Waspada Gejala Tetanus Sebelum Berakibat Fatal

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Waspada Gejala Tetanus Sebelum Berakibat Fatal

Halodoc, Jakarta - Selalu waspada terhadap gangguan tetanus di mana saja kamu berada dan beraktivitas. Tetanus disebabkan racun yang dibuat oleh spora bakteri, Clostridium tetani, yang sering ditemukan di tanah, debu, dan kotoran hewan. Saat spora memasuki luka daging yang dalam, mereka tumbuh menjadi bakteri yang menghasilkan racun yang kuat bernama tetanospasmin. Racun tersebut dapat merusak saraf yang mengendalikan otot-otot. Sehingga dapat menyebabkan kekakuan dan kejang-kejang otot.

Sebaiknya gangguan tetanus ini tidak disepelekan, karena merupakan penyakit yang serius yang dapat mengganggu sistem saraf, menyebabkan kontraksi otot yang menyakitkan, terutama pada otot rahang dan leher. Gangguan ini dikenal dengan “lockjaw”, yang dapat mengganggu kemampuan bernapas dan mengancam hidup seseorang. 

Untuk meningkatkan kewaspadaan gangguan tetanus yang berbahaya ini, ketahui dan kenali lebih dini gejala kemunculannya. Tanda dan gejala tetanus dapat muncul kapan saja, mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu setelah bakteri tetanus masuk ke tubuh melalui luka. Masa inkubasi rata-rata adalah tujuh hingga 10 hari. Tanda dan gejala umum tetanus meliputi:

  • Kejang dan kekakuan pada otot rahang (trismus);

  • Kekakuan otot leher;

  • Kesulitan menelan;

  • Otot perut menjadi kaku;

  • Kejang pada tubuh yang menyakitkan, berlangsung selama beberapa menit, biasanya dipicu oleh kejadian kecil, seperti suara angin, suara keras, sentuhan fisik atau cahaya;

  • Demam;

  • Berkeringat;

  • Tekanan darah tinggi;

  • Detak jantung berjalan cepat. 

Baca juga: Hati-hati, Ini Komplikasi yang Dapat Terjadi Karena Tetanus

Kemungkinan ada gejala lainnya, kamu dapat mengetahuinya dengan bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter mungkin menyarankan kamu untuk melakukan vaksin tetanus.

Seseorang yang sudah diberi vaksin tetanus pun tidak akan luput dari ancaman tetanus. Adapun pengobatan hanya berfokus pada penanganan komplikasi sampai efek toksin tetanus hilang. Obat-obatan itu meliputi:

  • Antitoksin. Dokter mungkin memberikan antitoksin tetanus untuk imunoglobulin anti-tetanus. Namun, antitoksin hanya dapat menetralkan racun yang belum terikat pada jaringan saraf. 

  • Antibiotik. Obat ini diberikan dokter baik secara oral atau injeksi. Manfaatnya untuk melawan bakteri tetanus. 

  • Vaksin. Semua orang yang mengalami tetanus harus menerima vaksin tetanus segera setelah terdiagnosis. 

  • Obat penenang. Obat ini diberikan dokter yang cukup kuat untuk mengontrol kejang otot.

  • Obat lainnya, seperti magnesium sulfat dan beta blocker tertentu. Obat tersebut digunakan untuk mengatur aktivitas otot tidak sadar, seperti detak jantung dan pernapasan.

Waspada Komplikasi Tetanus

Pengobatan dilakukan untuk mengobati tetanus agar lekas pulih. Pemulihan total dari infeksi tetanus membutuhkan ujung saraf baru untuk tumbuh, biasanya memakan waktu hingga beberapa bulan. Beberapa kemungkinan komplikasi tetanus meliputi:

  • Penyumbatan arteri paru-paru (pulmonary embolism). Gumpalan darah yang telah berpindah dari tempat lain di tubuh dapat memblokir arteri utama paru-paru atau salah satu cabangnya 

  • Kematian. Kejang otot yang diinduksi tetanus yang parah dapat mengganggu atau menghentikan pernapasan. Kegagalan pernapasan adalah penyebab kematian paling umum. 

  • Kekurangan oksigen juga menyebabkan henti jantung dan kematian. Pneumonia merupakan penyebab kematian lainnya. 

  • Patah tulang. Tingkat keparahan kejang dapat menyebabkan tulang belakang dan tulang lainnya patah. 

Baca juga: 4 Penyebab dan Cara Atasi Tangan Kram

Cegah komplikasi tetanus dengan segera melakukan diagnosis. Dokter biasanya mendiagnosis tetanus berdasarkan pemeriksaan fisik, riwayat medis dan imunisasi, dan gejala kejang otot, kekakuan hingga nyeri. Sementara itu, tes laboratorium biasanya tidak membantu untuk mendiagnosis tetanus. 

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Tetanus

WebMD. Diakses pada 2019. Symptoms of Tetanus