21 March 2019

8 Mitos Penyakit Alzheimer yang Salah

8 Mitos Penyakit Alzheimer yang Salah

Halodoc, Jakarta – Banyak orang yang menganggap bahwa penyakit alzheimer sama dengan demensia. Padahal tak semua pengidap demensia mengidap penyakit alzheimer. Namun, pengidap alzheimer pasti akan mengalami demensia, karena penyakit ini adalah bentuk demensia yang bersifat progresif. Demensia merupakan istilah yang lebih luas untuk kondisi yang disebabkan oleh cedera otak atau penyakit yang memengaruhi daya ingat, pemikiran, dan perilaku. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan pengidapnya sehari-hari. Agar tak banyak salah anggapan lagi, yuk ketahui mitos alzheimer yang sebenarnya salah.

  • Hanya Terjadi Pada Orangtua

Kebanyakan pengidap alzheimer adalah lansia berusia sekitar 65 atau lebih tua. Namun, hal tersebut tidak bisa menjadi patokan bahwa alzheimer hanya terjadi pada lansia. Orang yang lebih muda juga berisiko mengalami alzheimer. Alzheimer yang dialami oleh orang yang lebih muda biasanya bersifat genetik. Menurut peniliti, itu terjadi saat ada perubahan dalam satu dari tiga gen langka yang diturunkan dari orangtua. Se

  • Tanda Penuaan yang Normal

Sering lupa atau pikun adalah dampak dari penuaan yang normal terjadi. Tetapi bukan berarti hal tersebut menandakan gejala alzheimer. Pikun adalah kondisi hilang ingatan ringan yang terjadi seiring bertambahnya usia. Sedangkan dampak dari alzheimer adalah merusak sebagian besar fungsi otak, sehingga ingatan seseorang akan berangsur memburuk. Pengidap alzheimer dapat kehilangan kemampuan berpikir, makan, berbicara, dan banyak lagi. Jadi, jika pikiran kamu sudah tidak setajam dulu, bukan berarti kamu mengalami gejala alzheimer ya.

Baca Juga : Belum Tentu Penyakit, Ini Alasan Manusia Mudah Lupa

  • Tidak Menyebabkan Kematian

Faktanya, alzheimer bisa menyebabkan kematian. Pengidap alzheimer bisa lupa minum atau makan dan kesulitan menelan. Hal ini membuat pengidapnya kekurangan nutrisi. Selain itu, alzheimer juga dapat menimbulkan masalah pernapasan yang berujung pada pneumonia.  

  • Bisa Diobati

Nyatanya, alzheimer tidak bisa diobati. Seiring berjalannya waktu, gejalanya akan semakin memburuk. Obat-obatan seperti donepezil, galantamine, memantine, dan lain-lain kemungkinan membantu ingatan, keterampilan bahasa, dan beberapa masalah perilaku pengidap. Namun, obat-obatan tersebut tidak bekerja pada semua orang. Apabila berhasil, obat-obatan tersebut hanya membantu sementara saja.

  • Disebabkan Oleh Aluminium

Muncul sebuah anggapan bahwa memasak menggunakan panci alumunium bisa menyebabkan alzheimer. Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan tersebut. Jadi bisa dipastikan anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebaiknya, fokus pada cara lain untuk mengurangi risiko demensia, seperti memulai pola hidup sehat mulai sekarang.

Baca Juga : Mengenal 4 Jenis Obat untuk Meringankan Gejala Alzheimer

  • Disebabkan Oleh Suntikan Flu

Muncul anggapan lain bahwa suntikan flu terkait dengan risiko penyakit alzheimer. Namun, belum ada penelitian yang mendukung gagasan ini. Sebaliknya, terdapat sebuah studi yang menemukan penurunan risiko penyakit alzheimer pada orang yang telah menerima vaksinasi flu. Penelitian lain menyimpulkan bahwa suntikan flu berkorelasi dengan penurunan risiko kematian semua penyebab penyakit.

  • Disebabkan Oleh Aspartam

Anggapan bahwa aspartam (pengganti gula) menyebabkan penyakit alzheimer telah menyebar melalui media sosial. Tidak ada penelitian yang menemukan risiko alzheimer terhadap penggunaan aspartam, tetapi mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi bisa berdampak negatif untuk otak.

  • Disebabkan Oleh Tambalan Gigi

Tambalan gigi amalgam atau perak memang mengandung sejumlah kecil merkuri. Namun, anggapan bahwa tambalan gigi tersebut bisa meningkatkan risiko alzheimer tidak dapat dibuktikan. Penelitian lain menyebutkan bahwa menyikat gigi sangat membantu otak dari risiko berbagai penyakit.

Baca Juga : Inilah Cara-cara Berinteraksi dan Merawat Pengidap Alzheimer

Itulah mitos seputar alzheimer yang perlu kamu pahami. Jika kamu punya pertanyaan lainnya, jangan ragu untuk bertanya ke Halodoc. Yuk, gunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc. Melalui fitur tersebut kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!