16 October 2018

Telinga Sering Berdengung, Waspada Meniere Mengincar

Telinga Sering Berdengung, Waspada Meniere Mengincar

Halodoc, Jakarta - Siapa pun tentu pernah mengalami telinga berdengung, bukan? Terutama ketika terjadi perubahan tekanan udara, seperti ketika akan lepas landas di pesawat, atau berada di dataran tinggi. Namun, jika kamu terlalu sering mengalaminya, apalagi disertai gejala pusing berputar, kamu perlu waspada. Sebab, bisa jadi kamu terserang penyakit meniere.

Meniere adalah suatu kelainan pada telinga bagian dalam, yang menimbulkan gejala telinga berdengung (tinnitus), serta rasa pusing berputar (vertigo). Pada beberapa kasus, penyakit ini juga bisa menyebabkan kehilangan kemampuan pendengaran, dan tak jarang berujung pada tuli permanen. Meski bisa menyerang siapa saja, meniere biasanya dialami oleh mereka yang berusia 20 hingga 50 tahun.

Gejala yang Muncul

Durasi dari gejala penyakit meniere pada tiap pengidapnya bisa berbeda-beda. Ada yang mengalaminya hanya selama beberapa menit, dan ada pula yang hingga berjam-jam. Frekuensinya pun bervariasi, bisa dalam beberapa minggu, bulan, hingga beberapa tahun sekali.

Gejala-gejala yang umum muncul pada pengidap meniere adalah sebagai berikut:

1. Telinga Berdengung

2. Vertigo atau pusing berputar yang sering kambuh secara mendadak. Kondisi ini bisa terjadi selama 20 menit hingga beberapa jam.

3. Tekanan atau rasa penuh pada bagian dalam telinga.

4. Hilang pendengaran yang bervariasi. Ada yang hilang-timbul, ada yang hilang sepenuhnya.

Apa Penyebabnya?

Hingga saat ini belum diketahui dengan jelas, apa yang menjadi penyebab pasti dari penyakit meniere. Namun, banyak pakar menduga bahwa meniere terjadi sebagai akibat dari ketidaknormalan volume atau komposisi cairan di telinga bagian dalam.

Perlu diketahui bahwa telinga bagian dalam dihubungkan oleh rongga yang disebut labirin. Bagian luar telinga bagian dalam terbuat dari tulang yang disebut tulang labirin. Sementara di bagian dalamnya terdiri atas struktur membran lembut (labirin membranosa), yang memiliki bentuk serupa dengan tulang labirin, tapi sedikit lebih kecil.

Labirin membranosa tersebut berisi cairan yang bernama endolymph, dan dilapisi dengan rambut yang merespon gerakan cairan. Agar semua sensor di telinga bagian dalam berfungsi dengan baik, cairan perlu mempertahankan volume, tekanan, dan komposisi kimia tertentu. Ketika ada gangguan dalam sistem tersebut, terjadilah meniere.

Lebih lanjut, para ilmuwan pun merumuskan beberapa hal yang dapat menjadi pemicu terjadinya meniere. Berikut di antaranya:

1. Jumlah cairan yang tidak tepat, yang disebabkan oleh adanya penyumbatan atau kelainan anatomi.

2. Alergi.

3. Infeksi virus.

4. Respon imun yang abnormal.

5. Genetik.

6. Cedera atau trauma pada kepala.

Pengobatan Meniere

Belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan meniere. Namun, beberapa jenis obat dapat dikonsumsi untuk membantu meringankan gejala-gejalanya. Penelitian pun menunjukkan bahwa kebanyakan pengidap meniere merespon terhadap pengobatan, meski risiko gangguan pendengaran jangka panjang sulit dicegah.

Dalam jangka pendek, dokter biasanya akan meresepkan obat untuk gejala vertigo, serta obat anti mual, untuk mengantisipasi gejala mual dan muntah saat terserang vertigo. Namun, jika gejala meniere yang dialami berangsur parah, sejumlah tindakan medis sesuai instruksi dokter perlu dilakukan.

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami penyakit meniere, kamu bisa memanfaatkan fitur Contact Doctor pada aplikasi Halodoc, untuk mendiskusikan soal penyakit ini lebih lanjut, langsung dengan ahlinya, melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat secara online, kapan dan di mana saja, hanya dengan men-download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Google Play Store.

Baca juga: