29 October 2018

5 Gangguan Kepribadian dengan Rasa Cemas Berlebihan

5 Gangguan Kepribadian dengan Rasa Cemas Berlebihan

Halodoc, Jakarta – Gangguan kepribadian adalah sekelompok penyakit mental. Penyakit ini melibatkan pola pemikiran dan perilaku jangka panjang yang tidak sehat dan tidak fleksibel. Gangguan kepribadian bisa menyebabkan masalah serius dengan hubungan dan pekerjaan.

Orang dengan gangguan kepribadian mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan dan masalah sehari-hari. Mereka sering memiliki hubungan yang sulit dengan orang lain. Biasanya gangguan kepribadian ditandai dengan rasa cemas berlebihan. Untuk mengetahui lebih detail mengenai hal ini, berikut adalah jenis gangguan kepribadian yang pada umumnya ditandai dengan kecemasan berlebihan.

  1. Paranoid Personality Disorder

Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang berlebihan menjadi ciri dari kondisi ini. Orang dengan kepribadian paranoid jarang curhat ke orang lain, lalu cenderung salah menafsirkan komentar dan perilaku yang tidak berbahaya sebagai sesuatu yang buruk.

Orang dengan gangguan kepribadian paranoid biasanya tidak dapat mengakui perasaan negatif mereka sendiri terhadap orang lain. Namun pada umumnya, tidak kehilangan kontak dengan kenyataan. Mereka bahkan dapat membangun dan menahan kekesalan tak berdasar untuk jangka waktu yang tidak masuk akal.

  1. Schizoid Personality Disorder

Orang dengan gangguan kepribadian skizoid jarang merasa ada yang salah dengan mereka. Gejalanya meliputi ketidakpedulian terhadap hubungan sosial dan jangkauan ekspresi emosi yang terbatas.

Orang dengan gangguan kepribadian ini biasanya penyendiri dan mungkin cenderung melamun berlebihan. Mereka dapat bekerja dengan baik ketika sendiri, tetapi tidak bisa bekerja dengan orang lain. Kondisi ini umumnya merupakan awal skizofrenia atau hanya bentuk yang sangat ringan.

  1. Schizotypal Personality Disorder

Orang dengan gangguan kepribadian skizotipal sering digambarkan sebagai orang yang aneh atau eksentrik. Biasanya mereka hanya sedikit memiliki hubungan dekat. Mereka umumnya tidak mengerti bagaimana hubungan terbentuk atau dampak dari perilakunya ke orang lain. Pengidapnya kerap juga kerap salah menafsirkan motivasi dan perilaku orang lain, sehingga mengembangkan ketidakpercayaan yang signifikan terhadap orang lain.

  1. Antisocial Personality Disorder

Gangguan kepribadian antisosial digambarkan sebagai individu yang cenderung mengabaikan dan melanggar hak orang lain di sekitarnya. Orang dengan penyakit ini mungkin tampak menarik di awal, tetapi mereka cenderung mudah tersinggung dan agresif serta tidak bertanggung jawab. Mereka mungkin memiliki banyak keluhan dan sangat mungkin mencoba bunuh diri. Oleh karena kecenderungan manipulatif mereka, maka sulit untuk mengatakan apakah mereka berbohong atau mengatakan yang sebenarnya.

  1. Borderline Personality Disorder (BPD)

Sekitar 80 persen orang dengan gangguan kepribadian ini menampilkan perilaku bunuh diri, Diperkirakan antara 4 hingga 9 persen orang dengan BPD akan mati karena bunuh diri. Perubahan suasana hati yang intens, perilaku impulsif, dan reaksi ekstrem dapat menyulitkan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, sulit mempertahankan pekerjaan yang stabil dan memiliki hubungan jangka panjang yang sehat adalah ciri-ciri dari orang dengan gangguan kepribadian ini.

Jika orang terdekatmu terindikasi salah satu gangguan ini, penting untuk kamu mengetahui bahwa dia sangat tersiksa dengan kondisinya. Perilaku yang merusak dan menyakitkan adalah reaksi terhadap rasa sakit emosional yang mendalam. Dengan kata lain, kata-kata kasar yang mereka lontarkan bukan tentang kamu. Pahamilah bahwa perilaku tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk menghentikan rasa sakit yang dia alami dari dalam.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai gangguan kepribadian serta informasi lainnya mengenai persoalan psikologi, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, pasangan bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: