5 Kebiasaan yang Tingkatkan Risiko Dermatitis Numularis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
5 Kebiasaan yang Tingkatkan Risiko Dermatitis Numularis

Halodoc, Jakarta - Banyak penyakit yang dapat terjadi pada kulit. Mulai dari yang disebabkan oleh penyakit luar bahkan karena penyakit dalam. Gangguan kulit yang paling umum adalah ruam, yang biasanya disebabkan oleh dermatitis. Lalu, apabila dermatitis yang terjadi menyebabkan nyeri, kamu akan mengalami dermatitis numularis.

Gangguan ini dapat menimbulkan gejala kemerahan pada kulit yang kecil tetapi berkelompok. Dermatitis numularis lebih berisiko terhadap pria dibandingkan dengan wanita. Hal ini umumnya berkaitan dengan alergi yang disebabkan oleh tubuh kamu. Selain itu, beberapa kebiasaan juga dapat menyebabkannya. 

Baca juga: 2 Pemeriksaan untuk Deteksi Dermatitis Numularis

Kebiasaan yang Dapat Meningkatkan Risiko Dermatitis Numularis

Dermatitis Numularis, atau disebut juga dengan eksim numularis, adalah gangguan kulit yang menyebabkan eksim dan dapat menyerang semua usia. Gangguan ini dapat menyebabkan kulit merah berbentuk oval dengan perasaan nyeri atau perih. Ruam kulit tersebut dapat terjadi dari 1 minggu hingga 1 bulan.

Gangguan pada kulit ini lebih sering menyerang pria dengan rentang usia 55 hingga 60 tahun. Pada wanita, hal ini lebih umum terjadi pada wanita saat masih remaja atau dewasa. Dermatitis numularis dapat sulit untuk diobati karena dapat memengaruhi setiap orang secara berbeda.

Beberapa kebiasaan yang dapat memicu terjadinya dermatitis numularis adalah:

  1. Bekerja di Alam Terbuka

Salah satu hal yang dapat membuat seseorang berisiko terhadap dermatitis numularis adalah bekerja di alam terbuka. Hal ini dapat menyebabkan kulit tergigit oleh serangga yang dapat menyebabkan ruam kulit yang perih atau nyeri.

  1. Kulit Sering Cedera

Seseorang yang sering mengalami cedera fisik, seperti teriris, tergesek, dan terbentur oleh suatu benda dapat berisiko terhadap dermatitis numularis. Hal ini dapat langsung menyebabkan kerusakan pada kulit, sehingga mengalami ruam yang menimbulkan nyeri.

  1. Konsumsi Obat

Beberapa obat juga dapat menyebabkan nyeri pada ruam kulit. Beberapa pengobatan antibiotik yang dioleskan ke kulit dapat menyebabkan hal ini. Salah satu jenis antibiotik tersebut adalah neomycin. Jika kamu mengalami gangguan karena konsumsi obat, ada baiknya untuk bertanya pada dokter kamu.

Kamu bisa mendiskusikan kondisi kesehatanmu dengan dokter terpercaya di Halodoc. Komunikasi dengan dokter dapat dengan mudah dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Ayo, download aplikasinya sekarang juga!

  1. Kulit yang Sangat Kering

Seseorang yang mempunyai kulit yang sangat kering dapat terserang dermatitis numularis. Hal ini terjadi karena kulit kering lebih sensitif terhadap apapun. Akibatnya, iritasi sedikit saja dapat berkembang menjadi ruam kulit yang dapat menyebabkan perih atau nyeri.

  1. Makanan Berformalin

Beberapa orang yang sensitif terhadap formalin dapat berisiko terhadap dermatitis numularis. Hal ini karena tubuh sensitif terhadap kandungan yang terdapat pada formalin. Maka dari itu, cobalah untuk mengurangi konsumsi sesuatu yang menggunakan bahan pengawet.

Baca juga: Perbedaan Gejala Dermatitis Numularis dan Kurap

Pengobatan Terhadap Dermatitis Numularis

Eksim numularis yang terjadi dapat diobati dengan mengaplikasikan pelembap untuk menenangkan dan melindungi penghalang kulit yang rusak. Selain itu, dokter kamu mungkin akan memberikan obat steroid untuk meminimalisir peradangan. Walau begitu, gangguan kulit tersebut dapat cepat sembuh setelah perawatan yang tepat dilakukan.

Baca juga: Begini Cara Atasi Dermatitis Atopik

Jika obat steroid yang digunakan tidak ampuh, dokter mungkin akan meresepkan fototerapi atau obat topikal non-kortikosteroid, seperti tacrolimus atau pimecrolimus. Obat-obatan ini disebut juga dengan inhibitor kalsineurin topikal (TCI) yang sudah disetujui untuk digunakan orang dewasa atau anak-anak di atas dua tahun.

Referensi:
Healthline (Diakses pada 2019).
National Eczema (Diakses pada 2019).
AAD (Diakses pada 2019).