Sindrom Asperger Bisa Membuat Pengidapnya Sulit Berinteraksi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Sindrom Asperger Bisa Membuat Pengidapnya Sulit Berinteraksi

Halodoc, Jakarta – Benarkah pengidap sindrom Asperger membuat pengidapnya sulit berinteraksi? Ya, jawabannya memang benar. Sebagian besar anak-anak dan orang dewasa dengan sindrom asperger tidak memiliki masalah dengan bahasa, tetapi mereka mungkin tidak tahu bagaimana mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dengan tepat. 

Karenanya terapis menggunakan pelatihan keterampilan sosial untuk membantu orang dengan sindrom asperger mempelajari cara berinteraksi. Termasuk terapi mengenali gerakan tubuh tertentu, kiasan yang juga dapat meningkatkan kontak mata.

Integrasi Sensorik yang Sulit

Sejatinya pengidap sindrom asperger kerap kesulitan dalam mengintegrasikan indranya. Idealnya adalah jika seseorang dapat mengendalikan indera dengan lebih baik, maka dia dapat mengatur gerakan dan emosi dengan baik pula.

Menurut jurnal kesehatan yang dipublikasikan oleh National Autistic Society, orang dengan sindrom asperger melihat, mendengar dan merasakan dunia secara berbeda dengan orang lain. Jika seseorang memiliki sindrom ini maka dia akan mengalaminya seumur hidup.

Baca juga: Sindrom Asperger Berbeda dengan Autisme, Ini Penjelasannya

Beberapa orang dengan sindrom asperger juga memiliki masalah kesehatan mental atau kondisi lain, yang berarti orang membutuhkan tingkat dan jenis dukungan yang berbeda. Namun, faktanya, orang dengan sindrom asperger memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata. 

Diagnosis sindrom asperger ini biasanya dilakukan oleh tim medis multidisiplin, termasuk ahli terapi bicara dan bahasa, dokter anak, psikiater dan / atau psikolog.  Pengidap sindrom Asperger mungkin merasa sulit untuk menggunakan atau memahami:

  1. Ekspresi wajah;

  2. Nada suara;

  3. Lelucon dan sarkasme;

  4. Ketidakjelasan atau sesuatu yang ambigu; dan

  5. Konsep abstrak.

Orang dengan sindrom asperger biasanya memiliki keterampilan bahasa yang baik, tetapi mereka mungkin masih kesulitan untuk memahami harapan orang lain dalam percakapan, mungkin mengulangi apa yang baru saja dikatakan orang lain (ini disebut echolalia) atau berbicara panjang lebar tentang minat mereka sendiri.

Sering membantu untuk berbicara dengan cara yang jelas, konsisten, dan memberi pengidapnya waktu untuk memproses apa yang telah dikatakan kepada mereka adalah salah satu cara membantu interaksi dari pengidap sindrom ini.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Inilah Penyebab Autisme pada Anak

Jenis-Jenis Terapi yang Diperlukan

Ada beberapa jenis terapi yang diperlukan supaya pengidap sindrom asperger bisa berinteraksi dengan baik. Bila ingin tahu lebih lengkap informasi mengenai ini, tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Seperti yang disebutkan tadi, ada banyak terapi untuk membangun interaksi sosial. Salah satu bentuk terapi lainnya adalah terapi perilaku kognitif. Ini membantu pengidap sindrom asperger mengubah cara berpikirnya, sehingga ia dapat lebih mengontrol emosinya dan perilaku yang berulang-ulang. Dia akan bisa menangani hal-hal, seperti emosi dan obsesi.

Baca juga: Kenali 3 Terapi untuk Atasi Sindrom Asperger

Pun, diperlukan pendidikan dan pelatihan orang tua. Orang tua akan belajar banyak teknik yang sama dengan yang diajarkan anak sehingga dapat mengerjakan keterampilan sosial bersamanya di rumah. 

Sejatinya, menurut Food and Drug Administration tidak ada jenis obat yang disetujui digunakan oleh yang secara khusus mengobati asperger. Beberapa obat, bagaimanapun, dapat membantu dengan gejala seperti depresi dan kecemasan. Dokter Anda mungkin meresepkan beberapa di antaranya:

  1. Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI);

  2. Obat antipsikotik; dan

  3. Obat stimulant;

Perawatan yang tepat dan dukungan positif dari lingkungan sekitar dapat membuat pengidapnya belajar mengendalikan beberapa tantangan sosial dan komunikasi yang dihadapinya.