• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Virus Corona: Bilik Disinfeksi Justru Berbahaya, Apa Sebabnya?

Virus Corona: Bilik Disinfeksi Justru Berbahaya, Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Berbagai cara dilakukan untuk melawan pandemi COVID-19 gegara virus corona. Mulai dari cara yang paling simpel, seperti mencuci tangan secara teratur, hingga cara canggih seperti bilik disinfeksi atau disinfection chamber

Bilik disinfeksi ini telah digunakan di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya kota Surabaya. Menurut pemerintah setempat, disinfection chamber bisa membersihkan seluruh tubuh, sehingga badan benar-benar bersih dari virus dan kuman. 

Tak hanya di Surabaya, disinfection chamber ini juga digunakan daerah lainnya, termasuk pemerintah Jawa Barat dan Jakarta. Bilik disinfektan ini bisa ditemukan di berbagai lokasi. Mulai dari Istana negara, gedung perkantoran, hingga pintu-pintu masuk perumahan. 

Pertanyaanya, benarkah disinfection chamber ampuh membunuh virus seperti virus corona terbaru, SARS-CoV-2? Di samping itu, bagaimana dengan keamanannya bagi kesehatan tubuh? 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

WHO Bantah Lewat Cuitan

Pengunaan disinfection chamber ini memiliki satu alasan utama. Sebab bilik ini diduga bisa mensterilkan tubuh manusia dari kuman, bakteri, dan virus. Bilik disinfeksi ini mengandung beragam bahan kimia. Mulai dari diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70 persen, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2), dan sebagainya.

Pertanyaannya, amankan bahan-bahan tersebut bila disemprotkan ke tubuh kita? 

“#Indonesia, jgn menyemprot disinfektan langsung ke badan seseorang, karena hal ini bisa membahayakan. Gunakan disinfektan hanya pada permukaan benda-benda. Ayo #LawanCOVID19 dgn tepat!” begitulah cuitan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia melalui akun Twitter-nya, pada Minggu (29/3). Dengan kata lain, WHO tidak merekomendasikan penyemprotan disinfektan langsung ke badan, seperti halnya bilik disinfeksi. 

Lantas apa pasalnya? Apakah menyemprot tubuh dengan alkohol atau klorin (salah satu kandungan dalam bilik disinfektasi) dapat membunuh virus corona terbaru? Jawaban WHO tegas, tidak. 

Menurut pakar di sana, menyemprot alkohol atau klorin pada tubuh seseorang tidak akan membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh. Menyemprot bahan-bahan kimia seperti itu dapat membahayakan bila terkena pakaian atau selaput lendir, contohnya mata atau mulut. 

Masih kata WHO, alkohol dan klorin memang bisa digunakan sebagai disindektan, tetapi tidak langsung pada badan seseorang. Kedua bahan bisa dimanfaatkan sebagai disinfektan pada permukaan benda, dan harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaannya.

Baca juga: Ini yang Harus Diperhatikan saat Isolasi di Rumah Terkait Virus Corona

Tidak Efektif dan Berbahaya

Penyebaran virus corona super cepat. Sampai saat ini sekitar 190-an negara harus berhadapan dengan virus jahat ini. Nah, dalam menghadapi COVID-19 yang menyebar dengan cepat dan sejumlah besar orang yang terinfeksi, ada kebutuhan mendesak menyoal pencegahan dan pengendalian infeksi yang efektif. 

Akan tetapi, beberapa cara atau langkah yang telah diperkenalkan saat ini, justru tak memiliki dasar ilmiah, dan terbukti tidak efektif. Menurut jurnal The Lancet - Infectious DiseasesTaking the right measures to control COVID-19”, salah satu yang tidak efektif adalah bilik disinfektasi.

