Si Kecil Keracunan Makanan, Ini yang Harus Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Si Kecil Keracunan Makanan, Ini yang Harus Dilakukan

Halodoc, Jakarta - Keracunan makanan bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti bakteri dan virus yang masuk ke makanan atau minuman yang dikonsumsi. Kita mungkin tidak bisa merasakan atau melihat kuman-kuman ini dengan mata telanjang, sehingga makanan yang terkontaminasi kuman menjadi sulit dideteksi. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, mereka melepaskan racun dan dapat menyebabkan diare serta muntah.

Baca Juga: Memanaskan Nasi Lagi Bisa Sebabkan Keracunan Makanan, Masa Sih?

Nah, istilah keracunan makanan menggambarkan penyakit yang muncul dengan cepat setelah makan makanan yang terkontaminasi. Keracunan makanan ditandai dengan gejala diare atau muntah dalam selang beberapa jam setelah mengonsumsi makanan. Keracunan makanan adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak.

Tanda & Gejala Keracunan Makanan?

Gejala keracunan makanan tergantung pada kuman yang menyebabkannya. Seseorang mulai merasa sakit dalam satu atau dua jam setelah makan atau minum makanan yang terkontaminasi. Pada kebanyakan kasus, gejala dapat hilang dalam 1-10 hari. Tanda-tanda bahwa seorang anak mengalami keracunan makanan, yaitu:

  • Mual;

  • Sakit perut dan kram;

  • Muntah;

  • Diare;

  • Demam;

  • Sakit kepala;

  • Tubuh terasa lemah;

Selain gejala umum di atas, keracunan makanan dapat membuat seseorang merasa pusing, memiliki pandangan kabur atau merasakan kesemutan di lengan. Pada kasus yang jarang terjadi, kelemahan disertai dengan sesak napas.

Apa Penyebab Keracunan Makanan?

Keracunan makanan sering disebabkan oleh sumber makanan hewani, seperti daging, unggas, telur, produk susu, dan makanan laut. Buah-buahan, sayuran dan makanan mentah lainnya yang tidak dicuci bersih juga berisiko menyebabkan keracunan makanan. Tidak hanya itu, makanan yang telah kedaluwarsa juga sering menyebabkan keracunan makanan.

Baca Juga: Ketahui 8 Jenis Makanan yang Rentan Sebabkan Keracunan Makanan

Si Kecil yang mengalami keracunan makanan memang dapat membuat ibu khawatir. Kalau ibu punya pertanyaan lain terkait keracunan makanan, hubungi dokter Halodoc saja. Lewat aplikasi, ibu dapat menghubungi dokter. kapan saja dan di mana saja.

Bagaimana Menangani Si Kecil yang Keracunan Makanan?

Biasanya, dokter meresepkan antibiotik untuk mengobati jenis bakteri penyebab keracunan makanan. Seorang anak dengan dehidrasi parah perlu dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan cairan intravena (IV). Keracunan makanan dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Cara untuk membantu Si Kecil merasa lebih baik, berikut perawatan rumahan yang dilakukan:

  • Pastikan Si Kecil banyak beristirahat.

  • Rutin memberikan cairan pada Si Kecil untuk mencegah dehidrasi. Hindari memberikannya susu atau minuman yang mengandung kafein.

  • Minum sedikit-sedikit tapi sesering mungkin untuk membuatnya lebih mudah dengan tetap menjaga asupan cairannya.

  • Hindari memberikannya makanan padat dan produk susu sampai diare berhenti.

  • Jangan memberikan obat anti diare yang dijual bebas karena bisa membuat gejala keracunan makanan tidak membaik. Ketika diare dan muntah berhenti, berikan anak makanan kecil, bertekstur lembut, rendah lemak selama beberapa hari untuk mencegah gangguan perut lebih lanjut.

  • Jika gejalanya menjadi serius atau ibu melihat tanda-tanda dehidrasi, segera bawa Si Kecil ke rumah sakit.

Baca Juga: Inilah Bahan Alami untuk Atasi Keracunan Makanan

Jadi, ibu perlu memahami gejala-gejala keracunan makanan agar tidak salah mengobati Si Kecil. Jangan lupa untuk melihat tanggal kedaluwarsa pada kemasan makanan sebelum dikonsumsi. Ajarkan pula Si Kecil untuk rajin mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Referensi:
Patient. Diakses pada 2019. Food Poisoning in Children.
Kid’s Health. Diakses pada 2019. Food Poisoning