14 February 2019

Inilah Risiko yang Mesti Dipertimbangkan Saat Memilih Bayi Tabung

bayi tabung, program bayi tabung, kehamilan kembar

Halodoc, Jakarta - Program bayi tabung diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada 1988. Saat itu, sekumpulan tim dokter yang diketuai Sudraji Sumapraja melakukan operasi pemindahan sel telur dari ovarium dan membuahinya dengan sel sperma di luar tubuh ibu pemilik sel telur.

Sejak itu, banyak pasangan yang telah lama menikah dan tidak dikaruniai momongan memilih program bayi tabung. Terdapat berbagai proses yang rumit saat melakukan program bayi tabung. Maka tidak heran jika program ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menyurutkan niat sejumlah pasangan untuk menjalani program bayi tabung.

Fakta-fakta mutakhir menemukan bahwa program bayi tabung ternyata tidak sepenuhnya aman. Terdapat beberapa risiko yang sangat mungkin dialami oleh pasangan maupun anak yang terlahir melalui program ini.

Baca juga: Ini yang Perlu Diketahui tentang Bayi Tabung

Meskipun peluang suksesnya cukup tinggi, program bayi tabung juga memiliki beberapa risiko komplikasi yang perlu dipertimbangkan baik-baik. Risiko bayi tabung di antaranya adalah:

  1. Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS)

Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) terjadi karena kondisi ovarium yang menghasilkan sel telur lebih banyak dari keadaan normal. Sekitar 2 persen wanita yang menjalani bayi tabung mengalami sindrom ini. Kondisi ini biasanya merupakan efek samping dari obat penyubur yang diberikan saat menjalani proses bayi tabung. Di samping itu, wanita yang memiliki berat badan sangat rendah, obesitas, atau yang awalnya memiliki jumlah sel telur yang sangat banyak juga dapat mengalami sindrom OHSS.

Tanda dan gejala OHSS meliputi:

  • Sakit perut ringan.

  • Perut kembung.

  • Mual dan muntah.

  • Diare.

Dalam beberapa kasus, sindrom OHSS juga dapat menyebabkan sesak napas dan peningkatan berat badan.

Baca juga: Begini Proses Kehamilan dengan bayi Tabung

  1. Anak Terlahir Kembar

Selama ini, bayi tabung dianggap sebagai program hamil yang andal untuk mendapatkan bayi kembar. Namun, cara pandang aji mumpung ini sebenarnya salah dan perlu dikoreksi. Bayi tabung memang cukup banyak menghasilkan anak kembar. Sejumlah 17 persen kehamilan kembar berasal dari program IVF. Namun, kehamilan kembar ternyata bukanlah tujuan utama yang diinginkan dari program IVF.

Ternyata kehamilan kembar sangat berisiko tinggi untuk persalinan prematur serta berbagai komplikasi lainnya. Selain prematur, risiko kehamilan kembar dari program bayi tabung juga dapat memicu masalah kesehatan pada ibu, seperti:

  • Keguguran.

  • Preeklampsia.

  • Diabetes gestasional.

  • Anemia dan perdarahan hebat.

  • Risiko operasi caesar lebih tinggi.

Jadi, sebaiknya bayi kembar bukan menjadi tujuan utama bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki anak melalui program bayi tabung. Hal yang paling penting adalah memastikan bayi lahir normal dan sehat. Ini dapat terjadi ketika kamu mengurangi jumlah embrio yang ditanamkan proses bayi yang sedang ditabung.

  1. Hamil di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik)

Terjadinya kehamilan ektopik merupakan salah satu risiko bayi tabung yang sangat perlu diwaspadai oleh wanita. Komplikasi kehamilan ini terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di tempat lain selain rahim, biasanya di tuba falopi. Sel telur yang dibuahi juga bisa juga menempel pada rongga perut, atau justru pada leher rahim. Ciri-ciri utama dari kehamilan ektopik adalah sakit perut hebat di salah satu sisi, keputihan yang warnanya cenderung keruh atau gelap, dan bercak darah ringan.

Baca juga: Inilah Proses Bayi Tabung yang Perlu Diketahui

Itulah beberapa risiko yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memilih program bayi tabung. Namun, jika kamu masih ingin melakukannya, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dapat diterima secara praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!