Sering Tertular Flu, Perlukah Lakukan Tes Imun?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Sering Tertular Flu, Perlukah Lakukan Tes Imun?

Halodoc, Jakarta – Kalau boleh diibaratkan, sistem kekebalan tubuh adalah prajurit yang bertugas melindungi tubuh dari serangan benda asing, seperti bakteri, virus atau jamur. Sedangkan nutrisi yang diperoleh dari makanan diibaratkan sebagai senjata untuk membantu sistem kekebalan tubuh. Namun, ketika prajurit ini sering beraksi dan kamu tidak menyediakan senjata yang memadai, maka sistem kekebalan tubuh tidak bertindak sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, kamu mudah jatuh sakit. 

Flu adalah salah satu penyakit yang sering menyerang masyarakat karena virusnya mudah menular. Kalau kamu sering tertular flu belum tentu imunitas kamu lemah. Pasalnya, gaya hidup, pola makan dan cuaca yang sering berubah-ubah bisa menjadi penyebabnya. Jika flu yang kamu alami dibarengi dengan mudah lelah, perubahan berat badan, rambut rontok,  muncul ruam dan gejala-gejala tidak biasa lainnya, maka kamu perlu melakukan tes imun. Lantas, seperti apa prosedurnya?

Baca Juga: Sering Tertular Flu, Tanda Imun Tubuh Lemah?

Prosedur Tes Imunitas

Antinuclear Antibody Test (ANA) merupakan satu prosedur untuk mendeteksi penyakit autoimun yang dilakukan bersamaan dengan merinci gejala, pemeriksaan fisik, dan tes penunjang lainnya. Melansir dari WebMD, tes ini biasanya dilakukan ketika seseorang mengalami gejala penyakit autoimun, seperti nyeri sendi, kelelahan, demam, muncul ruam, mati rasa pada tangan dan kaki, rambut rontok dan sensitif terhadap cahaya. 

Sebelum menjalani tes ini, seseorang biasanya tidak perlu mempersiapkan apapun. Kamu hanya perlu memberi tahu dokter soal gejala yang kamu rasakan dan obat-obatan, vitamin, serta suplemen apa yang sedang dikonsumsi. Sebab, beberapa obat dapat mempengaruhi hasil tes ANA. Kemudian, tes ANA dilakukan dengan mengambil sampel darah dari vena di lengan. Sampel darah ini kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diuji apakah ada antibodi antinuklear dalam darah.

Baca Juga: Akhirnya, Penyebab Penyakit Lupus Kini Terungkap

Apabila petugas lab menemukan antibodi nuklear dalam darah, maka tes ANA yang kamu jalani dinyatakan positif. Apabila tidak ditemukan antibodi nuklear, maka hasilnya dinyatakan negatif. Namun, hasil tes yang positif tidak selalu menunjukan penyakit autoimun yang spesifik. Jadi, hasil positif bisa berpeluang terhadap penyakit autoimun apapun, contohnya seperti lupus, sindrom Sjogren, rheumatoid arthritis, scleroderma dan lain-lain. Oleh karenanya, dokter perlu melakukan tes lain untuk menemukan hasil yang lebih spesifik. 

Sebenarnya, masih ada kemungkinan kamu mengidap penyakit autoimun meski hasil tes ANA yang kamu miliki negatif. Dokter mungkin memerlukan tes lain apabila gejala yang kamu alami tidak kunjung hilang. Melansir dari WebMD, sekitar 20% orang sehat juga bisa mendapatkan hasil tes ANA yang positif, meski tidak mengidap penyakit autoimun. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi hal ini, contohnya jika seorang wanita telah menginjak usia 65 tahun ke atas, seseorang yang mengidap TBC atau sedang minum obat tekanan darah atau anti-kejang

Baca Juga: Ketahui 6 Penyakit yang Termasuk Gangguan Autoimun

Kalau kamu flu yang kamu alami dibarengi dengan gejala-gejala yang tidak lazim, sebaiknya segera lakukan tes imun. Jika tidak, kamu mungkin perlu mengubah pola makan, gaya hidup atau minum vitamin dan suplemen tambahan ketika cuaca sedang tidak menentu. Kalau kamu butuh vitamin dan suplemen, kamu dapat membelinya lewat aplikasi Halodoc. Tidak perlu repot keluar rumah, tinggal order melalui aplikasi dan pesanan kamu akan diantarkan dalam satu jam.

Referensi :
WebMD. Diakses pada 2020. 16 Symptoms of Immune System Problems.
WebMD. Diakses pada 2020. What Is an Antinuclear Antibody Test?.
WebMD. Diakses pada 2020. Tips to Help You Manage a Weakened Immune System.