Waspadai Faktor yang Tingkatkan Risiko Schistosomiasis

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Waspadai Faktor yang Tingkatkan Risiko Schistosomiasis

Halodoc, Jakarta - Dari berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh cacing, schistosomiasis merupakan salah satu yang mesti diwaspadai. Mau seberapa seriusnya penyakit ini? Menurut data dari WHO, setidaknya 200.000 jiwa melayang setiap tahunnya akibat schistosomiasis. 

Schistosomiasis sendiri merupakan infeksi yang disebabkan cacing parasit schistosoma. Cacing ini bisa ditemukan di dalam air tawar, seperti sungai, waduk, kolam, danau, dan air kanal di negara dengan cuaca tropis. 

Lantas seperti apa sih gejala dan faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya schistosomiasis?

Baca juga: Schistosomiasis Dapat Sebabkan Pembengkakan Hati, Ini Alasannya

Awas, Bisa Masuk Melalui Kulit

Schistosomiasis ini disebabkan gegara infeksi cacing parasit, yaitu Schistosoma haematobium, Schistosoma japonicum, dan Schistosoma mansoni. Nah, cacing-cacing ini sendiri bisa hidup di air tawar. Ketika seseorang terserang schistosomiasis, infeksinya dimulai saat pengidapnya berkontak dengan air yang telah terkontaminasi cacing tersebut.

Hal yang perlu digarisbawahi, cacing ini bisa masuk ke tubuh dengan cara yang cukup mudah, misalnya melalui kulit. Setelah itu, mereka akan bersarang di dalam tubuh selama beberapa minggu sebelum menetaskan telurnya. 

Di dalam tubuh, sistem imun akan menyerang beberapa telur tersebut untuk kemudian dikeluarkan melalui tinja maupun urin. Namun, tanpa pengobatan yang benar, cacing dapat terus menetaskan telur untuk jangka waktu yang panjang.  

Lalu, apa saja sih faktor yang bisa memicu terjadi schistosomiasis?

Secara garis besar, schistosomiasis berisiko besar terjadi bila seseorang bepergian atau tinggal di daerah di mana schistosomiasis kerap terjadi. Nah, berikut ini beberapa faktor risiko lainnya:

  • Bepergian ke daerah yang rentan terjadi schistosomiasis;

  • Sistem imun yang kurang prima;

  • Menggunakan air mandi yang berasal dari sumber yang tak disaring, seperti sungai atau danau; dan

  • Berenang atau mencuci di danau, sungai, waduk, atau kanal.

Baca juga: Hubungan Lingkungan Bersih dengan Pencegahan Schistosomiasis

Gejalanya Berkaitan dengan Lokasi Infeksi

Pada dasarnya, gejala infeksi dari schistosomiasis bergantung pada fase perjalanan penyakit. Dalam kebanyakan kasus, fase akut berlangsung selama 14 hingga 84 hari. Gejalanya, seperti gatal dan ruam (saat cacing pertama kali masuk ke dalam kulit), demam, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, serta sesak napas. 

Di samping itu, gejala fase kronik schistosomiasis juga berkaitan dengan lokasi terjadinya infeksi. Contohnya, bila cacing parasit ini menyerang organ hati atau pencernaan, maka gejala yang timbul dapat berupa diare atau konstipasi dan. perdarahan pada tinja. Dalam beberapa kasus, ada juga gejala lainnya, seperti tukak lambung dan usus, fibrosis hati, hingga tekanan darah tinggi pada vena porta dan seluruh pembuluh darah pada sistem pencernaan.

Sedangkan infeksi yang terjadi pada sistem urinaria beda lagi gejalanya. Misalnya: nyeri saat buang air kecil, adanya darah dalam urine, dan meningkatkan faktor risiko terjadinya kanker kandung kemih. 

Dalam jangka waktu yang panjang, infeksi schistosomiasis bisa menyebabkan anemia. Hal yang perlu diwaspadai, meski kasusnya jarang, tetapi cacing parasit ini juga bisa menyerang sistem saraf pusat. 

Ibu yang memiliki anak-anak rasanya mesti harap-harap cemas. Pasalnya, menurut data WHO, cacing parasit yang menginfeksi anak-anak, bisa menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Tuh, bikin resah kan? 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
NHS Choices UK (Diakses pada 2019). Health A-Z. Schistosomiasis (Bilharzia)
World Health Organization (Diakses pada 2019). Schistosomiasis