29 January 2019

Teman Tunjukkan Tanda Depresi Lewat Status Sosial Media, Harus Apa?

Teman Tunjukkan Tanda Depresi Lewat Status Sosial Media, Harus Apa?

Halodoc, Jakarta – Isu kesehatan mental bukan menjadi hal tabu lagi. Saat ini banyak orang yang sudah menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental, bahkan tidak ragu menceritakan kesedihannya di sosial media.

Sebagian orang menanggapinya dengan baik, tapi ada juga yang menuduh si pemilik akun kurang dekat dengan Tuhan. Semua orang tentu bebas berpendapat. Namun pada kasus depresi, penyebabnya bukan sesederhana kurang iman atau tidak mensyukuri kehidupan.

Baca Juga: Depresi Bisa Terjadi pada Segala Usia

Depresi Dipengaruhi oleh Banyak Faktor

Depresi lebih dari sekadar perasaan sedih dan putus asa. Depresi mengubah suasana hati pengidapnya secara ekstrem hingga memengaruhi pola pikir, perasaan, dan cara menghadapi aktivitas sehari – hari. Pengidap depresi biasanya merasa sedih, putus harapan, merasa tidak berharga, kehilangan minat beraktivitas, dan menyalahkan diri sendiri.

Tanda ini jarang ditunjukkan ke publik karena kebanyakan orang lebih nyaman menunjukkan perasaan positif ketimbang negatif. Namun, ada juga pengidap depresi yang menunjukkan perasaannya lewat sosial media, seperti yang dilakukan pemilik akun @afifdhiaamru.

Afif update “Gua gamau terus menerus jadi benalu di lingkungan gua, so kayanya lebih baik gua enyah dari muka bumi ini. bye!” pada 21 Januari, beberapa hari sebelum akhirnya ia ditemukan bunuh diri di dalam kosan. Setelah kisahnya viral, banyak orang berkunjung ke akunnya dan menunjukkan bela sungkawa. Sebagian besar dari mereka juga turut menambahkan agar siapa pun peka dan peduli dengan teman yang sedang depresi, hingga mengirimkan kontak tempat mengadu. Pertanyaannya adalah, apa yang bisa kita lakukan saat ada teman yang menunjukkan tanda depresi lewat status sosial media?

Bantu Teman Hadapi Situasi Sulit

Hampir semua orang pernah menghadapi situasi sulit. Ada yang bisa melewatinya, ada juga yang membutuhkan dukungan dari orang terdekat untuk bisa (setidaknya) bertahan dalam menghadapi situasi tersebut.

Makanya, kamu enggak bisa menghakimi orang lain lemah atau membandingkan kemampuan koping stres diri sendiri dengan orang lain. Jika kamu belum mampu mendengarkan keluh kesah orang lain, usahakan untuk tidak membuat orang yang sedang depresi terpuruk karena menganggap dirinya gagal dalam menjalani hidup.

  • Kontak secara personal, tanyakan bagaimana kabar dan perasaannya. Jika situasi memungkinkan, ajak teman yang sedang depresi bertemu untuk bertukar cerita.
  • Dengarkan saja, tunggu hingga ia selesai bercerita. Hindari memotong pembicaraannya, apalagi menyelak untuk menceritakan pengalaman kamu dalam menghadapi situasi yang sama. Pengidap depresi butuh teman bercerita untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sendirian dalam menjalani situasi sulit.
  • Tunjukkan empati, misalkan dengan memeluk, memegang tangan, atau mengelus punggungnya. Kamu bisa mengatakan “Jangan dipendam ya, ceritain semuanya saja ke aku”, “Kamu bisa cerita apa pun ke aku”, dan perkataan lain yang membuat dirinya merasa tidak sendirian.
  • Beritahu kontak tempat mengadu. Kamu mungkin tidak selalu bisa dihubungi, entah karena kesibukan atau faktor lainnya. Maka itu, kamu bisa memberitahu teman yang sedang depresi untuk pergi ke psikolog atau psikiater. Yakinkan padanya bahwa tidak ada yang salah untuk mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater. Atau, kamu bisa memberitahu kontak komunitas atau layanan curhat yang saat ini banyak tersedia.
  • Hubungi kontak darurat. Pada kasus yang ekstrem, pengidap depresi akan memberi tanda bahwa ia akan mengakhiri hidup sebagai ucapan selamat tinggal. Misalnya, mengirim foto benda tajam atau racun, tangan berdarah, atau sekadar kata selamat tinggal. Jika ini terjadi, segera hubungi anggota keluarganya atau siapa saja yang tinggal di dekatnya.
  • Jaga diri sendiri. Menghadapi teman yang depresi bukan situasi mudah karena tak jarang, rasa empati membuat kamu ikut merasakan apa yang dialaminya. Maka itu, pastikan kamu selalu memantau suasana hati, sediakan waktu untuk melakukan apa yang kamu senangi, beri batasan apa yang bisa dan tidak bisa kamu bantu saat menghadapi teman yang depresi, dan minta bantuan jika kamu tidak bisa membantunya.

Baca Juga: Hipnoterapi untuk Atasi Depresi, Perlukah?

Perasaan negatif terkadang sulit dihindari, bahkan sekuat apa pun kamu mencoba berpikir positif. Kalau sekarang kamu sedang berada di masa – masa sulit dan pikiran kalut, coba bicara pada psikolog atau psikiater Halodoc. Gunakan fitur Contact Doctor di aplikasi Halodoc, lalu hubungi psikolog atau psikiater kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!