8 Faktor Risiko Seseorang Idap Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
8-faktor-yang-meningkatkan-risiko-seseorang-terkena-obstructive-sleep-apnea-osa-halodoc

Halodoc, Jakarta – Ternyata, ada banyak gangguan tidur yang bisa membuat kualitas tidur kamu menurun, lho. Salah satunya adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA adalah gangguan yang membuat kamu berhenti bernapas untuk sementara saat kamu tidur.

Hal ini tentu saja membuat kamu tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga akhirnya kamu akan terbangun dengan sakit kepala di pagi hari dan jadi mengantuk di siang hari. Karena itu, OSA sebaiknya jangan dibiarkan saja. Cari tahu faktor risiko obstructive sleep apnea di sini agar kamu bisa mencegah gangguan ini terjadi.

Mengenal Obstructive Sleep Apnea

Obstructive sleep apnea merupakan gangguan tidur yang serius, yang ditandai dengan adanya obstruksi jalan napas sehingga menyebabkan napas berhenti sesaat, baik secara total maupun parsial. Kondisi ini akan mengakibatkan pengidapnya kekurangan oksigen, sehingga berkali-kali terjaga, bahkan terbangun karena merasa tercekik. OSA juga sering sekali membuat pengidapnya mendengkur.

Obstructive sleep apnea bisa terjadi sampai 30 kali dalam satu jam saat kamu tidur di malam hari. Kamu mungkin tidak akan mengingat atau menyadari bahwa kondisi ini terjadi. Namun, orang yang mengidap OSA, biasanya akan bangun dengan rasa kelelahan, sehingga tidak bersemangat untuk menjalani aktivitas keesokan harinya.

Baca juga: Sering Mengorok, Waspada Gejala Obstructive Sleep Apnea

Ketahui Penyebab Obstructive Sleep Apnea

Obstructive sleep apnea terjadi ketika otot-otot di belakang tenggorokan terlalu rileks untuk bisa bernapas secara normal. Otot-otot tersebut berpengaruh pada banyak organ di mulut, seperti amandel dan lidah.

Ketika otot-otot tersebut rileks, saluran napas kamu akan menyempit atau menutup, sehingga memblokir udara sebagian atau sepenuhnya. Kondisi inilah yang menyebabkan kamu berhenti bernapas selama 10–20 detik. Penghentian napas selama beberapa saat tersebut akan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan karbon dioksida menumpuk.

Otak yang merasakan gangguan pernapasan tersebut pun akan segera membangunkan tubuh untuk bernapas kembali. OSA terjadi secara cepat, sehingga pengidap seringkali tidak mengingatnya.

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami OSA, yaitu:

  1. Usia. OSA lebih sering dialami oleh orang dewasa sampai lansia.
  2. Jenis kelamin. Secara umum, pria berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami OSA daripada wanita. Namun, wanita yang mengalami post menopause juga berisiko tinggi mengalami OSA.
  3. Mengidap kondisi kesehatan tertentu. Seperti diabetes, hipertensi, dan asma.
  4. Obesitas atau berat badan yang berlebih.
  5. Deformitas structural, yaitu penyempitan saluran napas.
  6. Memiliki kebiasaan buruk, seperti mengonsumsi alkohol, merokok, dan mengonsumsi obat penenang.
  7. Riwayat keluarga. Memiliki anggota keluarga yang mengidap OSA juga meningkatkan risiko kamu mengalami gangguan tidur tersebut.
  8. Pembesaran amandel atau adenoid pada anak-anak.

Baca juga: Mimpi Buruk Disertai Susah Bernapas, Hati-Hati Gejala Penyakit Ini

Cara Mencegah Obstructive Sleep Apnea

Obstructive sleep apnea bisa dicegah atau diminimalisir dengan menghindari faktor risiko di atas. Beberapa faktor risiko OSA memang tidak bisa dihindari, tapi sebagian lainnya masih bisa diatasi dengan mengubah gaya hidup. Berikut perubahan gaya hidup yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi OSA:

  • Mengurangi berat badan bila kamu mengalami obesitas.
  • Berolahragalah secara teratur.
  • Batasi konsumsi alkohol atau berhenti minum sama sekali, dan jangan minum minuman beralkohol beberapa jam sebelum tidur.
  • Hindari tidur terlentang. Sebaiknya kamu tidur dengan posisi miring (menghadap ke kanan atau kiri).

Baca juga: Ketahui 3 Penanganan Obstructive Sleep Apnea

Itulah 8 faktor risiko obstructive sleep apnea yang perlu kamu ketahui. Bila kamu memiliki gangguan tidur, coba bicarakan ke dokter lewat aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.