• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jarang Makan Buah dan Sayur, Benarkah Rentan Alami Divertikulitis?

Jarang Makan Buah dan Sayur, Benarkah Rentan Alami Divertikulitis?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Divertikula adalah kantong kecil yang menonjol yang dapat terbentuk di lapisan sistem pencernaan dan ditemukan paling sering di bagian bawah usus besar. Divertikula sering terjadi, terutama setelah usia 40 tahun dan jarang menimbulkan masalah.

Namun kadang-kadang, satu atau lebih kantong meradang atau terinfeksi. Kondisi itu dikenal sebagai divertikulitis. Divertikulitis dapat menyebabkan sakit perut yang parah, demam, mual, dan perubahan kebiasaan buang air besar. Divertikulitis ringan dapat diobati dengan istirahat, perubahan pola makan, dan antibiotik. Divertikulitis yang parah atau berulang mungkin memerlukan pembedahan.

Baca juga: 5 Gejala Divertikulitis yang Tidak Boleh Diabaikan

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengembangkan divertikulitis:

  1. Insiden divertikulitis meningkat dengan bertambahnya usia.

  2. Kelebihan berat badan yang serius meningkatkan peluang terkena divertikulitis.

  3. Orang yang merokok lebih mungkin mengalami divertikulitis daripada yang bukan perokok.

  4. Kurang olahraga karena aktif berolahraga dapat menurunkan risiko divertikulitis.

  5. Beberapa obat dikaitkan dengan peningkatan risiko divertikulitis, termasuk steroid, opioid, dan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen (Advil, Motrin IB, yang lain) dan naproxen sodium (Aleve).

  6. Diet rendah serat dalam kombinasi dengan asupan tinggi lemak hewani tampaknya meningkatkan risiko.

Oleh karena diet rendah serat termasuk ke dalam salah satu faktor divertikulitis, kamu dianjurkan untuk memperbanyak makan-makanan tinggi serat, seperti buah dan sayur, untuk mencegah masalah pencernaan tersebut. Serat dapat menyerap air ketika melewati usus, sehingga akan menghasilkan tinja besar yang lebih mudah bergerak, mengurangi kemungkinan sembelit, dan tekanan yang dihasilkan di usus besar.

Ketika asupan serat tidak memadai, maka tinja akan berukuran kecil dan keras. Hal ini akan membuat usus besar harus berkontraksi dengan kekuatan yang lebih besar untuk mengeluarkannya dan memberikan tekanan ekstra pada dinding usus besar. Akibatnya, divertikulitis dapat terjadi.

Diet tinggi serat harus mencakup campuran biji-bijian utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, buah-buahan, kacang-kacangan (seperti kacang kering), dan sayuran. Pada kasus tertentu, orang dengan penyakit divertikular kadang-kadang juga diminta untuk menghindari popcorn, kacang-kacangan, dan biji-bijian karena khawatir bahwa makanan ini mungkin terperangkap dalam divertikula dan memicu divertikulitis.

Baca juga: 6 Makanan Berserat Terbaik untuk Kesehatan

Tanpa buah dan sayuran, kamu akan lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit pencernaan, seperti sembelit, wasir, dan divertikulosis. Buah-buahan dan sayuran mengandung selulosa yang bisa meningkatkan berat tinja, memudahkan perjalanannya, dan mengurangi waktu transit.

Sebuah studi dari Harvard Medical School, menunjukkan bahwa diet tinggi serat makanan yang menyediakan buah-buahan dan sayuran dapat mengurangi risiko penyakit divertikular. Makan lebih banyak serat sangat membantu masalah divertikulitis ini termasuk juga minum banyak cairan. Serat bekerja dengan menyerap air dan meningkatkan limbah yang lembut dan besar di usus besar. Jika kamu tidak minum cukup cairan untuk menggantikan apa yang diserap, serat bisa menyebabkan konstipasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi serat setidaknya 25-29 gram per hari (21 gram jika berusia di atas 50 tahun). Meski demikian, menambahkan serat dapat menyebabkan efek samping yang tidak menyenangkan, seperti kembung atau gas. Karena itu, untuk meminimalkan masalah ini, tingkatkan asupan serat harianmu secara bertahap, sekitar 5 gram per minggu dan pastikan untuk minum banyak cairan.

Baca juga: Hindari Divertikulitis dengan Mengurangi Konsumsi Daging Merah

Bagi kamu yang tidak bisa atau tidak mengonsumsi serat dalam makanan, kamu bisa mengonsumsi suplemen yang sudah banyak ditemukan di pasaran, seperti psyllium (Fiberall, Konsyl, Metamucil, dan lainnya), metilselulosa (Citrucel, generik), dan kalsium polikarbofil (FiberCon). Sangat penting untuk mengambil suplemen ini dengan air yang cukup, biasanya setidaknya delapan ons, lebih disukai lebih banyak dengan dosis masing-masing.

Beli suplemen yang kamu butuhkan lewat aplikasi Halodoc saja. Enggak perlu repot-repot keluar rumah, busui tinggal order saja melalui aplikasi dan obat pesanan ibu akan diantarkan dalam waktu satu jam. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diverticulitis.
Health. Diakses pada 2020. Exactly How Much Fiber You Should Be Eating Every Day, According to Science.