Urine Disertai Darah, Hati-Hati Gejala Inkompatibilitas ABO

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Urine Disertai Darah, Hati-Hati Gejala Inkompatibilitas ABO

Halodoc, Jakarta – Keluar darah saat berkemih bisa menjadi gejala dari penyakit tertentu. Salah satu penyakit yang ditandai dengan urine disertai darah adalah inkompatibilitas ABO. Apa itu?

Inkompatibilitas ABO merupakan jenis penyakit akibat kesalahan saat penerimaan darah. Kondisi ini terjadi saat seseorang menerima darah yang berbeda dengan golongan darahnya. Hal itu kemudian menyebabkan tubuh bereaksi, salah satunya dengan keluarnya darah bersama urine. Selain itu, reaksi sistem kekebalan tubuh juga bisa memicu gejala berupa penyakit kuning, pusing, dan sesak napas. 

Baca juga: Penyebab Inkompatibilitas ABO yang Wajib Diketahui

Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele dan harus segera ditangani. Inkompatibilitas ABO yang tidak segera mendapat penanganan bisa meningkatkan risiko komplikasi berupa penggumpalan darah, gagal jantung, serta menurunnya tekanan darah. Selain penyakit kuning dan kencing berdarah, penyakit ini juga sering ditandai dengan gejala demam, sesak napas, nyeri otot, mual dan muntah, nyeri pada perut, dada, dan punggung, serta pembengkakan pada area tubuh. 

Untuk mendiagnosis penyakit ini, awalnya akan dilakukan dengan mengamati gejala yang muncul. Gejala bisa saja muncul saat seseorang tengah melakukan proses transfusi darah atau setelahnya. Jika dicurigai mengalami kondisi ini, dokter mungkin akan melanjutkan pemeriksaan dengan beberapa jenis tes. 

Penyebab dan Cara Mendiagnosis Inkompatibilitas ABO

Inkompatibilitas ABO terjadi saat seseorang menerima transfusi darah dari golongan darah yang berbeda. Pada dasarnya, golongan darah dibedakan menjadi 4, yaitu A, B, AB, dan O. Pada masing-masing golongan darah, terdapat protein berbeda yang terkandung. Seseorang hanya bisa menerima transfusi darah dari orang dengan golongan darah sama. Pasalnya, menerima golongan darah yang berbeda bisa membuat sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel pada darah yang diterima. 

Baca juga: Cara Atasi Inkompatibilitas Abo Berdasarkan Gejalanya

Meski begitu, kondisi ini jarang terjadi pada transfusi atau donor darah. Sebab, sudah dilakukan pemeriksaan dan pencocokan golongan darah sebelum transfusi dilakukan. Inkompatibilitas ABO juga bisa terjadi setelah prosedur transplantasi organ dari orang yang memiliki golongan darah berbeda. Mendiagnosis penyakit ini bisa dilakukan melalui serangkaian tes, di antaranya: 

  • Tes Darah

Inkompatibilitas ABO bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan darah. Hal ini bertujuan untuk memastikan ada atau tidak kerusakan sel darah merah. 

  • Tes Urine

Tes ini dilakukan untuk memastikan atau mendeteksi hemoglobin pada urine. Jenis pemeriksaan ini yang satu ini dilakukan setelah pemeriksaan darah. 

  • Uji Kecocokan

Sebelum melakukan transfusi darah, sudah dilakukan tes kecocokan antara pendonor dan penerima. Namun, bila ternyata dicurigai terjadi inkompatibilitas ABO, uji kecocokan akan diulang kembali untuk mengetahui secara pasti ada atau tidak masalah kecocokan darah pada pendonor dan penerima. 

Saat seseorang terdiagnosis mengalami penyakit ini, dokter akan meminta perawatan dilakukan di ruang rawat intensif (ICU). Hal itu bertujuan agar pengobatan bisa segera dilakukan dan menghindari terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa, misalnya terjadi gagal jantung, penggumpalan darah, dan menurunnya tekanan darah. Penanganan inkompatibilitas ABO harus diberikan segera dan sesuai dengan gejala yang muncul. 

Baca juga: 2 Tes Medis untuk Diagnosis Inkompatibilitas ABO

Masih penasaran tentang penyakit inkompatibilitas ABO, penyebab, dan cara menanganinya? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Tanyakan seputar masalah kesehatan dan rekomendasi beli obat dari dokter terpercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!