Trauma Bisa Buat Orang Jadi Pedofilia?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Trauma Bisa Buat Orang Jadi Pedofilia?

Halodoc, Jakarta - Pedofilia menjadi topik yang tabu untuk dibahas. Padahal, informasi terkait pedofilia penting karena siapa tahu orang yang mengidap kondisi ini ada di sekitar kita. Pedofil didefinisikan sebagai orang yang memiliki orientasi seksual terhadap anak-anak yang umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda.

 

Tidak semua pedofil bisa melancarkan aksi seksualnya kepada anak-anak. Beberapa pedofil bisa menahan dirinya untuk tidak mendekati anak apa pun seumur hidup. Tetapi, hal ini tidak jelas seberapa umum itu. Sampai saat ini tidak diketahui pasti penyebab seseorang mengidap pedofilia. Ada dugaan, trauma masa lalu adalah salah satu penyebabnya.

 

Baca Juga: Pedofilia Termasuk Penyakit Kelainan Mental, Benarkah?

 

Benarkah Trauma Picu Seseorang Menjadi Pedofilia?

 

Melansir dari Psychology Today, peristiwa yang membuat traumatis, seperti pelecehan seksual pada masa kanak-kanak menjadi faktor potensial dalam perkembangan pedofilia dalam diri seseorang. Seorang anak yang menjadi korban atau pengamat perilaku seksual yang tidak pantas meniru perilaku yang sama. Orang-orang ini cenderung kehilangan kontak sosial dan seksual yang normal, sehingga mencari kepuasan melalui cara-cara yang kurang dapat diterima secara sosial.

 

Tanda Seseorang Mengidap Pedofilia

 

Seorang pedofil terbukti berpostur lebih pendek dan lebih cenderung kidal, serta memiliki IQ lebih rendah daripada populasi umum. Pemindaian otak menunjukkan mereka memiliki materi putih (sirkuit penghubung otak) lebih sedikit. Biasanya, mereka sadar terhadap minat seksual kepada anak-anak ini muncul saat masa pubertas. 

 

Pedofilia dapat menjadi kondisi yang dialami seumur hidup. Namun, gangguan pedofilik bisa berubah seiring waktu, termasuk tekanan, gangguan psikososial, dan kecenderungan individu untuk bertindak berdasarkan desakan.

 

Kalau kamu merasa punya kecenderungan ini, coba diskusikan bersama psikolog Halodoc. Kamu bisa berdiskusi dengan psikolog dengan bebas dan bisa dipastikan kondisi yang kamu alami pasti dirahasiakan. Lewat aplikasi, kamu bisa menghubungi psikolog kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

 

Baca Juga: Kebiri Kimia, Hukuman Pelaku Kejahatan Seksual

 

Bisakah Pedofilia Disembuhkan?

Jawabannya, adalah bisa. Terapi membantu pedofil untuk mengelola perasaan dan tidak menghendaki keinginannya. Beberapa pengidap berisiko tinggi melakukan pelanggaran seksual mungkin memerlukan obat untuk mengurangi dorongan seksual mereka. Contoh terapi yang bisa dilakukan adalah terapi perilaku dan terapi kognitif.

 

Terapi perilaku dan terapi kognitif mencakup membangun empati korban (anak-anak), pelatihan keterampilan sosial, manajemen waktu, pencegahan kambuh, sistem pengawasan, dan pemeliharaan seumur hidup. Sedangkan jenis obat-obatan yang digunakan bersama dengan psikoterapi, contohnya medroksiprogesteron asetat dan leuprolide asetat dan antiandrogen untuk menurunkan gairah seks.

 

Hormon seperti medroksiprogesteron asetat dan siproteron asetat bisa menurunkan tingkat testosteron yang bersirkulasi, sehingga bekerja mengurangi dorongan seksual dan agresi. Hormon-hormon ini, biasanya digunakan bersama dengan terapi perilaku dan kognitif untuk mengurangi frekuensi ereksi, fantasi seksual, dan inisiasi perilaku seksual, termasuk masturbasi dan hubungan seksual. 

 

Baca Juga: Mitos atau Fakta, Pedofil Hanya Diidap oleh Laki-Laki

 

Antidepresan seperti fluoxetine juga telah terbukti mengurangi dorongan seks tetapi belum secara efektif menargetkan fantasi seksual. Itulah informasi terkait pedofilia yang perlu diketahui. Bagi para orangtua, sebaiknya mulai pantau Si Kecil jangan sampai membuatnya dalam situasi sendiri. Orangtua perlu mengedukasi agar Si Kecil tidak langsung percaya dengan orang asing meski diiming-imingi benda menarik.

 

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Pedophilia.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Pedophilia?