Menoragia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Menoragia

Menoragia adalah kondisi ketika terjadi perdarahan haid dalam jumlah yang banyak (>80ml darah) dan/atau durasi yang bertambah lama (>7hari) pada interval haid yang normal. Menoragia merupakan kondisi yang umumnya terjadi pada perempuan yang baru mengalami pubertas, atau mereka di atas 40-50 tahun.

 

Faktor Risiko Menoragia

Terdapat faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya menoragia. Dari banyaknya faktor, usia merupakan salah satu faktor risiko yang cukup rentan. Contohnya, remaja yang baru saja haid dan mereka dalam kondisi perimenopause merupakan golongan usia yang cenderung mengalami menorogia.

Pada remaja, menoragia umumnya disebabkan oleh ovarium yang tak melepaskan sel telur. Sedangkan pada wanita yang usianya lebih tua, menoragia disebabkan oleh patologi uterus, termasuk fibroid, polip, dan adenomiosis.

Baca juga: Benarkah Menoragia Bisa Disebabkan Alat Kontrasepsi IUD?

 

Penyebab Menoragia

Kelainan ini dapat disebabkan oleh luka, karsinoma korpus uteri, peradangan, hormonal, hipofisis, psikis, neurogoen, tumor atau ovarium yang polikistik, polip endometrium, mioma uteri, dan kelainan gizi, metabolik, penyakit akut maupun kronis.

Menoragia mungkin terjadi disertai dengan suatu kondisi organik uterus, atau terjadi tanpa ada kelainan yang nyata pada uterus. Hal ini disebut perdarahan uterus disfungsional. Dengan kata lain, kondisi ini disebabkan oleh perubahan endokrin atau pengaturan endometrium lokal pada menstruasi.

Terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan siklus menstruasi pada wanita usia reproduktif menjadi ireguler termasuk kehamilan, penyakit endokrin dan juga kondisi medik. Semua faktor ini berhubungan dengan pengaturan fungsi endokrin hipotalamik-pituitary.

 

Gejala Menoragia

Perdarahan haid lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 7 hari). Namun, riwayat pasien yang detail penting dan harus mencakup pertanyaan tentang hal-hal berikut:

  • Kehamilan (penyebab paling umum dari perdarahan tidak teratur pada wanita usia reproduksi).

  • Kuantitas dan kualitas perdarahan.

  • Nyeri dan patologi panggul.

  • Pola mens dari menarche.

  • Aktivitas seksual.

  • Penggunaan kontrasepsi (intrauterine device [IUD] atau hormon).

  • Hirsutisme (sindrom ovarium polikistik [PCOS]).

  • Galaktorea (tumor hipofisis).

  • Penyakit sistemik (gagal hati atau ginjal atau diabetes).

  • Gejala disfungsi tiroid.

  • Memar yang berlebihan atau gangguan pendarahan yang diketahui.

  • Obat saat ini (hormon atau antikoagulan).

  • Prosedur atau diagnosa medis atau bedah sebelumnya.

 Baca juga: Penggunaan Alat Kontrasepsi Tingkatkan Risiko Gejala Menoragia

 

Diagnosis Menoragia

Untuk mendiagnosis penyakit menoragia, dokter akan memulai dengan anamnesis atau riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, barulah dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Selanjutnya dokter juga akan melakukan pemeriksaan laboratorium seperti kadar besi serum, tes darah lengkap, hingga fungsi tiroid, dan hormonal.

Dalam beberapa kondisi, doker mungkin saja akan melakukan pemeriksaan pencitraan. Pemeriksaan ini berupa sonohysterography (sonografi saline-infus), Papanicolaou (Pap) smear, atau histeroskopi. Bisa pula ultrasonografi panggul hingga biopsi endometrium (EMB).

 

Komplikasi Menoragia

Menoragia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menimbulkan komplikasi pada pengidapnya. Misalnya, anemia akibat kehilangan darah dan berkurangnya jumlah sel darah merah yang bersikulasi di tubuh. Selain itu, menogaria juga bisa menimbulkan nyeri yang parah. Seiring dengan perdarahan menstruasi yang berat, pengidapnya juga bisa mengalami kram mestruasi yang cukup menyakitkan.

Baca juga: Nyeri Panggul Setiap Menstruasi dapat Menjadi Gejala Menoragia

 

Pengobatan Menoragia

Untuk mengobato menoragia, dokter akan melakukan terapi yang akan disesuaikan dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan di antaranya:

  1. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID): Terapi medis lini pertama untuk menorrhagia ovulasi

  2. Pil kontrasepsi oral (OCPs).

  3. Progestin: Obat yang paling sering diresepkan untuk menoragia.

  4. Levonorgestrel intrauterine system.

  5. Agonis hormon Gonadotropin-releasing (GnRH).

  6. Estrogen terkonjugasi.

  7. Asam traneksamat.

  8. Manajemen bedah, dilakukan ketika penyebabnya organik atau saat terapi medikamentosa gagal.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter bila mengalami gejala-gejala di atas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases & Conditions. Menorrhagia (heavy menstrual bleeding).

Diperbarui pada 13 September 2019.