis yang baru, mengetahui adanya rasa tidak ingin membina hubungan rumah tangga pada masing-masing pasangan pada awalnya.

Orang tua perlu tahu, mengasuh sang buah hati tidak hanya soal bagaimana bisa membagi waktu yang dimiliki untuk anak, seperti yang selalu dikatakan oleh pasangan yang telah memiliki anak dan memutuskan untuk berpisah. Anak membutuhkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya untuk menciptakan kekuatan psikologinya, dan hal ini tidak diperoleh dalam pola asuh platonic.

Kasih sayang penuh ini tidak bisa didapat dengan pembagian waktu pengasuhan. Sederhananya, kehadiran kedua orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak adalah hal yang mutlak diperlukan. Jadi, anak bisa langsung berinteraksi pada ayah dan ibunya dalam satu waktu, bukan waktu yang berlainan.

Baca juga: Pola Asuh Beda dengan Pasangan, Harus Bagaimana?

Oleh karena itu, pikirkan lebih dalam tentang dampaknya terhadap tumbuh kembang anak sebelum memilih pola asuh untuknya. Pola asuh yang dipilih akan berdampak pada kehidupannya. Jika membutuhkan bantuan ahli anak dan kejiwaan, coba pakai aplikasi Halodoc. Melalui layanan Tanya Dokter, kamu bisa langsung memilih dan bertanya pada dokter tentang pola asuh anak atau masalah kesehatan lainnya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!