Sekalian Diet, Bolehkah Sahur dan Berbuka Hanya dengan Sayur?

Sekalian Diet, Bolehkah Sahur dan Berbuka Hanya dengan Sayur?

Halodoc, Jakarta – Puasa merupakan aktivitas menahan haus dan lapar selama belasan jam. Karena itu, tak sedikit orang yang menjadikan ibadah puasa sebagai sarana diet. Berkurangnya asupan kalori saat berpuasa dinilai bisa menurunkan berat badan.

Alih-alih menurunkan berat badan, tak sedikit orang yang malah mengalami kenaikan berat badan saat berpuasa. Ada banyak faktor penyebab naiknya berat badan ini, seperti jenis makanan yang dikonsumsi dan kebiasan makan yang buruk. Karena faktor tersebut, bolehkah hanya mengonsumsi sayur saat berbuka dan sahur?  

Baca Juga: Sekalian Diet, Bolehkah Sahur dan Berbuka Hanya dengan Jus?

Banyak orang yang menilai bahwa pola makan vegetarian baik untuk kesehatan dan efektif menurunkan berat badan. Namun, pada faktanya membatasi pilihan makanan hanya untuk sayuran dapat memiliki konsekuensi kesehatan yang serius. Dengan tidak adanya kelompok makanan lain, kamu bukan cuma tidak mendapatkan energi untuk bahan bakar kegiatan sehari-hari, tapi mungkin akan kekurangan berbagai macam nutrisi juga lho.

Untuk meningkatkan kesehatan, sebaiknya sertakan makanan, seperti buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh dalam makanan. Berikut dampak kesehatan yang mungkin terjadi jika kamu menjalankan diet hanya dengan konsumsi sayuran:

1. Kekurangan Kalori

Kebanyakan pria yang aktif dapat membakar 2400–2800 kalori per hari, sedangkan kebanyakan wanita membakar 1800–2200 kalori. Jadi, akan sangat sulit untuk memenuhi angka-angka ini dengan hanya konsumsi sayuran saja, ditambah jika harus menjalankan puasa. Misalnya, 1 cangkir wortel mentah dan cincang hanya mengandung 52 kalori, sedangkan brokoli rebus dalam jumlah yang sama mengandung 55 kalori.

Kamu perlu makan 38 cangkir wortel atau 36 cangkir brokoli hanya untuk mengonsumsi 2000 kalori. Dengan terlalu sedikit kalori, kamu akan merasa lesu dan lebih sulit untuk fokus dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Defisiensi Makronutrien

Meski  sayuran merupakan sumber serat dan karbohidrat yang baik, tapi sayuran tidak memiliki jumlah makronutrien, lemak, dan protein yang signifikan. Lemak diperlukan untuk fungsi mental, energi, dan metabolisme nutrisi yang sehat, sedangkan protein dibutuhkan untuk otot yang kuat dan sistem kekebalan tubuh yang efektif.

Terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang perlu mendapatkan 20–35 persen kalori harian dari lemak dan 10–35 persen dari protein. Kacang tanah, kacang polong, dan tahu adalah sumber protein yang baik, sedangkan kacang-kacangan lainnya, alpukat, dan minyak zaitun adalah sumber lemak sehat.  

Baca Juga: Berbuka dan Sahur dengan Susu, Bolehkah?

3. Kekurangan Vitamin dan Mineral

Dengan diet khusus sayuran, kamu akan kehilangan beragam vitamin dan mineral yang ada dalam paket makanan seimbang. Secara khusus, kamu mungkin kekurangan vitamin B12, vitamin D, dan zat besi. Meski beberapa sayuran hijau gelap kaya akan zat besi, tapi jenis sayuran ini juga mengandung bahan kimia disebut fitat yang menghambat penyerapan mineral.

Kekurangan vitamin B12 atau zat besi saat menjalankan diet sayuran berisiko menyebabkan anemia. Tentunya, kondisi ini bisa mengganggu ibadah puasa yang sedang dijalankan.

4. Gangguan Makan

Membatasi makanan bisa menjadi salah satu tanda gangguan makan, terutama jika kamu mencoba menurunkan berat badan. Penurunan berat badan yang tidak sehat melibatkan pengurangan kalori yang drastis dan menempatkan citra fisik diatas segalanya. Alasan tersebut tidak hanya menandai gangguan makan, tapi bisa menjadi tanda masalah yang lebih dalam pula.

Baca Juga: Karena Manis, Benarkah Es Buah Disarankan untuk Buka Puasa?

Namun, hanya profesional kesehatan yang dapat mendiagnosis kondisi seperti diatas. Apabila kamu merasa kewalahan dengan berat badan atau pola makan, sebaiknya bicarakan dengan ahlinya untuk membantu memastikan kesehatan fisik dan mental yang optimal.

Kamu bisa bicara dengan ahli gizi Halodoc untuk mengetahui tips diet sehat selama puasa. Gunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play! Play!