08 October 2018

3 Alasan Mengapa Chikungunya Berbahaya

3 Alasan Mengapa Chikungunya Berbahaya

Halodoc, Jakarta - Dalam dunia medis, ada kalanya satu gejala penyakit mirip dengan penyakit lainnya. Makanya, tak heran bila dalam beberapa kasus dapat terjadi kesalahan diagnosis. Contohnya, orang yang terinfeksi virus chikungunya terkadang sering salah didiagnosis terkena demam berdarah dengue. Pasalnya, gejala kedua penyakit ini hampir sama.

Nah, kesalahan diagnosis ini bisa saja membuat orang yang mengidap chikungunya tak mendapatkan penanganan atau terapi yang tepat. Sebenarnya sih, memang tak ada terapi spesifik untuk kedua penyakit di atas. Umumnya, orang yang mengidapnya hanya diberikan anti-nyeri dan cukup minum air putih. Meski begitu, ada perbedaan dari jenis obat anti-nyeri yang direkomendasikan oleh ahli untuk kedua penyakit tersebut.

Chikungunya sendiri merupakan jenis virus yang ditularkan oleh nyamuk. Virus ini pertama kali teridentifikasi selama wabah pada tahun 1952 di Tanzania. Virusnya adalah virus Ribonucleic Acid (RNA), masih satu kerabat dengan genus alphavirus keluarga Togaviridae. Lalu, apa sih alasan yang membuat penyakit chikungunya berbahaya?

1. Lumpuh Sementara

Kata ahli, virus chikungunya ini disebarkan oleh nyamuk bernama Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Orang-orang yang mengidap penyakit ini akan mengalami demam berulang selama 3-5 hari. Enggak hanya itu saja, virusnya juga bisa menyebabkan pembengkakkan kelenjar getah bening, nyeri pada persendian lutut dan area lainnya serta bintik merah pada tangan dan kaki.

Kamu mesti waspada, sebab saking hebatnya nyeri yang ditimbulkan penyakit ini bisa saja membuat pengidapnya tak mampu berjalan. Oleh sebab itu, banyak orang yang mengidapnya seringkali disangka lumpuh. Kok bisa?

Kata ahli, penyakit ini menyerang otot-otot persendian. Nah, rasa sakit yang teramat pada beberapa titik organ tubuh inilah yang membuat pengidapnya sulit bergerak. Rasa sakit yang tinggi ini bisa saja timbul di siku, pergelangan tangan, hingga jari-jari kaki.

2. Nyerinya Bisa Bertahun-tahun

Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat atau vaksin untuk penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Kata ahli, perawatannya hanya untuk mengurangi gejala yang timbul. Umumnya, gejala nyeri di atas akan timbul tak lama setelah demam mulai dirasakan. Gejala nyeri ini bisa bertahan selama berminggu-minggu.

Namun, adakalanya beberapa pengidap penyakit ini mesti berhadapan dengan rasa nyeri hingga beberapa bulan. Dalam beberapa kasus, rasa nyeri ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Nah, sudah kebayangkan hal yang mesti dihadapi oleh pengidap penyakit ini?

3. Berbagai Komplikasi

Kata ahli, daerah yang banyak terdapat kasus demam berdarah, tak sedikit juga terjadi kasus salah diagnosis antara kedua penyakit ini. Namun, hal yang mesti diingat penyakit chikungunya ini bisa saja menimbulkan berbagai komplikasi. Misalnya, gangguan saraf, mata, jantung, dan saluran pencernaan. Tak cuma itu, kata ahli penyakit ini bisa mengakibatkan kematian bagi orang lanjut usia yang mengidapnya.

Tes untuk Mendiagnosisnya

Penyakit yang satu ini berasal dari bahasa Shawill, Afrika, yang artinya “berubah bentuk”. Alasannya, posisi pengidap penyakit ini sering kali membungkuk akibat nyeri sendi. Demam chikungunya kali pertama mewabah di Indonesia pada 1982.

Nah, untuk mencegah terjadinya kesalahan diagnosis, para ahli memiliki teknik sendiri untuk menelisik penyakit ini. Misalnya, pengambilan sampel darah milik pengidap yang diambil pada minggu pertama setelah gejala mulai terasa. Lalu, sampel ini akan diuji dengan tes serologi dan virologi (RT-PCR) di laboratorium. Kemudian, ada pula tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assays) yang akan mengonfirmasi keberadaan antibodi yang mengindikasikan infeksi chikungunya.

Setelah gejala masuk dalam minggu ketiga hingga kelima, antibodi jenis IgM akan berada dalam kadar tertinggi. Lalu, akan tetap sama hingga dua bulan selanjutnya.

Punya keluhan kesehatan atau masalah dengan demam chikungunya? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Baca juga: