22 March 2019

Remaja Alami Menoragia, Begini Cara Menanganinya

Remaja Alami Menoragia, Begini Cara Menanganinya

Halodoc, Jakarta - Menoragia adalah istilah yang menggambarkan kondisi ketika seorang perempuan mengalami periode menstruasi yang berat dan berkepanjangan, bahkan hingga mengganggu aktivitas. Normalnya, darah yang hilang ketika menstruasi adalah antara 30 hingga 40 mililiter selama periode 4 (empat) hingga 5 (lima) hari.

Pada menoragia, darah yang hilang sebesar 80 mililiter atau 2 (dua) kali lebih banyak dari ukuran normalnya, dan kondisi ini berlangsung hingga 7 (tujuh) hari. Hal ini membuat kamu harus mengganti pembalut bahkan setiap 2 (dua) jam sekali, mengeluarkan gumpalan darah yang lebih besar dan berisiko alami anemia.

Gangguan kesehatan ini terjadi ketika siklus menstruasi tidak menghasilkan sel telur yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon. Siklus menstruasi tanpa ovulasi atau dikenal dengan sebutan anovulasi paling umum terjadi pada remaja perempuan yang baru mendapatkan haid atau wanita yang sedang mendekati masa menopause.

Baca juga: Disfungsi Tiroid Ternyata Dapat Sebabkan Menoragia

Beberapa hal lain yang mungkin memicu terjadinya menoragia, adalah:

  • Gangguan hormonal.

  • Disfungsi ovarium.

  • Fibroid rahim.

  • Polip uterus.

  • Adenomiosis.

  • Penggunaan alat kontrasepsi non-hormonal atau IUD.

  • Penyakit radang panggul.

  • Komplikasi terkait kehamilan (keguguran atau kehamilan ektopik).

  • Kanker rahim, leher rahim, dan indung telur yang berpengaruh pada sistem reproduksi.

  • Gangguan perdarahan yang diwariskan.

  • Penggunaan obat antiinflamasi dan antikoagulan.

  • Gangguan tiroid, endometriosis, dan penyakit hati atau ginjal.

Baca juga: Faktor Risiko yang Meningkatkan Wanita Terkena Menoragia

Mengatasi Menoragia

Perawatan spesifik untuk menoragia didasarkan pada riwayat medis, penyebab, dan seberapa parah kondisi perdarahan yang kamu alami, dan bagaimana dampaknya pada gaya hidup. Pengobatan medis untuk gangguan haid ini berupa:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen atau naproxen sodium. Obat ini membantu mengurangi kehilangan darah menstruasi, sekaligus bermanfaat untuk menghilangkan kram karena haid yang menyakitkan atau dismenore.

  • Asam traneksamat, membantu untuk mengurangi kehilangan darah menstruasi. Tetapi, obat ini hanya boleh dikonsumsi ketika menstruasi tiba.

  • Kontrasepsi oral, yang membantu mengatur siklus menstruasi dan mengurangi episode perdarahan haid yang berlebihan atau berkepanjangan.

  • Progesteron oral, yang membantu memperbaiki ketidakseimbangan hormon dan mengurangi menoragia.

  • Hormonal IUD, yang melepaskan sejenis progestin yang disebut levonorgestrel, berfungsi untuk membuat lapisan uterus lebih tipis dan mengurangi aliran darah dan kram menstruasi.

Baca juga: Waspada 6 Penyakit Berbahaya yang Ditandai dengan Menoragia

Pada beberapa kondisi, obat-obatan dan terapi medis tidak bisa membantu menyembuhkan menoragia, sehingga diperlukan tindakan pembedahan, seperti:

  • Dilasi dan kuret.

  • Embolisasi arteri uterus.

  • Miomektomi.

  • Ablasi endometrial.

  • Histerektomi.

  • Reseksi endometrium.

Untuk menangani menoragia, kamu mungkin tidak bepergian ketika sedang mengalami perdarahan hebat. Kamu mungkin bisa beraktivitas di luar rumah, tetapi pastikan kamu tidak jauh dari toilet untuk mengganti pembalut sewaktu-waktu.

Selalu sediakan pula pembalut cadangan, dan kenakan pakaian bawahan dengan warna lebih gelap. Ketika tidur, kamu bisa melapisi seprai dengan bahan anti air untuk mencegah noda darah menempel pada tempat tidur.

Jangan sepelekan jika kamu mengalami perdarahan hebat kala menstruasi datang. Kamu harus segera bertanya pada dokter apa yang menyebabkannya dan bagaimana mengatasinya. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc, karena layanan Tanya Dokter membantu kamu setiap saat. Segera download aplikasi Halodoc dan tanyakan semua keluhan kesehatanmu langsung pada ahlinya!