28 November 2018

Pencipta Spongebob, Stephen Hillenburg Meninggal Dunia Akibat ALS

Pencipta Spongebob, Stephen Hillenburg Meninggal Dunia Akibat ALS

Halodoc, Jakarta – Pencipta karakter kartun terkenal SpongeBob SquarePants, Stephen Hillenburg, meninggal pada usia 57 tahun. Stephen meninggal karena penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) yang dideritanya sejak tahun 2017. Lantas apakah penyakit ALS itu?

ALS, juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig, penyakit Charcot, dan penyakit motor neuron (MND) yang menyerang sel-sel tertentu di otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk menjaga otot-otot kita bergerak. Tanda dan gejala awal ALS meliputi:

  1. Kram otot dan otot berkedut

  2. Kelemahan di tangan, kaki atau pergelangan kaki

  3. Kesulitan berbicara atau menelan

ALS tidak mempengaruhi indra pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa, dan sentuhan. Ketika seseorang mengidap ALS, maka neuron motorik di otak dan sumsum tulang belakangnya akan rusak dan mati.

Ketika ini terjadi, otak tidak dapat mengirim pesan ke otot lagi. Karena itu, otot-otot tidak mendapatkan sinyal sehingga melemah yang disebut atrofi. Ketika itu terjadi, otot-otot gagal bekerja sehingga kamu akan kehilangan kendali atas gerakan ototmu.

Pada awalnya, otot menjadi lemah atau kaku. Pengidapnya akan mengalami lebih banyak masalah dengan gerakan sederhana, seperti mencoba mengancingkan kemeja atau memutar kunci. Kamu mungkin semakin mudah tersandung atau jatuh lebih sering dari biasanya. Baru kemudian setelahnya, kamu tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, kepala, dan tubuh.

Puncaknya, orang-orang dengan ALS akan kehilangan kendali atas diafragma, dan otot-otot dada yang membantu bernapas. Pengidap ALS tidak dapat bernafas sendiri dan harus menggunakan mesin pernapasan.

Hilangnya kemampuan bernapas secara alami menyebabkan banyak orang dengan ALS mati dalam kurun 3—5 tahun setelah mereka didiagnosis. Namun, beberapa orang dapat hidup lebih dari 10 tahun dengan penyakit ini.

Orang dengan ALS masih bisa berpikir dan belajar. Mereka memiliki semua indra mereka, seperti penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa, dan sentuhan. Namun, penyakit ini dapat memengaruhi kemampuan ingatan dan pengambilan keputusan.

Dalam beberapa kasus, orang yang terindikasi ALS harus mengikuti beberapa tes termasuk:

  1. Elektromiografi dan konduksi saraf

  2. Pencitraan resonansi magnetik (MRI)

  3. Tes genetik

  4. Biopsi otot

  5. Pemeriksaan tulang belakang

  6. Tes darah dan urine

Orang-orang yang mengidap ALS neuron motornya akan memburuk, sehingga menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan. Sebagian besar kasus ALS bersifat langka dalam arti bisa terjadi kepada siapa saja tanpa perlu diwariskan secara genetik. Walaupun begitu, faktanya 10 persen pengidap ALS memang memiliki riwayat penyakit yang sama pada keluarganya.

Kebanyakan orang dengan ALS hidup sekitar 2—5 tahun setelah mengalami tanda-tanda awal penyakitnya. Kemudian, setidaknya 1 dari 10 orang hidup lebih dari 10 tahun setelah diagnosis ALS. Tingkat perkembangan variabelnya membuat sulit memprediksi perkembangan penyakit ini.

Orang dengan ALS akan merasakan beberapa tanda-tanda awal, seperti kram otot dan kejang atau berkedut (fasikulasi) di salah satu lengan atau kaki mereka. Tanda-tanda lain termasuk kelemahan di tangan dan kaki atau kehilangan keseimbangan. Sekitar 25 persen pengidap ALS akan mengalami kesulitan berbicara dengan jelas di awal permulaan mendapatkan penyakit ini.

Tidak ada obat untuk ALS dan sejauh ini pengobatannya adalah kombinasi beberapa metode perawatan, termasuk terapi dan konsumsi obat jenis rilutek, riluzole atau edaravone, dan terapi. ALS adalah penyakit kompleks sehingga pengidapnya membutuhkan terapi fisik, pernapasan, bicara, diet nutrisi yang tepat, dan okupasi untuk membantu menghambat perkembangan penyakit ini.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai ALS serta penanganannya, kamu bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: