Alami Hipotermia, Beginilah Cara untuk Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
orang kedinginan

Halodoc, Jakarta - Meskipun Indonesia tidak memiliki musim dingin, kamu tetap berisiko mengalami hipotermia dengan berada di luar ruangan saat cuaca dingin dalam waktu lama. Misalnya saat mendaki gunung, berenang, berada dalam ruangan yang memiliki sistem ventilasi buruk, atau tenggelam.

Umumnya, kontak yang terlalu lama dengan lingkungan bersuhu lebih dingin daripada suhu tubuh bisa menyebabkan hipotermia, terutama jika kamu tidak berpakaian dengan tepat atau tidak bisa mengontrol kondisinya. Orang yang tidak bisa banyak bergerak untuk menghasilkan panas, seperti orang tua, bayi, atau orang dewasa yang sedang sakit, juga memiliki risiko tertentu untuk mengalami hipotermia.

Hipotermia Butuh Perhatian Medis Darurat

Kondisi hipotermia merupakan kondisi yang mengancam nyawa, sehingga membutuhkan perhatian medis darurat. Kamu perlu menghubungi nomor darurat lokal apabila melihat seseorang mengalami tanda-tanda hipotermia atau apabila kamu mencurigai seseorang mengalami paparan berlebih dan berkepanjangan terhadap cuaca atau air dingin yang tidak terlindungi.

Baca Juga: Berenang Terlalu Lama Dapat Sebabkan Hipotermia?

Apabila perawatan medis belum tersedia, kamu dapat melakukan tindakan berikut untuk mengatasi hipotermia.

  • Pindahkan pengidap ke tempat lain yang lebih hangat dan kering. Jika tidak memungkinkan, sebaiknya lindungi orang yang mengalami hipotermia dari paparan angin dan suhu dingin yang lebih buruk.
  • Lepaskan seluruh pakaian basah yang mungkin dikenakan pengidap.
  • Beri kehangatan dengan melapisi seluruh tubuh orang tersebut menggunakan selimut tebal, pakaian tebal berlapis-lapis, kantung tidur, maupun benda apapun yang dapat menghangatkan. Jangan lupa untuk membaringkan tubuhnya di atas selimut tebal atau alas lain yang dapat memberi kehangatan.
  • