2 Terapi untuk Mengobati Dyspraxia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
dyspraxia, terapi untuk dyspraxia

Halodoc, Jakarta - Pertumbuhan dan perkembangan buah hati yang baik merupakan impian orangtua. Meski begitu, terkadang orangtua tidak begitu memperhatikan perkembangan buah hatinya. Ketika Si Kecil divonis mengidap masalah pada pertumbuhan, sering kali orangtua terlambat mengetahuinya.

Dyspraxia termasuk salah satu gangguan yang sering terjadi pada anak. Bagaimanakah cara mengatasinya? Berikut adalah langkah penanganan yang dapat ibu lakukan jika Si Kecil mengidap kondisi ini!

Baca juga: Inilah Langkah Terapi Okupasi pada Anak Berkebutuhan Khusus

Si Kecil Mengidap Dyspraxia, Ini Terapi yang Dapat Dilakukan

Dyspraxia merupakan gangguan yang umum terjadi pada anak. Anak pengidap dyspraxia akan mengalami kesulitan dalam membentuk kata-kata atau mengatur koordinasi gerak tubuh. Anak dengan dyspraxia bahkan bisa saja mengalami gangguan perilaku lain. Kondisi ini belum bisa diatasi dengan menggunakan obat-obatan tertentu. Penanganan akan dilakukan dengan terapi berikut:

  • Terapi Perilaku Kognitif 

Terapi perilaku kognitif merupakan salah satu jenis psikoterapi yang mengkombinasikan terapi perilaku dan terapi kognitif. Terapi ini dilakukan dengan mengolah perasaan dan emosi yang tidak menyenangkan. Banyak peserta yang akan menangis atau marah selama dilakukannya terapi. 

  • Terapi Okupasi  

Terapi okupasi merupakan terapi yang bertujuan untuk membantu peserta yang mengalami gangguan kesehatan tertentu agar dapat melakukan aktivitas kesehariannya tanpa bantuan orang lain. Aktivitas yang dimaksud, seperti mandi, berpakaian, atau makan. Selain itu, terapi ini juga mengajarkan peserta agar dapat mengembangkan diri dalam bersosialisasi. 

Masing-masing peserta akan diajarkan dengan teknik dan cara yang berbeda. Selain terapi, dukungan dari orang-orang terdekat, orangtua, atau keluarga juga penting untuk membantu peserta agar dapat pulih lebih cepat. 

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Tahapan yang Dilakukan saat Terapi Okupasi

Kenali Anak dengan Gejala Dyspraxia

Anak dengan dyspraxia dapat ditandai dengan gejala sebagai berikut:

  • Kesulitan dalam menjalankan instruksi yang diberikan.

  • Memiliki kemampuan menulis dan menggambar yang buruk.

  • Si Kecil akan mudah stres dan marah.

  • Kesulitan dalam mengkoordinasikan gerak tubuh.

  • Memiliki konsentrasi yang pendek.

  • Memiliki pola tidur yang buruk.

  • Si Kecil tidak mampu duduk dengan tenang.

  • Kemampuan gerak motorik tidak terkoordinasi dengan baik.

  • Si Kecil memiliki tingkat percaya diri yang kurang baik.

  • Si Kecil sering mencari perhatian.

  • Tidak tertarik dengan permainan yang membutuhkan imajinasi.

  • Si Kecil sering jatuh dan menabrak ketika berjalan.

Kenali gejalanya, agar kondisi ini dapat ditangani dengan segera. Jika Si Kecil mengalami serangkaian gejala tersebut, ibu bisa langsung diskusikan dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc untuk mengetahui jenis terapi apa yang harus diambil. Ingat, penanganan yang tepat akan meminimalisir akibat yang akan terjadi.

Baca juga: Cara Tepat Pilih Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus

Dyspraxia, Apa yang Menyebabkan Terjadinya Kondisi Ini?

Dyspraxia dapat terjadi karena adanya gangguan pada salah satu saraf atau bagian otak tertentu yang mengkoordinasi gerakan tubuh. Namun, sejauh ini belum diketahui apa yang menjadi penyebab pasti terjadinya dyspraxia. Kendati demikian, beberapa faktor risiko berpengaruh besar pada dyspraxia yang dialami oleh Si Kecil.

Beberapa faktor risiko tersebut, yaitu kelahiran prematur sebelum mencapai usia 37 minggu, memiliki riwayat dyspraxia pada salah satu anggota keluarga, Si Kecil lahir dengan berat badan di bawah normal, serta ibu yang mengonsumsi alkohol dan narkotika ketika tengah mengandung. Untuk mencegah dyspraxia, ibu dapat selalu menjaga kesehatan kandungan dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Dyspraxia.
NHS. Diakses pada 2019. Developmental Coordination Disorder (Dyspraxia) in Children.