Selfie di Lokasi Bencana Bukan Simpati, Ini Bukti Gangguan Psikologi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Selfie di Lokasi Bencana Bukan Simpati, Ini Bukti Gangguan Psikologi

Halodoc, Jakarta – Tsunami Selat Sunda yang beberapa waktu lalu terjadi tidak hanya mengundang simpati berbagai pihak, tetapi juga keheranan tatkala orang-orang tidak hanya datang untuk memberikan bantuan dengan sembari selfie.

Sejatinya pengertian selfie menurut Oxford English Dictionary, adalah foto yang diambil sendiri oleh seseorang dengan menggunakan gadget untuk tujuan dibagikan di media sosial. Dilansir dari psychologytoday.com, perkembangan media sosial, internet, dan trending topic membuat orang-orang menjadikan selfie sebagai ajang membangun imej diri dan harga diri. Bahkan semakin ke sini, tren ini sangat terkait dengan gangguan psikologis narsisme.

Baca juga: 10 Tanda Kalau Kondisi Psikologis Sedang Terganggu

Bahkan lebih parahnya, kecanduan selfie yang digunakan untuk mendongkrak imej diri ini sudah mengenyampingkan sisi-sisi kemanusiaan demi menjadi bagian dari “trending topic”. Pengidap selfie seringnya termotivasi melakukan selfie untuk mencari perhatian dan peningkatan status sosial (apakah di dunia maya ataupun di dunia nyata).

Tidak Menjadi Gangguan Asal…

Dilansir dari mastersinpsychologyguide.com, sebenarnya kebiasaan selfie tidak selamanya merupakan pertanda sebuah gangguan psikologi. Justru malah sebagai perwujudan eksistensi diri yang sebenarnya adalah sifat manusiawi dari seseorang. Hal yang menjadi pembedanya adalah apa yang menjadi motivasi seseorang melakukan selfie.

Terkadang orang melakukan selfie sebagai upaya melakukan interaksi dan membangun komunikasi dengan orang lain. Dan tentunya hal ini tidak salah, apalagi ketika yang dilakukannya berdampak positif terhadap lingkungan, misalnya membuat orang-orang menjadi bersemangat dalam melakukan sesuatu.

Baca juga: Belum Usia 18 Tahun Sudah Menikah, Awas Rentan Gangguan Psikologi

Sungguh berbeda manfaatnya bila dilakukan untuk membangun imej diri sendiri apalagi bila dilakukan di lokasi bencana.  Situs media sosial diciptakan untuk membantu orang terhubung satu sama lain. Karena sifatnya online, angle ataupun caption yang tidak tepat juga akan memberikan persepsi yang salah tentang pesan yang ingin disampaikan. Ya, salah satunya adalah dengan melakukan selfie di lokasi bencana.

Bila memang tujuannya untuk mengimbau supaya masyarakat lebih peka dan menyalurkan bantuan, tentunya wajah yang terpampang tidak perlu dengan ulasan senyum. Pastinya, kecenderungan orang-orang memandang itu adalah ekspresi bahagia tanpa simpati.

Upaya Mendefinisikan Diri dan Menjadi Bagian dari Kelompok

Meskipun selfie dapat dilihat dalam perspektif yang agak negatif, tetapi selfie juga dapat memainkan peran yang sangat positif dalam kehidupan orang. Selfie membantu orang menggambarkan versi diri mereka kepada dunia.

Dalam kehidupan nyata, orang-orang terus-menerus berusaha untuk menonjol. Apakah itu dengan apa yang mereka katakan atau pakaian yang mereka kenakan, di mana selfie tidak berbeda dengan hal tersebut. Itu adalah pernyataan kepada dunia. Hal ini memungkinkan orang untuk menonjol di antara massa.

Baca juga: Cara Mengobati Binge Eating Disorder

Seperti halnya selfie dapat membantu orang menonjol, selain itu juga membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu. Sementara banyak orang terlibat sebagai cara untuk mendukung tujuan yang baik, di mana upaya seperti ini memiliki efek positif lain, yaitu membantu orang merasa seolah-olah mereka adalah bagian dari sesuatu.

Tidak ada yang salah dengan selfie, selama kamu melakukannya dengan aturan. Seperti memerhatikan lokasi, angle, situasi, momen di mana kamu melakukan selfie. Nah, kalau kamu tidak merasakan apa-apa saat berada di situasi yang seharusnya menunjukkan empati, bisa jadi kamu mengalami gangguan psikologi.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai gangguan psikologi ataupun informasi kesehatan lainnya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.