Adakah Komplikasi yang Diakibatkan Kanker Kolorektal?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Adakah Komplikasi yang Diakibatkan Kanker Kolorektal?

Halodoc, Jakarta - Pernah merasakan diare atau konstipasi, buang air besar yang terasa tidak tuntas, hingga munculnya darah pada tinja. Gejala sakit pencernaan ini cukup umum terjadi, tetapi jika sudah menyebabkan mual, muntah, bahkan penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas ini bisa menandakan kamu mengalami kanker. Salah satu jenis kanker yang bisa menyerang sistem pencernaan adalah kanker kolorektal.

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar, atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung ke anus. Kanker ini bisa dinamai kanker kolon atau kanker rektum, tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker.

Baca Juga: 10 Faktor Pemicu Kanker Usus Besar

Komplikasi Apa yang Mungkin Terjadi Jika Mengidap Kanker Kolorektal?

Komplikasi paling umum dari kanker kolorektal adalah kanker yang menjalar ke bagian tubuh lainnya. Komplikasi bisa muncul akibat proses pengobatan. Komplikasi tersebut antara lain: 

  • Retensi urine;

  • Kebocoran dari lokasi bedah;

  • Nyeri;

  • Reaksi alergi kulit atau sensasi terbakar;

  • Penyumbatan mekanis (penyempitan);

  • Perdarahan dan radionekrosis (kerusakan jaringan akibat energi radiasi);

  • Mual dan muntah;

  • Diare;

  • Ketidakmampuan untuk melawan infeksi;

  • Reaksi alergi.

Karena cukup berbahaya, penting untuk segera memeriksakan diri saat ke dokter saat gejala muncul. Kamu bisa buat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc supaya lebih mudah. Penanganan dini diyakini mampu menghindarkan dari komplikasi tersebut.

Apa Penyebab Kanker Kolorektal?

Kebanyakan kanker kolorektal berawal dari polip usus atau jaringan yang tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum. Meski tidak semua polip bisa berkembang menjadi kanker kolorektal, namun hal ini perlu diwaspadai. Kemungkinan polip berubah menjadi kanker juga tergantung kepada jenis polip itu sendiri, antara lain: 

  • Polip adenoma. Jenis polip ini yang berubah menjadi kanker, karena itu adenoma juga disebut kondisi pra kanker;

  • Polip hiperplastik. Polip jenis ini sering terjadi, dan biasanya tidak menjadi kanker.

Selain tergantung pada jenis polip, ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan polip menjadi kanker kolorektal, seperti ukuran polip yang lebih besar dari 1 cm, terdapat lebih dari 2 polip di kolon atau rektum, atau bila ditemukan displasia (sel abnormal) setelah polip diangkat.

Baca Juga: Benarkah Polip Usus Dapat Sebabkan Hirschsprung?

Seperti kasus kanker pada umumnya, sel-sel yang tumbuh secara abnormal merupakan penyebab di balik semua kanker. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab sel-sel tersebut berkembang secara tidak terkendali. Beberapa faktor risiko yang memicu kanker kolorektal, antara lain: 

  • Usia. Risiko kanker kolorektal meningkat seiring bertambahnya usia. 

  • Riwayat penyakit. Seseorang dengan riwayat penyakit kanker atau polip kolorektal lebih berisiko terserang kanker kolorektal. Begitu juga seseorang dari keluarga yang pernah mengalami penyakit kanker atau polip kolorektal.

  • Penyakit genetik. Seseorang dengan penyakit yang diturunkan dari keluarga, seperti sindrom Lynch, berisiko tinggi mengalami kanker kolorektal.

  • Radang usus. Kanker kolorektal berisiko tinggi menyerang penderita kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.

  • Gaya hidup. Kurang olahraga, kurang asupan serat dan buah-buahan, konsumsi minuman beralkohol, obesitas atau berat badan berlebih, dan merokok meningkatkan risiko kanker kolorektal.

  • Radioterapi. Paparan radiasi pada area perut meningkatkan risiko kanker kolorektal.

  • Diabetes.

Bagaimana Cara Mengobati Kanker Kolorektal?

Jika kamu mengalami kanker kolorektal, maka dokter menjelaskan berbagai pilihan pengobatan yang bisa dilakukan. Biasanya pengobatan kanker akan termasuk:

  • Operasi. Tindakan pengobatan ini umum dilakukan untuk mengatasi kanker dengan cara  mengangkat tumor.

  • Kemoterapi. Dengan menggunakan obat-obatan, kanker kolektoral juga bisa diatasi. Kemoterapi bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh, maka pengidapnya wajib menjalani imunoterapi untuk mencegah infeksi selama pengobatan. Kombinasi pengobatan ini terbukti mengurangi penyebaran kanker secara lebih efektif daripada hanya menggunakan kemoterapi secara independen. Kemoterapi juga bisa dilakukan untuk membunuh setelah operasi. 

  • Radioterapi. Pengobatan ini memanfaatkan radiasi untuk membunuh sel-sel kanker. Radioterapi bisa digunakan sebelum operasi untuk mengurangi ukuran tumor kanker. Terkadang baik radioterapi dan kemoterapi digunakan setelah operasi.

Baca Juga: Lansia Lebih Rawan Kena Kanker Usus

Referensi:
NIH (Diakses pada 2019). MedlinePlus. Colorectal Cancer. 
Mayo Clinic (Diakses pada 2019). Diseases and Conditions. Colon Cancer.