• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terlalu Sering Melamun, Hati-Hati Tanda Maladaptive Daydreaming
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terlalu Sering Melamun, Hati-Hati Tanda Maladaptive Daydreaming

Terlalu Sering Melamun, Hati-Hati Tanda Maladaptive Daydreaming

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 18 Agustus 2022

Maladaptive daydreaming adalah perilaku melamun tidak biasa, yang bisa sampai berpengaruh terhadap pikiran dan emosi seseorang.

Terlalu Sering Melamun, Hati-Hati Tanda Maladaptive DaydreamingTerlalu Sering Melamun, Hati-Hati Tanda Maladaptive Daydreaming

Halodoc, Jakarta –  Maladaptive daydreaming adalah kebiasan  saat seseorang lebih banyak menghabiskan banyak waktu untuk melamun dan sering tenggelam dalam imajinasinya. 

Perilaku ini biasanya merupakan mekanisme koping (coping mechanism) pada orang yang memiliki kondisi kesehatan mental seperti kecemasan. Pada dasarnya semua orang pernah melamun dan cukup normal untuk melamun. Namun, bila kegiatan melamun ini sampai mengganggu mengganggu pekerjaan, hobi atau interaksi sosial, bisa jadi itu adalah tanda-tanda maladaptive daydreaming. Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini!

Tanda Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming adalah perilaku melamun yang tidak biasa. Kondisi ini nyatanya bisa sampai berpengaruh terhadap pikiran dan emosi seseorang. Jika terlalu sering melamun, maka ini bisa sampai menganggu kontrol fungsi eksekutif, seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan motivasi diri.

Nah, ada beberapa tanda yang membedakan seseorang melamun biasa atau mengalami maladaptive daydreaming, yaitu:

1. Intensitas Lamunan

Lamunan sangat jelas dan mendetail, lebih dari sekadar lamunan standar.

2. Kompleksitas Lamunan

Seperti skenario film, lamunan ini sering memiliki plot yang rumit. Lamunan ini juga bisa banyak memiliki karakter di dalamnya, seperti layakanya sebuah film. 

3. Durasi yang Lama

Orang yang melamun dengan cara ini dapat melakukannya untuk waktu yang lama, bahkan berjam-jam sampai melupakan aktivitas yang seharusnya ia lakukan.

4. Sengaja Melamun

Biasanya melamun dilakukan tanpa sengaja dan tidak terencana. Namun, orang dengan maladaptive daydreaming memang sengaja meluangkan waktu untuk melamun. 

5. Terisolasi dari Kehidupan Nyata

Orang yang mengalami gangguan ini bisa memutuskan hubungan dengan lingkungan sekitar akibat terlalu asyik dengan lamunannya. Orang yang mengidap kondisi ini bisa memiliki keinginan melamun yang begitu kuat sampai akhirnya terputus dengan dunia sekitar. 

Penanganan dan Diagnosis Maladaptive Daydreaming

Dari tanda-tanda yang dipaparkan di atas, maladaptive daydreaming ternyata bisa begitu mendalam dan panjang sehingga orang tersebut memisahkan diri dari dunia di sekitarnya. Jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa berdampak negatif pada kualitas hidupnya. 

Pengidap gangguan ini bisa menghabiskan waktu 4,5 jam per hari untuk melamun dan sangat asyik dengan lamunannya. Terlepas dari keinginan kuat untuk melamun, setelah melamun yang dahsyat tersebut, seringkali juga akan muncul sensasi yang datang belakangan. Yakni perasaan merasa dirinya memiliki kondisi yang sangat buruk dan semestinya tidak melakukan hal tersebut.

Agak sulit mengenali kondisi ini, karena ini bukan sesuatu yang dapat didiagnosis secara langsung oleh dokter. Tidak ada tes diagnostik atau tes laboratorium yang dapat mengonfirmasi mengenai penyakit ini.

Namun, dokter dapat menemukan tanda-tanda masalah ini menggunakan kuesioner khusus dan skala diagnostik untuk kondisi terkait seperti ADHD, OCD, depresi, kecemasan, dan gangguan disosiatif. 

Melalui Maladaptive Daydreaming Scale-16 (MDS-16), serangkaian pertanyaan dapat menunjukkan apakah seseorang memang mengalami masalah ini atau hanya melamun biasa. 

Mengenai cara penanganannya, biasanya dilakukan lewat terapi kesehatan mental (psikoterapi). Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu jenis terapi yang paling umum untuk kondisi seperti OCD, kecemasan, depresi, dan gangguan disosiatif. 

Pendekatan CBT juga dapat membantu orang dengan gangguan ini memahami mengapa mereka melakukannya dan apa yang dapat mereka lakukan untuk mengelolanya. Bentuk lain dari terapi kesehatan mental lainnya mungkin juga dapat membantu proses penyembuhan. 

Perlu diketahui bahwa banyak orang yang mengalami kondisi ini juga memiliki kondisi seperti ADHD. Mengobati kondisi yang memicu maladaptive daydreaming dapat membantu penanganan gangguan kesehatan ini lebih lanjut. Namun, setiap pengidap bisa jadi membutuhkan penanganan yang berbeda, tergantung riwayat kesehatan, kondisi, dan keadaan yang dialami.

Itulah informasi mengenai maladaptive daydreaming, kalau kamu punya pertanyaan lebih lanjut bisa download aplikasi Halodoc untuk mendapatkan informasi kesehatan lebih jelas. Lewat Halodoc, kamu juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan suplemenmu

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Maladaptive Daydreaming.
Healthline. Diakses pada 2022. Maladaptive Daydreaming: Scale, Symptoms, and Treatments.
Sleep Foundation. Diakses pada 2022. Maladaptive Daydreaming.