• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Suka Makanan Ekstrem, Sup Kelelawar Sebarkan Virus Corona

Suka Makanan Ekstrem, Sup Kelelawar Sebarkan Virus Corona

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Menyoal virus corona (coronavirus) yang tengah menyebar luas ke berbagai negara, ada satu kabar yang kini muncul ke permukaan. Ada dugaan kuat virus baru misterius ini berasal dari hewan liar yang dijual di Pasar Seafood Huanan, Wuhan, Tiongkok. 

Dugaan sementara, hewan liar yang menyebarkan virus corona adalah kelelawar atau ular. Akan tetapi, sampai kini belum ada bukti atau penjelasan resmi dari pemerintah Tiongkok mengenai hal tersebut.

Nah, menyoal kelelawar dan ular ini, ternyata ada satu kebiasaan atau kepercayaan orang Tiongkok mengenai satwa liar tersebut. Beberapa masyarakat Tiongkok ternyata gemar mengonsumsi hewan-hewan liar dan eksotis. Pertanyaannya, apa alasannya? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Baca juga: Diduga Sebabkan Pneumonia Misterius, Waspada Serangan Virus Corona

Faktor Ekonomi sampai Identitas Diri

Pasar Seafood Huanan dikenal sebagai pasar tradisional yang menjual keperluan sehari-hari. Akan tetapi, di pasar ini ada juga bisa ditemukan sesuatu benda yang tak lazim, termasuk hewan liar hidup atau siap diolah. Mulai dari rubah, buruk merak, unta, burung unta, koala, anak serigala, hingga landak. 

Tak hanya itu saja, penjual hewan tersebut juga menawarkan jasa potong dan pengiriman bagi konsumen mereka yang ingin membeli hewan ekstrem tersebut. Nah, kembali ke tajuk utama, lalu apa alasan orang Tiongkok cenderung suka menyantap hewan liar yang tak lazim untuk dikonsumsi? 

Percaya atau tidak, ternyata hal ini berkaitan dengan berbagai faktor. Mulai dari ekonomi, hingga kepercayaan akan nutrisi yang terkandung di dalam hewan liar tersebut. 

Melansir dari South China Morning Post, “Why wild animals are a key ingredient in China’s coronavirus outbreak”, menurut ekonom politik independen di Tiongkok, Hu Xingdou, alasan ekonomi, politik, dan budaya, masih menjadi alasan orang Tiongkok suka mengonsumsi hewan liar dan eksotis. 

Menurut Hu Xingdou, orang Tiongkok melihat makanan sebagai kebutuhan utama dalam hidup. Tak hanya itu, kelaparan dan ancaman yang besar pernah menjadi bagian dari sejarah Tiongkok. Hal inilah yang menjadi alasan konsumsi satwa liar di negara tersebut.

Baca juga: Ini 7 Fakta tentang Penyakit MERS

Tiongkok memang telah menjadi negara yang maju dan berkembang dengan pesat. Warganya tidak lagi bermasalah dalam hal makanan. Lantas, mengapa konsumsi hewan liar dan eksotis di sana masih terus berlangsung? 

Masih melansir South China Morning Post, mengonsumsi daging, organ, atau bagian dari hewan atau tumbuhan langka, sudah menjadi identitas bagian orang di sana. 

Lebih Kaya Nutrisi?

Selain faktor-faktor di atas, ada pula beberapa hal lainnya yang membuat orang Tiongkok masih suka mengonsumsi satwa liar. Melansir Mothership Singapore, ternyata keyakinan budaya sebagian orang Tiongkok menganggap satwa liar lebih bernutrisi, ketimbang hewan yang dikembangbiakan khusus untuk dikonsumsi. 

Tak cuma itu, sebagian besar orang Tiongkok pun memandang bahwa mengonsumsi hewan eksotis sebagai tampilan status sosial. Misalnya, semangkuk sup ini berisi kelelawar yang disebut “Fu” (dalam bahasa Mandarin), yang berarti keberuntungan dan nasib baik.

Nah, hal-hal seperti ini yang mempermudah untuk menemukan pasar yang menjual satwa liar di kota-kota besar Tiongkok. Sebut saja di Provinsi Guangzhou, Shandong, atau Guangdong. Hal yang perlu diingat, sampai kini Pasar Seafood Huanan dipercaya sebagai sumber penyebaran virus corona. 

Baca juga: Pneumonia adalah Penyakit Paru Berbahaya, Kenali 10 Gejalanya

Kelelawar dan Kesehatan, Apa Hubungannya? 

Menurut penjelasan ahli di Queensland Government, kelelawar bisa membawa beragam bakteri dan virus yang berbahaya bagi manusia. Di Australia, ada aturan ketat mengenai hewan ini. Di sana, orang-orang yang tidak terlatih dan divaksinasi, tidak boleh menangani kelelawar. Pemerintah di sana menghimbau, jangan pernah membantu hewan tersebut atau menyentuhnya, ketika hewan tersebut terluka. 

Lantas, apa saja penyakit yang bisa disebarkan kelelawar? Australian bat lyssavirus (ABLV) adalah salah satu virus yang dapat ditularkan ke manusia dari air liur kelelawar yang terinfeksi. Virus ini bisa berpindah ketika liur kelelawar bersentuhan dengan selaput lendir atau kulit yang luka, melalui gigitan, maupun goresan kelelawar.

Infeksi ABLV menyebabkan penyakit, seperti rabies pada manusia yang biasanya berakibat fatal. Selain itu, ada beberapa penyakit lainnya yang mungkin ditularkan oleh kelelawar. Misalnya, virus nipah, virus hendra, virus marburg, hingga, leptospirosis. 

Selain, itu Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika juga telah menegaskan mengenai hubungan antara kelelawar dan virus corona. Menurut ahli di sana, virus corona merupakan virus yang beredar pada beberapa hewan, termasuk unta, kucing, dan kelelawar. Meski demikian, virus corona jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia dan menyebar ke individu lainnya.

Mau tahu lebih jauh mengenai virus corona dan cara mencegahnya?  Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Sebagai upaya mencegah penularan infeksi virus, kamu juga bisa membeli masker N95 di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC).  Diakses pada 2020. 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV), Wuhan, China.
Mothership Singapore. Diakses pada 2020. Outrageous menu from Wuhan’s market shows live deer, peacocks, wolf pups & over 100 wild animals on sale.
South China Morning Post. Diakses pada 2020. Why wild animals are a key ingredient in China’s coronavirus outbreak.
Queensland Government. Diakses pada 2020. Bats and Human Health - Health Conditions Directory.