13 March 2019

Toxic Relationship dalam Keluarga, Ini Tandanya

Toxic Relationship dalam Keluarga, Ini Tandanya

Halodoc, Jakarta – Menjadi orangtua bukan hal mudah. Sejak kelahiran anak, para ibu rentan mengalami baby blues hingga depresi pasca melahirkan. Kondisi ini ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) yang tak jarang memengaruhi perilakunya pada anak dan suami. Tantangan semakin besar seiring dengan tumbuh kembang anak yang hidup pada generasi berbeda.

Baca Juga: Timbang-menimbang Pola Asuh Untuk Anak

Tiap orangtua mengharapkan kehidupan terbaik bagi anaknya. Itu mengapa banyak orangtua yang tanpa sadar bersikap protektif, menyalahkan pilihan anak, hingga susah diajak kompromi. Jika dibiarkan, hubungan semacam ini bisa berkembang menjadi toksik dan berdampak negatif pada tumbuh kembang anak.

Toxic Relationship Bisa Terjadi dalam Hubungan Orangtua-Anak

Selain percintaan dan pertemanan, toxic relationship bisa terjadi dalam hubungan orangtua-anak. Terdapat banyak faktor yang membuat orangtua bersikap toksik pada anak. Namun seringkali, perilaku toksik orangtua muncul karena meniru pola asuh, trauma masa kecil, dan gangguan psikologis. Orangtua dianggap toksik jika:

  • Menganggap anak sebagai beban hidup.

  • Menyesali kehadiran anak dan menunjukkannya secara verbal.

  • Mengutamakan pikiran dan perasaannya ketimbang anak.

  • Menghakimi, menyalahkan, dan menghina pilihan hidup anak.

  • Merasa iri dan kesal saat anak dipuji oleh orang lain.

  • Memandang anak sebagai objek yang perlu dimanfaatkan.

  • Memojokkan anak secara fisik dan psikis, terutama saat ia menghadapi kegagalan.

  • Tidak mau mendengarkan pendapat dan mengerti kemauan anak.

  • Membahas jerih payahnya dalam membesarkan anak dan menuntut balasan.

  • Sering membandingkan anak dengan orang lain atau saudara kandungnya.

  • Merasa paling benar dan punya kendali penuh atas kehidupan anak tanpa mau mendengarkan pendapat atau mengerti kemauannya.

Istilah toksik memang terdengar kasar, apalagi menggambarkan hubungan orangtua-anak. Namun, hal ini tidak boleh dianggap sepele karena bisa menimbulkan trauma yang berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Misalnya menurunkan rasa percaya diri, membuatnya takut bertemu orangtua, menyebabkan stres, memengaruhi kemampuan sosialisasi, dan mengganggu kondisi psikisnya.

Baca Juga: Pola Asuh Beda dengan Pasangan, Harus Bagaimana?

Studi dari Adverse Childhood Experiences menyebutkan trauma masa kecil, salah satunya akibat perilaku toksik orangtua, memengaruhi kesehatan fisik, dan mental seorang anak. Pasalnya stres yang timbul akibat rasa takut pada orangtua memicu kenaikan hormon stres (kortisol dan adrenalin) dalam darah. Bila terus terjadi, stres berpotensi mengubah kemampuan kognitif anak, termasuk memori, emosional, dan kemampuannya dalam menghadapi situasi sulit. Daya tahan tubuh rentan menurun sehingga membuatnya rentan sakit.

Cara Menghadapi Perilaku Toksik Orangtua

Mengubah perilaku tentu tidak mudah. Maka itu, upaya terbaik saat menghadapi perilaku toksik orangtua adalah sabar, memberi maaf, dan pulihkan diri. Mungkin saja, kamu meniru perilaku toksik orangtua jika tidak membentengi diri. Bila saat ini kamu menghadapi situasi serupa, berikut ini hal yang bisa dilakukan:

  • Pelajari cara mengendalikan emosi, termasuk trauma masa lalu.

  • Sadari bahwa perilaku toksik orangtua telah mengubah persepsi dan ekspektasi kamu mengenai hubungan yang seharusnya. Kesadaran ini diharapkan mampu membuat kamu berdamai dengan masa lalu dan tidak melakukan perilaku toksik pada anak di kemudian hari.

  • Cari tahu tentang pola asuh yang baik. Kini kamu bisa mendapatkannya dari internet, buku, atau bertanya pada sosok yang kamu kagumi karena pola asuh yang diterapkannya.

Baca Juga: Ini Pola Asuh Sehat untuk Tumbuh Kembang Anak

Itulah tanda toxic relationship dalam keluarga yang perlu diwaspadai. Kalau kamu mengalami hal serupa dan mulai berdampak pada kondisi psikis, jangan ragu berbicara pada dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!