• Home
  • /
  • Sering Mimisan, Benarkah Tandai Adanya Hemofilia?

Sering Mimisan, Benarkah Tandai Adanya Hemofilia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sering Mimisan, Benarkah Tandai Adanya Hemofilia?

Halodoc, Jakarta -  Masih asing dengan penyakit hemofilia? Dalam dunia medis kondisi ini dijelaskan sebagai gangguan pembekuam darah. Menurut data dari World Federation of Hemophilia (WFH), pada 2018, tercatat sebanyak 337.000 mengidap penyakit ini.

Gangguan pembekuan darah atau hemofilia terbilang jarang. Menurut data dari WFH, sekitar satu dari 10.000 orang terlahir sebagai pengidap Hemofilia. Gangguan pembegkuan darah yang dialami pengidap hemofilia ini terjadi karena kekurangan faktor pembekuan darah. Alhasil, perdarahan bisa berlangsung lama saat tubuh mengalami luka.

Orang yang mengidap hemofilia memiliki kekurangan suatu protein dalam darahnya. Padahal, protein itulah yang membantu darah menggumpal dengan sempurna ketika terluka dan berdarah. Nah, karena darah enggak mampu menggumpal dengan sempurna, luka yang dialami pengidap hemofilia akan lebih sulit sembuh.

Nah, benarkah sering mimisan bisa menandai adanya hemofilia pada tubuh seseorang? Sebenarnya seperti apa gejala dari ganguan pembekuan darah? Informasi selengkapnya baca di bawah ini!

Baca juga: Benarkah Hemofilia Jadi Salah Satu Penyakit Langka?

Bukan Hanya Mimisan, Ada Banyak Gejalanya

Perdarahan pada hidung atau mimisan yang sulit berhenti memang menjadi salah satu gejala hemofilia. Akan tetapi, gangguan pembekuan darah tidaklah hanya ditandai oleh mimisan saja. Sebab hemofilia bisa menimbulkan sederet gejaa lain pada pengidapnya.

Nah, berikut ini beberapa gejala hemofilia lainnya yang mungkin dialami oleh pengidapnya:

  • Perdarahan pada gusi dan mulut.

  • Perdahan pada luka yang sulit berhenti.

  • Mudah mengalami memar.

  • Perdarahan setekah sunat yang sulit berhentu.

  • Perdarahan pada sendi yang ditandai dengan nyeri dan bengkak pada sendi lutut atau siku.

  • Adanya darah pada urine atau feses.

  • Perdarahan setelah mendapatkan suntikan.

  • Pendarahan pada kulit (yang memar) atau otot dan jaringan lunak, yang menyebabkan penumpukan darah di daerah tersebut (hematoma).

Nah, dengan kata lain gejala hemofilia bukanlah menyoal mimisan saja. Hati-hati, bagi kamu yang mengalami gejala-gejala di atas, segeralah temui atau tanyakan pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Inilah 6 Penyakit yang Disebabkan Genetik

Dibagi Menjadi Tiga Tipe

Penyakit yang satu ini merupakan penyakit bawaan yang umumnya dialami pria. Menurut penjelasan ahli, hemofilia diturunkan karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA, sehingga membuat proses dalam tubuh tak berjalan dengan normal. Nah, mutasi gen ini bisa berasal dari ayah, ibu, atau kedua orangtua.

Dalam literatur medis, setidaknya hemofilia dibagi menjadi tiga tipe. Berikut ini tipe hemofilia yang perlu diketahui:

Hemofilia A

Tipe hemofilia yang satu ini juga biasa disebut sebagai hemofilia klasik atau yang disebabkan bukan dari faktor genetik. Hemofilia tipe ini terjadi saat tubuh kekurangan faktor pembekuan darah VIII yang umumnya terkait dengan kehamilan, kanker, penggunaan obat-obatan tertentu, dan penyakit seperti lupus. Tipe hemofilia A termasuk langka dan berbahaya.

Hemofilia B

Lain tipe hemofilia A, lain pula hemofilia B. Hemofilia tipe ini disebabkan karena kekurangan faktor pembeku darah IX. Umumnya kondisi ini diturunkan oleh ibu, tetapi juga bisa terjadi ketika gen berubah atau bermutasi sebelum bayi dilahirkan.

Baca juga: Mengapa Mimisan Dapat Terjadi Saat Tubuh Kelelahan?

Menurut data, tipe hemofilia ini cenderung lebih banyak diidap oleh anak perempuan. Seperti dilansir Medical News Today, sekitar 1 dari 5.000 bayi laki-laki lahir mengidap hemofilia A. Sementara itu, sekitar 1 dari 30.000 bayi laki-laki mengalami hemofilia B.

Hemofilia C

Tipe hemofilia C tergolong lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan hemofilia A dan B. Hemofilia tipe C sendiri disebabkan oleh tubuh yang kekurangan faktor pembeu darah XI. Selain itu, hemofilia C juga sulit untuk didiagnosis. Pasalnya, meski perdarahannya berlangsung lama, tetapi aliran darahnya sangat ringan, sehingga lebih sulit diketahui.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
World Federation of Hemophilia. Diakses pada 2020. Annual Global Survey.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Disease and Conditions. Hemophilia.  Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Patient Care and Health Information. Hemophilia.
CDC.  Diakses pada 202. Hemophilia.