03 September 2018

4 Penyebab Perdarahan Berat Usai Melahirkan

Perdarahan berat

Halodoc, Jakarta - Menurut data dari World Health Organization (WHO), setidaknya 25 persen kematian ibu terjadi karena pendarahan usai melahirkan atau perdarahan post partum. Angkanya mencapai 100.000 kematian ibu pertahun. Sedangkan data dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) beda lagi, para ahli di sana memperkirakan 140.000 kematian ibu pertahun akibat perdarahan postpartum.

Perdarahan postpartum sendiri kebanyakan disebabkan oleh terbukanya pembuluh darah pada rahim, di mana plasenta melekat di dinding rahim ketika hamil. Di samping itu, prosedur episiotomi (sayatan yang dibuat pada perineum, jaringan di antara jalan lahir dan anus, pada saat proses persalinan) juga bisa menyebabkan kondisi ini.

Yang perlu diperhatikan, tiap tubuh ibu punya kemampuan yang berbeda-beda dalam menangani perdarahan. Namun, dalam beberapa kasus, ada sebagian wanita yang bisa mengalami perdarahan berat atau postpartum hemorrhage (PPH), lho.

Ibu mesti hati-hati, perdarahan berat ini bisa berakibat fatal bagi tubuh ibu, bahkan menyebabkan kematian. Lalu apa sih penyebab perdarahan berat setelah melahirkan?

1. Plasenta Akreta

Perdarahan berat pasca melahirkan bisa disebabkan oleh plasenta akreta. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tertanam terlalu dalam di dinding rahim. Kata ahli, di kondisi ini plasenta bisa saja menempel sebagian, atau seluruhnya di dinding rahim ketika ibu telah melahirkan bayinya.

Nah, hal inilah yang nantinya bisa menyebabkan perdarahan berat. Kata ahli, plasenta akreta kemungkinan disebabkan oleh kelainan pada dinding rahim.

2. Retensio Plasenta

Yang satu ini kondisi di mana tertahannya jaringan plasenta atau janin (retensi plasenta) di dalam rahim. Kondisi yang juga disebut retensio plasenta ini bisa membuat pembuluh darah di rahim belum tertutup dengan benar, sehingga bisa menyebabkan perdarahan berat pada ibu setelah melahirkan.

Menurut para ahli, masalah medis ini lebih mungkin terjadi ketika wanita melahirkan di usia kehamilan yang sangat dini, seperti kurang dari 24 minggu (kelahiran sangat prematur).

3. Masalah Pembekuan Darah

Gangguan koagulasi atau gangguan pembekuan juga bisa menjadi biang keladi dari perdarahan hebat pasca-lahir. Kata ahli, kondisi ini berhubungan dengan penyakit von Willebrand, atau penyakit bawaan di mana pengidapnya mengalami gangguan dalam proses pembekuan darah.

Enggak cuma itu, gangguan koagulasi juga berkaitan dengan hemofilia, dan diopatik trombositopenia purpura. Diopatik ini sendiri merupakan kelainan autoimun yang berdampak pada trombosit. Pengidapnya akan mudah mengalami memar atau berdarah, yang terjadi secara berlebihan.

Di samping itu, komplikasi kehamilan seperti hipertensi dan preeklampsia gestasional juga bisa memengaruhi kemampuan darah untuk membeku. Alhasil, komplikasi inilah yang nantinya dapat menyebabkan perdarahan berat pasca lahir.

4. Atonia uteri

Pendarahan hebat pasca-lahir juga bisa disebabkan oleh hilangnya tonus otot rahim, sehingga tak dapat berkontraksi dan menekan pembuluh serta mengurangi aliran darah.  Kondisi ini pula membuat rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik untuk mengeluarkan plasenta. Kata ahli, kondisi ini merupakan penyebab kebanyakan pendarahan hebat setelah melahirkan.

Selain keempat hal di atas, ada juga beberapa kondisi yang bisa menyebabkan perdarahan berat setelah melahirkan.

- Trauma. Cedera pada jalur persalinan, seperti leher rahim, vagina, rahim, dan perineum.

- Plasenta previa. Kondisi ketika plasenta bayi menutup seluruh atau sebagian leher rahim, yang menghubungkannya dengan bagian atas vagina.

- Rahim terbalik. Kondisi rahim yang terbalik atau pecah (ruptur), juga bisa menimbulkan pendarahan hebat pasca-lahir, meski kondisi ini jarang terjadi.

Punya keluhan mengenai kehamilan? Ibu bisa lho bertanya dan berdiskusi langsung dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: