Sering Mimisan, Benarkah Gangguan Pembekuan Darah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Sering Mimisan, Benarkah Gangguan Pembekuan Darah?

Halodoc, Jakarta - Kamu sering mimisan? Hati-hati, bisa jadi itu gejala gangguan pembekuan darah. Gangguan ini adalah kondisi ketika proses koagulasi alias pembekuan darah terganggu. Normalnya, darah akan mulai membeku setelah terjadinya cedera untuk mencegah tubuh mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar.

Beberapa kondisi tertentu dapat memengaruhi kemampuan darah untuk membeku dan menggumpal dengan baik, yang dapat mengakibatkan perdarahan berat atau berlangsung lama. Gangguan koagulasi dapat menyebabkan perdarahan di dalam dan luar tubuh.

Beberapa jenis gangguan ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak darah. Beberapa kondisi lainnya menyebabkan tubuh mudah memar atau mengalami perdarah di organ tertentu, misalnya di otak.

Baca juga: Ibu Hamil Mimisan, Bahaya atau Tidak?

Ada banyak jenis gangguan pembekuan darah, tetapi yang umum adalah:

  • Hemofilia A dan B, terjadi ketika tubuh kekurangan faktor VIII dan IX yang berperan dalam pembekuan darah. Hemofilia dapat menyebabkan perdarahan berat atau perdarahan yang bocor ke persendian. Hemofilia adalah kondisi langka, tetapi komplikasinya dapat mematikan.
  • Kekurangan faktor II, V, VII, X, or XII yang berperan dalam pembukuan dara, sehingga menyebabkan perdarahan abnormal.
  • Penyakit Von Willebrand, masalah pembekuan darah yang diwariskan dari orangtua ke anak.

Mimisan Hingga Perdarahan

Gejala gangguan pembekuan darah dapat bervariasi tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Namun, gejala umumnya termasuk:

  • Sering mimisan.
  • Mudah memar tanpa alasan jelas.
  • Perdarahan menstruasi berat.
  • Berdarah terus-terusan dari luka kecil.
  • Perdarahan yang merembes ke persendian.

Apa Penyebabnya?

Untuk darah bisa menggumpal dengan baik, sel tubuh membutuhkan platelet dan protein yang disebut sebagai faktor pembeku. Gangguan pembekuan darah terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup platelet atau protein pembeku, atau keduanya tidak bekerja dengan baik.

Kebanyakan kasus gangguan koagulasi adalah kondisi genetik yang diwariskan dari orangtua ke anak. Namun, beberapa gangguan pembekuan darah dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti penyakit hati.

Gangguan pembekuan darah juga bisa disebabkan oleh:

  • Defisiensi vitamin K.
  • Efek samping obat-obatan tertentu, misalnya antikoagulan (yang memang bekerja menghambat proses pembekuan darah).

Baca juga: Gangguan Pembekuan Darah adalah Penyakit Menurun, Mitos atau Fakta?

Diagnosis dan Pengobatannya

Untuk mendiagnosis gangguan pembekuan darah, dokter akan bertanya seputar gejala yang dialami dan riwayat kesehatan. Dokter juga dapat melakukan sejumlah pemeriksaan fisik dasar. Selama berkonsultasi, jangan lupa untuk menyebutkan:

  • Kondisi kesehatan yang dimiliki saat ini.
  • Obat-obatan (resep, non-resep, suplemen, obat herbal) yang pernah atau sedang digunakan.
  • Cedera atau terjatuh belakangan ini.
  • Berapa lama perdarahan tersebut telah berlangsung.
  • Apa yang sedang dilakukan sebelum perdarahan itu terjadi.

Dari informasi ini, dokter kemudian dapat melakukan tes darah untuk meresmikan diagnosis. Tes yang mungkin dijalani adalah:

  • Tes darah lengkap untuk mengetahui jumlah sel darah merah dan sel darah putih.
  • Tes agregasi platelet, untuk mengetahui seberapa baik platelet menggumpal bersama.
  • Tes waktu perdarahan, yang dapat menentukan seberapa lama darah menggumpal.  

Setelah itu, pengobatan akan direncanakan berdasarkan jenis gangguan pembekuan darah yang anda alami dan keparahan kondisinya. Gangguan darah tidak bisa disembuhkan total, tetapi terapi pengobatan dapat meredakan gejalanya. Pengobatan gangguan koagulasi mungkin termasuk resep suplemen zat besi, transfusi darah, serta injeksi pengganti faktor (khususnya untuk kasus hemofilia).

Baca juga: Pencegahan yang Bisa Dilakukan pada Pengidap Gangguan Pembekuan Darah

Itulah sedikit penjelasan tentang gangguan pembekuan darah. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!