Menurut ahli di sana, disinfeksi udara (yang dilakukan di jalanan/kota) dan komunitas (orang) tak diketahui keefektifannya untuk pengendalikan penyakit, dan perlu dihentikan. Alasannya, praktik penyemprotan disinfektan dan alkohol yang tersebar luas di udara, di jalan, kendaraan, dan tubuh tidak memiliki nilai yang efektif. Selain itu, alkohol dan disinfektan dalam jumlah besar berpotensi berbahaya bagi manusia dan harus dihindari.

Baca juga: Kasusnya Meningkat, Ini 8 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

Ada juga tanggapan dari pakar di dalam negeri. Contohnya yang diutarakan ahli dari Institut Teknologi Bandung dalam “Tanggapan terhadap maraknya penggunaan disinfektan pada bilik disinfeksi untuk pencegahan COVID-19”. Berikut poin-poinnya yang Halodoc telah Rangkum: 

  1. Efektivitas dari disinfektan dievaluasi berdasarkan waktu kontak atau “wet time”, yakni waktu yang dibutuhkan oleh disinfektan tersebut untuk tetap berada dalam bentuk cair/basah pada permukaan dan memberikan efek “membunuh” kuman. Waktu kontak disinfektan umumnya berada pada rentang 15 detik sampai 10 menit, yakni waktu maksimal yang ditetapkan oleh United States Environmental Protection Agency (EPA). Namun, Waktu kontak efektif dan konsentrasi cairan disinfektan yang disemprotkan ke seluruh tubuh dalam bilik disinfeksi untuk membunuh mikroba belum diketahui, apalagi waktu kontak efektif terhadap virus SARS-CoV-2.

  2. Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Network Open Oktober 2019 menemukan bahwa sebanyak 73.262 perawat wanita yang rutin tiap minggu menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan alat-alat medis berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan paru-paru kronik [4].

  3. Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernafasan (WHO) [5].

  4. Penggunaan larutan hipoklorit pada konsentrasi rendah secara terus-menerus dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan iritasi kulit dan kerusakan pada kulit. Dan penggunaannya pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah. Walaupun data masih terbatas, tetapi inhalasi hipoklorit (OCl–) dapat menimbulkan efek iritasi ringan pada saluran pernafasan [6].

  5. Penggunaan electrolyzed salt water sebagai disinfektan pada bilik disinfeksi, memiliki mekanisme dasar menghasilkan klorin sebagai disinfektan. Efek samping yang muncul akan sama seperti poin 3 dan 4. Sejauh ini, potensi penggunaan electrolyzed salt water untuk menginaktivasi virus, yang dipublikasikan pada Journal of Veterinary Medical Science, ditentukan dengan mencampurkan virus dengan air [7], sehingga waktu kontak juga berpengaruh pada efektivitas inaktivasinya.

  6. Kloroksilenol (bahan aktif cairan antiseptik komersial) yang juga digunakan sebagai salah satu disinfektan untuk bilik disinfeksi dapat meningkatkan resiko tertelan atau secara tidak sengaja terhirup. Studi pada hewan menunjukan bahwa kloroksilenol menyebabkan iritasi kulit ringan dan iritasi mata parah. Kematian terjadi pada dosis tinggi (EPA).

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Grid.id. Diakses pada 2020. Alih-Alih Sterilkan Tubuh dari Covid-19, Penggunaan Bilik Desinfeksi Justru Membahayakan Kesehatan.
Detik.com. Diakses pada 2020. WHO Tak Sarankan Semprot Disinfektan, Bahaya Jika Kena Selaput Lendir.
Jakartaglobe.id. Diakses pada 2020. Covid-19 Innovation: Disinfection Chambers Installed Around Jakarta.
Twitter. Diakses pada 2020. WHO Indonesia. 
Institut Teknologi Bandung - Sekolah Farmasi. Diakses pada 2020. Tanggapan terhadap maraknya penggunaan disinfektan pada bilik disinfeksi untuk pencegahan COVID-19.
The Lancet - Infectious Diseases. Diakses pada 2020.  Taking the right measures to control COVID-19.