• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Berisiko Alami Juvenile Rheumatoid Arthritis?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Berisiko Alami Juvenile Rheumatoid Arthritis?

Siapa Saja yang Berisiko Alami Juvenile Rheumatoid Arthritis?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 03 September 2020
Siapa Saja yang Berisiko Alami Juvenile Rheumatoid Arthritis?

Halodoc, Jakarta - Yakin kalau masalah sendi hanya menyerang para lansia saja? Faktanya, keluhan pada sendi ini juga bisa dialami mereka yang masih berada di usia produktif, bahkan anak-anak. Enggak percaya anak-anak pun bisa mengalami masalah pada sendi-sendinya?

Di dunia kedokteran, kondisi ini disebut juvenile rheumatoid arthritis. Penyakit ini lebih banyak dialami anak-anak atau usia di bawah 16 tahun. Lantas seperti apa sih gejala juvenile rheumatoid arthritis? Bagaimana penyakit ini bisa menyerang anak-anak? 

Baca juga: Alasan Anak Anak Kerap Terserang Autoimun Juvenile Arthritis


Menyerang Sendi Anak-Anak

Juvenile rheumatoid arthritis juga dikenal sebagai juvenile idiopathic arthritis atau childhood arthritis. Penyakit yang satu ini bisa menyebabkan pembengkakan dan nyeri pada sendi. Pada beberapa kasus, juvenile rheumatoid arthritis juga bisa menyebabkan kekakuan pada sendi, bahkan hingga kehilangan gerak. 

Menurut ahli di National Institutes of Health - MedlinePlus, juvenile rheumatoid arthritis ini bisa memengaruhi sendi mana pun, tapi umumnya lebih sering terjadi pada sendi lutut, tangan, dan kaki. Hati-hati, dalam beberapa kasus kondisi ini juga bisa memengaruhi organ bagian dalam. 

Lantas, siapa sih yang lebih berisiko mengalami juvenile rheumatoid arthritis? Hingga saat ini, penyebab juvenile rheumatoid arthritis pasti belum diketahui secara pasti. Meski begitu, jenis juvenile rheumatoid arthritis yang sering terjadi berkaitan erat dengan penyakit autoimun. Sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang jaringan-jaringan tubuh termasuk sendi. 

Di samping itu, ada beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya juvenile rheumatoid arthritis. Menurut para ahli penyakit sendi ini bisa bisa dipicu oleh faktor genetik atau keturunan. Ada dugaan bahwa susunan genetik tertentu bisa meningkatkan risiko terjadinya masalah sendi ini.

Di samping itu, faktor lingkungan juga disebut-sebut bisa meningkatkan risiko terjadi juvenile rheumatoid arthritis. Mutasi gen tertentu dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap faktor lingkungan seperti virus yang dapat memicu penyakit ini. 

Baca juga: Benarkah Juvenile Rheumatoid Arthritis Merupakan Penyakit Genetik?


Pembengkakan Sendi Sampai Masalah Mata

Rasa nyeri dan kaku pada sendi merupakan gejala juvenile rheumatoid arthritis yang paling khas. Rasa nyeri ini biasanya memburuk pada pagi hari dan membaik di penghujung hari. Nah, berikut ini gejala juvenile rheumatoid arthritis menurut NIH, yaitu:

  • Pembengkakan sendi, merah, atau terasa hangat.
  • Pincang atau bermasalah dengan menggunakan anggota tubuh.
  • Demam tinggi mendadak, dan mungkin kembali terjadi. 
  • Ruam (di tubuh dan ekstremitas) yang datang dan pergi dengan disertai demam. 
  • Kekakuan, nyeri, dan pergerakan sendi yang terbatas.
  • Nyeri punggung bawah yang tidak kunjung sembuh.
  • Gejala di seluruh tubuh seperti kulit pucat, dan kelenjar getah bening membengkak.

Juvenile rheumatoid arthritis juga bisa menyebabkan masalah mata yang disebut uveitis, iridocyclitis, atau iritis. Keluhan pada mata ini bisa menimbulkan gejala, yaitu:

  • Mata merah.
  • Sakit mata, yang mungkin bertambah parah saat melihat cahaya (fotofobia).
  • Masalah pada penglihatan. 

Andaikan Si Kecil mengalami gejala-gejala di atas, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Di samping itu, Ibu juga bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja.

Baca Juga: Nyeri Sendi Harusnya Lebih Aktif Bergerak 


Jenis-Jenis Juvenile Rheumatoid Arthritis

Penyakit sendi yang menyerang anak-anak ini umumnya menyebabkan nyeri dan peradangan selama satu hingga enam minggu. Meski penyebabnya juvenile rheumatoid arthritis belum diketahui pasti, gejalanya sering kali membaik seiring bertambahnya usia anak.

Berikut ini jenis juvenile rheumatoid arthritis bisa menyerang anak-anak: 

  • Juvenile rheumatoid arthritis pauciarticular. Jenis ini hanya memengaruhi beberapa sendi (biasanya kurang dari empat sendi). Misalnya lutut, siku, dan pergelangan kaki. Tipe ini muncul pada 50 persen anak yang mengidap penyakit ini. Penyakit mata (radang, atau bengkak) juga bisa ikut muncul akibat penyakit ini. 
  • Juvenile rheumatoid arthritis polyarticular. Tipe ini memengaruhi banyak sendi dan muncul pada sekitar 30 persen anak yang mengidap penyakit ini. Tipe ini menyerang leher, lutut, pergelangan kaki, kaki, pergelangan tangan, dan tangan yang menjadi lokasi nyeri. Pengidapnya juga mungkin mengalami radang mata. 
  • Juvenile rheumatoid arthritis sistemik. Tipe ini terjadi kurang lebih 20 persen. Jenis sistemik lebih sering berawal dari demam, ruam, nyeri sendi, dan perubahan pada sel darah.

Bila anak mengalami masalah pada sendi atau keluhan lainnya, ibu bisa kok memeriksakan dirinya ke rumah sakit pilihan. Sebelumnya, buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit.

Referensi:

National Institutes of Health-MedlinePlus. Diakses pada 2020. Juvenile idiopathic arthritis

NHS - UK. Diakses pada 2020. Arthritis - Arthritis and children.

WebMD. Diakses pada 2020. Understanding Juvenile Rheumatoid Arthritis -- the Basics