5 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
5 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta – Kehamilan adalah masa-masa yang rentan bagi ibu dan janin. Di masa-masa ini, nutrisi ibu wajib dipenuhi agar janin berkembang sehat dan sempurna. Namun, ibu hamil juga harus memilah-milah makanan apa yang baik dikonsumsi dan yang tidak. Pasalnya, apa yang dikonsumsi ibu hamil berdampak pada perkembangan janin di dalam kandungan.

Beberapa makanan baik dikonsumsi karena bisa mendukung perkembangan janin, sedangkan sebagian makanan lainnya dapat membahayakan kondisi janin. Kalau ibu ingin tahu makanan yang baik dikonsumsi saat hamil, tanya saja ke ahli gizi Halodoc. Download aplikasinya di sini. Berikut ini makanan-makanan yang perlu dihindari ibu hamil.

Baca Juga: 6 Makanan yang Baik untuk Mendukung Program Hamil

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Ibu Hamil

Agar ibu lebih waspada terhadap hal-hal yang bisa membahayaka janin, ibu perlu mengetahui jenis-jenis makanan di bawah ini:

1. Ikan Bermerkuri Tinggi

Ikan dan makanan laut lainnya memang menjadi sumber protein yang kaya asam lemak omega-3. Kedua nutrisi ini baik untuk tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Meski begitu, tidak semua jenis makanan laut boleh dikonsumsi Ibu jamil. Ikan dan makanan laut seperti ikan hiu, ikan makarel raja, ikan tuna bigeye, ikan todak, dan ikan tuna sirip kuning pantang dikonsumsi saat hamil karena mengandung merkuri yang tinggi.

Jenis ikan lain yang mengandung merkuri, meski tidak sebanyak yang disebutkan sebelumnya, adalah ikan salmon, udang, tuna, sarden, lele, ikan bilis, ikan nila, dan ikan trout. Merkuri berisiko mengganggu perkembangan otak bayi, sehingga ibu hamil sebaiknya menghindarinya atau membatasi konsumsinya maksimal hanya dua kali per minggu.

2. Makanan Mentah

Makanan yang mentah atau setengah matang masih mengandung bakteri yang bisa membahayakan kondisi janin. Misalnya, telur setengah matang masih mengandung bakteri Salmonella yang berpotensi menyebabkan muntaber hingga infeksi cairan ketuban.

Meski kasusnya jarang, Salmonella dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin. Sedangkan pada daging setengah matang, dikhawatirkan masih mengandung parasit toksoplasmosis yang juga berbahaya bagi janin.

Baca Juga: Makanan Terbaik untuk Kehamilan Trimester Pertama

3. Minuman yang Tidak Dipasteurisasi

Susu memang dibutuhkan ibu hamil untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh. Namun, susu yang tidak dipasteurisasi bisa menyebabkan keracunan karena masih masih ada bakteri di dalamnya. Sedangkan jus botolan siap minum yang tidak dipasteurisasi, dikhawatirkan juga mengandung bakteri E. coli dan Salmonella yang berbahaya.

Akan lebih baik jika ibu hamil membuat jus sendiri di rumah untuk memastikan kesterilan alat pembuat jus dan kesegaran buahnya. Saat membuat jus, pastikan buah atau sayuran yang digunakan dicuci terlebih dahulu dan buang bagian yang sudah berwarna hitam atau kecokelatan.

4. Kafein dan Minuman Beralkohol

Faktanya, kafein mampu menembus plasenta dan menyebabkan gangguan detak jantung pada janin. Konsumsi kafein berlebihan saat hamil diduga juga bisa meningkatkan risiko berat bayi lahir rendah (BBLR), bayi lahir mati, hingga keguguran.

Sedangkan alkohol, mengonsumsinya juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir mati dan keguguran. Atau jika lahir, ibu hamil yang gemar konsumsi alkohol berisiko tinggi memiliki anak dengan fetal alcohol syndrome (FAS) yang ditandai dengan kelainan bentuk wajah, kelainan jantung, dan gangguan mental.

5. Makanan Cepat Saji

Makanan cepat saji (fast food), seperti burger, kentang goreng, dan ayam goreng tepung cenderung mengandung lemak trans yang tinggi. Mengonsumsinya berlebihan, bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, obesitas, ukuran janin besar (makrosomia), dan persalinan prematur.

Baca Juga: 7 Makanan untuk Pertumbuhan Tulang Janin