Waspada Retinoblastoma, Kanker Mata yang Sering Menyerang Anak

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Waspada Retinoblastoma, Kanker Mata yang Sering Menyerang Anak

Halodoc, Jakarta - Kanker adalah salah satu penyakit yang ditakuti banyak orang. Apalagi jika kanker sudah berkembang sejak anak masih kecil, orang tua pasti akan khawatir. Sebab sistem kekebalan tubuh yang dimiliki anak belum berkembang sempurna sehingga ditakutkan membuat kondisi anak semakin parah.

Salah satu kanker yang diidap hampir 300 anak di Amerika Serikat setiap tahun adalah retinoblastoma. Penyakit retinoblastoma pada anak mudah dikenali saat anak terkena paparan sinar seperti lampu flash pada kamera. Anak yang terkena retinoblastoma dicirikan dengan sinaran putih yang tampak pada pupilnya.

Gejala Retinoblastoma

Retinoblastoma yang dialami anak biasanya sedikit memperlihatkan gejala namun beberapa gejala yang patut dicurigai antara lain:

  • Warna putih di tengah lingkaran mata (pupil) ketika cahaya bersinar di mata, seperti ketika mengambil foto flash.

  • Mata yang tampak mencari ke arah yang berbeda (juling).

  • Mata merah.

  • Mata bengkak.

Penyebab Retinoblastoma

Retinoblastoma terjadi akibat sel-sel saraf di retina mengalami mutasi genetik. Mutasi-mutasi ini akhirnya membuat sel-sel terus bertumbuh dan memperbanyak dirinya sehingga menyebabkan sel-sel sehat mati. Sel yang bermutasi ini berakumulasi dan membentuk tumor. Sel retinoblastoma dapat menyerang lebih jauh ke dalam mata dan struktur di dekatnya. Retinoblastoma bisa menyebar ke area lain di tubuh, termasuk otak dan tulang belakang. Dalam sebagian besar kasus, tidak jelas penyebab mutasi genetik ini, namun retinoblastoma pada anak kemungkinan besar diwariskan dari orang tua.

Retinoblastoma yang bersifat herediter diturunkan dari orang tua kepada anak-anak dalam pola dominan autosomal, yang berarti hanya satu orang tua yang membutuhkan satu salinan gen yang bermutasi untuk meningkatkan risiko retinoblastoma pada anak. Jika salah satu orang tua membawa gen yang bermutasi, setiap anak memiliki kemungkinan 50 persen mewarisi gen itu.

Meskipun mutasi genetik meningkatkan risiko retinoblastoma pada anak, itu tidak berarti kanker ini tidak dapat dihindari. Anak-anak yang berisiko terkena retinoblastoma yang diwariskan cenderung mengembangkan penyakit pada usia yang lebih dini. Retinoblastoma herediter cenderung terjadi di kedua mata, bukan hanya satu mata.

Pengobatan Retinoblastoma

Tindakan yang dilakukan untuk menangani retinoblastoma bisa berbeda-beda tergantung dari tingkat keparahan penyakit tersebut menyerang anak. Namun umumnya, retinoblastoma dapat diatasi dengan melakukan terapi yang mampu membunuh sel kanker dalam retina mata.

Pilihan terapi yang bisa dilakukan untuk menangani retinoblastoma,  antara lain:

  1. Terapi Laser

Terapi ini dapat dipilih karena mampu menghancurkan pembuluh darah yang memasok nutrisi bagi tumor, sehingga sel kanker bisa dimatikan.

  1. Termoterapi

Terapi ini menggunakan gelombang panas dari sinar laser, seperti gelombang mikro atau ultrasound yang akan diarahkan ke sel kanker.

  1. Krioterapi

Terapi ini disebut juga terapi dingin karena menggunakan cairan nitrogen untuk membekukan sel kanker sebelum diangkat. Proses pembekuan dan pengangkatan ini perlu dilakukan beberapa kali sampai sel kanker hilang seluruhnya.

  1. Radioterapi

Metode ini dilakukan dengan menggunakan sinar X. Ada dua jenis radioterapi, yaitu radiasi internal dan eksternal. Pada radiasi internal, bahan radioaktif ditempatkan langsung di dekat tumor selama beberapa hari untuk memberikan efek radiasi terhadap tumor. Sedangkan pada radiasi eksternal, radiasi dipancarkan melalui sebuah mesin untuk memberikan paparan yang lebih besar.

  1. Kemoterapi

Dalam kemoterapi, pengidap diberikan obat dalam bentuk oral atau suntikan ke pembuluh darah yang mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker.

  1. Operasi Pengangkatan Bola Mata

Bila tumor sudah besar dan sulit untuk ditangani, maka dokter menganjurkan pengidap untuk melakukan operasi pengangkatan bola mata.

Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal kondisi ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor. Kamu bisa diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!

Baca Juga: