• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Paparan Radiasi Bisa Memicu Kanker Kelenjar Air Liur?

Benarkah Paparan Radiasi Bisa Memicu Kanker Kelenjar Air Liur?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Di zaman yang serba modern ini, peralatan elektronik adalah salah satu hal yang membuat banyak orang bergantung pada benda tersebut. Kebutuhan akan smartphone atau laptop sudah tidak bisa dipungkiri lagi sangat vital untuk kehidupan sehari-hari. Bukan tidak mungkin juga kamu harus berada di sekitar alat tersebut 1x24 jam lamanya.

Padahal, benda-benda elektronik tersebut dapat menghasilkan beberapa dampak negatif ketika digunakan. Salah satu efek buruknya adalah paparan radiasi yang terus terpancar mengenai tubuh. Banyak penyakit yang dapat disebabkan oleh hal tersebut, seperti halnya kanker kelenjar air liur. Berikut pembahasan lengkap terkait hal tersebut!

Baca juga: Inilah Faktor Risiko Kanker Kelenjar Air Liur

Kanker Kelenjar Air Liur Dipicu oleh Paparan Radiasi

Radiasi adalah pancaran energi dalam bentuk gelombang atau partikel dari suatu sumber. Beberapa sumber radiasi ada di sekitar kita dan mampu memberikan manfaat jika takarannya tepat. Namun, jika jumlah yang terkena tubuh terlalu banyak, kematian mungkin saja terjadi. Maka dari itu, penting untuk menghindari paparan dari radiasi terlalu sering atau banyak.

Faktanya, memang gelombang yang dihasilkan oleh benda-benda elektronik untuk menghasilkan radiasi sangat kecil. Sehingga, kemungkinannya sangat jarang untuk menyebabkan gangguan saat terpapar radiasi dari benda tersebut. Meski begitu, jika paparannya terlalu besar karena suatu hal, gangguan berbahaya mungkin saja terjadi.

Sumber radiasi yang berbahaya adalah jenis radiasi ion. Hal tersebut ditemukan dalam unsur-unsur radioaktif, seperti pada mesin sinar-X. Umumnya, benda ini berguna untuk mengatasi penyakit kanker, tetapi jika radiasi yang digunakan terlalu banyak malah dapat menimbulkan penyakit lain. Salah satu penyakit yang dapat terjadi adalah kanker kelenjar air liur.

Penyakit tersebut diduga terjadi ketika adanya mutasi pada genetik di sel kelenjar ludah. Radiasi mampu menyebabkan perubahan atau kelainan pada sel genetik untuk sementara sementara hingga permanen. Meski begitu, belum diketahui pasti terkait penyebab dari kanker kelenjar air liur. Pancaran radiasi yang berlebih hanya meningkatkan risiko untuk terserang gangguan tersebut.

Selain itu, seseorang yang menjalankan terapi radiasi seperti saat menggunakan sinar-X pada area kepala atau leher juga memiliki risiko terserang kanker kelenjar air liur. Kamu juga memiliki risiko untuk terserang penyakit tersebut jika pernah melakukan rontgen pada gigi dan mulut. Meski begitu, hal ini umumnya terjadi pada seseorang yang melakukan pemeriksaan sinar-X sebelum 1960.

Baca juga: Pancarkan Radiasi, Apa Risiko Fluoroskopi yang Perlu Diwaspadai?

Seberapa Berbahaya Kanker Kelenjar Air Liur saat Terjadi

Jika kamu mengidap kanker kelenjar air liur, dokter akan memeriksa seberapa parah penyebaran penyakit tersebut. Setelah itu, dokter akan menentukan tahapan kanker yang terjadi, baik itu Stadium 1 atau 2. Hal tersebut penting untuk memutuskan jenis perawatan yang paling baik dilakukan agar gangguan yang terjadi lebih efektif untuk diatasi.

Dengan pemeriksaan tersebut, gambaran terkait pertumbuhan atau penyebaran kanker di tempat awalnya dapat diketahui. Sehingga, penyebaran dari sel kanker dapat dilihat penyebarannya ke bagian tubuh lain. Kanker terdiri dari 4 stadium dengan semakin rendahnya angka tersebut, maka semakin sedikit kanker yang menyebar.

Itulah fakta terkait paparan radiasi yang dapat meningkatkan risiko terserang kanker kelenjar air liur. Maka dari itu, baik untuk menghindari terlalu banyak terkena paparan dari alat elektronik. Dengan begitu, kamu dapat meminimalisir risiko untuk terserang gangguan kanker tersebut untuk menyerang.

Baca juga: Radiasi Telepon Genggam Tingkatkan Risiko Terkena Meningioma

Kamu juga dapat bertanya pada dokter dari Halodoc terkait semua risiko yang dapat disebabkan oleh paparan radiasi. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan untuk mempermudah akses kesehatan sehari-hari!

Referensi:
Cancer. Diakses pada 2020. Risk Factors for Salivary Gland Cancer.
American Cancer Society. Diakses pada 2020. If You Have Salivary Gland Cancer.