10 September 2018

3 Dampak Pola Asuh Permisif bagi Anak

Pola asuh permisif, pola permisif orang tua

Halodoc, Jakarta - Pola asuh terdiri atas tiga, yaitu permisif, autoritatif, dan otoriter. Kebebasan menentukan pola asuh untuk Si Kecil memang sepenuhnya berada di tangan dirimu dan pasangan. Namun sebelum menentukan pola asuh ini, ada baiknya untuk mengetahui kekurangannya. Tujuannya, agar Si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dengan pola asuh yang tepat.

Nah, selain pola asuh autoritatif dan otoriter, enggak sedikit orangtua yang memilih pola asuh permisif untuk membesarkan anak-anaknya. Alasannya bermacam-macam, hal yang paling sering menjadi dasar pertimbangannya adalah ingin memberikan kebebasan penuh kepada anak dalam hidupnya. Hmm, lalu kira-kira apa sih dampak atau kekurangan dari pola asuh permisif orang tua?

1. Kurang Bertanggung Jawab

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang “serba boleh” alias permisif ini, akan memiliki risiko menjadi anak yang kurang bisa mengontrol diri. Mereka juga terkadang tidak bisa bertanggung jawab atas perilakunya. Lho kok bisa? Pasalnya, pola asuh permisif ini tidak disertai dengan batasan yang jelas dari orangtua. Di sini orangtua cenderung untuk menerima atau mengikuti apapun keinginan dan perilaku anak.

Lain halnya dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh autoritatif. Mereka biasanya berkembang menjadi anak-anak yang memikirkan perilakunya dan dampak dari apa yang dia lakukan. Dengan kata lain, “enggak seenaknya”. Di sini, orangtua akan memberikan arahan atas perilaku anak, tetapi dengan cara rasional. Nah, hal-hal seperti inilah yang nantinya akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab terhadap pilihan atau keputusan yang mereka buat.

2. Suka Memberontak

Menurut ahli, pola asuh anak jenis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau keinginannya. Pola asuh ini enggak memberikan batasan yang tegas kepada anak. Biasanya orangtua akan mengikuti apapun yang anak inginkan sehingga dia cenderung enggak memiliki keteraturan dan kemampuan untuk meregulasi diri.

Enggak cuma itu, orangtua biasanya memberikan tuntutan yang minim kontrol atas perilaku anak. Jika anak melakukan kesalahan, orangtua dengan pola asuh ini jarang, bahkan tidak pernah memberikan hukuman. Oleh sebab itu, pola asuh permisif orang tua ini ujung-ujungnya bisa membuat anak menjadi suka memberontak, suka mendominasi, dan tidak jelas arah hidupnya. Kata ahli, jika pola ini berlangsung terus-menerus dan konsisten maka anak dapat bertindak semaunya tanpa memikirkan dampak perilakunya, baik kepada dirinya sendiri ataupun ke orang lain.

3. Manja dan Kurang Bisa Mengendalikan Diri

Pola asuh permisif orang tua memang bisa membuat hubungan antara orangtua dan anak memiliki tingkat kehangatan yang tinggi, tetapi kurang kontrol dari orangtua. Kata ahli, orangtua disini cenderung bersikap lunak. Inilah yang nantinya bisa membuat anak menjadi manja, egois, tidak disiplin, dan mudah menyerah. Enggak hanya itu saja, kebebasan yang diperoleh anak juga bisa membuat dirinya kurang percaya diri dan kurang bisa mengendalikan diri.

Meskipun begitu, pola asuh jenis ini baik diterapkan ketika orangtua ingin mengembangkan kecerdasan seni dan imajinasi anak. Sebab, imajinasi anak akan berkembang dengan baik bila orangtua tak terlalu membatasinya. Tak cuma itu saja, dampak positif dari pola asuh ini juga bisa membuat anak jadi lebih kreatif.

Si kecil punya keluhan kesehatan? Enggak perlu panik, ibu bisa lho bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: