Proses Kemoterapi untuk Obati Leukemia Limfoblastik Akut

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Kemoterapi, Leukemia Limfoblastik

Halodoc, Jakarta - Penyakit leukemia limfoblastik, atau yang dikenal dengan leukemia limfositik merupakan jenis kanker darah yang umum terjadi pada anak-anak. Penyakit ini akan menyebabkan terhambatnya fungsi limfosit, yaitu memproduksi antibodi guna menyerang bakteri, virus, dan racun yang masuk ke dalam tubuh. Jika sudah terjadi, begini proses kemoterapi yang harus dijalani.

Baca juga: Mengapa Leukemia Limfoblastik Akut Kerap Menyerang Anak?

Begini Proses Kemoterapi untuk Obati Leukemia Limfoblastik Akut

Kemoterapi merupakan metode pengobatan utama untuk menangani leukemia limfoblastik. Prosesnya dibagi dalam beberapa fase, yaitu:

  1. Fase induksi. Fase ini dilakukan guna membunuh sel-sel kanker yang berada dalam tubuh, terutama dalam darah dan sumsum tulang.

  2. Fase konsolidasi. Fase ini dilakukan guna membunuh sel-sel kanker yang masih tersisa pada jaringan tubuh setelah terapi induksi dilakukan.

  3. Fase pemeliharaan. Fase ini dilakukan guna mencegah sel-sel kanker tumbuh kembali pada jaringan tubuh.

  4. Terapi tambahan. Terapi ini dilakukan kepada pengidap kanker yang sel-sel kankernya sudah menyebar ke sistem saraf pusat.

Selain serangkaian fase kemoterapi di atas, terapi lain juga dijalani oleh pengidap leukemia limfoblastik. Gunanya adalah untuk mempercepat proses penyembuhan pengidapnya. Beberapa terapi yang dilakukan, antara lain:

  • Radioterapi. Terapi ini dilakukan dengan menembakkan sinar khusus ke area yang terkena leukemia limfoblastik untuk membunuh sel-sel kanker yang ada di jaringan tersebut.

  • Transplantasi sumsum tulang dengan mengganti sumsum tulang pengidap dengan sumsum tulang yang sehat dari pendonor.

  • Terapi obat obatan dengan memberikan obat-obatan sesuai dengan kebutuhan dan mutasi gen pengidap.

Dengan serangkaian pengobatan di atas, tingkah kesembuhan dapat dioptimalkan. Leukemia limfoblastik pada anak-anak akan lebih mudah untuk disembuhkan daripada leukemia limfoblastik pada orang dewasa. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, jumlah sel darah putih dalam tubuh, jenis leukemia limfoblastik yang dialami, serta penyebaran sel kanker yang berada dalam tubuh. 

Baca juga: 5 Penyebab Leukemia Limfoblastik Akut yang Perlu Diketahui

Kenali Gejala pada Leukemia Limfoblastik Berikut

Pengobatan yang dilakukan akan melalui beberapa fase dan memakan waktu yang cukup lama, kenali gejalanya supaya kamu dapat meminimalisir terjadinya penyebaran kanker. Gejala awal pada pengidap leukemia limfoblastik biasanya tidak disadari kehadirannya. Gejala yang muncul meliputi:

  • Demam;

  • Anemia;

  • Sesak napas;

  • Pendarahan karena kurangnya trombosit dalam tubuh. Dengan begitu, tubuh akan rentan mengalami gusi berdarah, mimisan, serta mudah lebam.

  • Warna kulit pucat;

  • Pembengkakan kelenjar bening pada bagian tubuh tertentu;

  • Berat badan mengalami penurunan;

  • Sakit kepala;

  • Keringat berlebih di malam hari;

  • Tubuh mudah terserang infeksi;

  • Nyeri tulang.

Jika sudah diketahui gejalanya, tes darah dan sumsum tulang belakang dapat dilakukan guna memastikan adanya leukemia limfoblastik dalam tubuh. Selain itu, beberapa pemeriksaan tambahan juga dibutuhkan, seperti rontgen dada, ultrasound, dan CT scan. Dalam hal ini, kamu bisa bertanya langsung tentang prosedur pemeriksaannya dengan dokter ahli melalui aplikasi  Halodoc.

Baca juga: Ini Gejala Leukemia Limfoblastik Akut yang Perlu Diwaspadai

Ini Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pengidap Leukemia Limfoblastik

Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan bagi pengidap leukemia limfoblastik:

  • Jalani pengobatan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh dokter.

  • Pengidap penyakit ini memiliki sistem imun yang rendah, sehingga perlu untuk menghindari kontak dengan pengidap penyakit lainnya.

  • Perbanyak minum air putih serta jaga asupan makanan untuk menjaga daya tahan tubuh.

Karena leukemia limfoblastik lebih banyak dialami oleh anak-anak, hal pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ini adalah biarkan anak berkembang. Tidak perlu menjaga kesehatan anak terlalu ekstrim karena akan berdampak pada melemahnya sistem imunitas tubuh terhadap serangan penyakit.