Skleroderma Bukan Halangan untuk Selalu Aktif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Skleroderma Bukan Halangan untuk Selalu Aktif

Halodoc, Jakarta – Skleroderma atau sklerosis sistemik adalah penyakit jaringan ikat kronis yang umumnya diklasifikasikan sebagai salah satu penyakit rematik autoimun. Skleroderma secara harfiah berarti "kulit keras". 

Produksi kolagen yang berlebih dan protein dapat menyebabkan penebalan kulit yang dapat membuat kulit keras dan kering. Jika penebalan ini memengaruhi paru-paru, ini dapat membuat organ yang mengalami pengerasan tidak dapat berfungsi kembali dan kehilangan keaktifannya. Baca selengkapnya, bagaimana skleroderma tidak menjadi halangan buat pengidapnya tetap aktif!

Gejala Skleroderma

Untuk mengetahui penanganannya, ada baiknya kamu mengetahui gejalanya serta bagaimana ini dapat memengaruhi banyak bagian tubuh, sehingga menghambat aktivitas. 

Baca juga: Gaya Hidup Sehat bagi Pengidap Skleroderma

  1. Kulit mengeras atau menebal yang terlihat mengkilap dan halus. Ini paling umum di tangan dan wajah.

  2. Jari tangan atau kaki dingin yang berubah menjadi merah, putih, atau biru. Ini disebut fenomena Raynaud.

  3. Bisul atau luka di ujung jari.

  4. Bintik-bintik merah kecil di wajah dan dada. Ini adalah pembuluh darah terbuka yang disebut telangiectasias.

  5. Jari dan jari kaki bengkak atau bengkak dengan sensasi menyakitkan.

  6. Sendi yang sakit atau bengkak.

  7. Kelemahan otot.

  8. Mata atau mulut kering (disebut sindrom Sjogren).

  9. Pembengkakan pada sebagian besar tangan dan jari.

  10. Sesak napas.

  11. Mulas.

  12. Diare.

  13. Penurunan berat badan.

Tidak ada pengobatan untuk skleroderma, tetapi kamu dapat mengelola gejalanya. Dokter akan fokus membantu melakukan kombinasi perawatan berikut supaya kamu tetap aktif: 

  1. NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen atau aspirin). Obat ini dapat membantu dengan pembengkakan dan rasa sakit.

  2. Steroid dan obat lain untuk mengendalikan respons kekebalan. Ini dapat membantu masalah otot, persendian, atau organ dalam.

  3. Obat-obatan yang meningkatkan aliran darah ke jari-jari.

  4. Obat tekanan darah.

  5. Obat-obatan yang membuka pembuluh darah di paru-paru atau mencegah jaringan parut.

  6. Obat sakit maag.

  7. Olahraga untuk kesehatan keseluruhan yang lebih baik.

  8. Perawatan kulit, termasuk terapi cahaya dan laser.

  9. Terapi fisik.

  10. Manajemen stres.

  11. Jika kerusakan organ parah terjadi, transplantasi organ.

Penanganan scleroderma bukan sesuatu yang mudah. Jika ingin tahu lebih pasti mengenai hal ini, hubungi langsung Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Diagnosis Skleroderma

Dokter akan memeriksa pengidap dan bertanya tentang riwayat kesehatan untuk mengetahui penyebab dan pemicunya. Besar kemungkinan akan melakukan rontgen, melakukan tes darah, atau mengambil sampel kecil kulit (disebut biopsi). Serta pemeriksaan jantung, paru-paru, dan kerongkongan.

Sampai saat ini dokter tidak tahu pasti apa yang memicu skleroderma. Kemungkinan besar ini adalah salah satu dari sekelompok kondisi yang dikenal sebagai penyakit autoimun. Kondisi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari kuman, justru malah menyerang tubuh sendiri dan menyebabkan peradangan pada kulit dan organ-organ lain.

Baca juga: 3 Tindakan untuk Mengurangi Dampak Skleroderma

Kulit dirancang agar kenyal dan halus, dan organ bekerja dengan baik ketika tidak ada batasan atau fibrosis. Ketika kulit menjadi kencang dan keras, itu bisa menyakitkan dan membatasi fungsinya. Ketika organ mengalami fibrosis, organ tersebut bisa disebut gagal menjalankan fungsinya.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Scleroderma: Main Types & Top Questions Answered.
Fortherecordmag. Diakses pada 2019. Understanding Scleroderma.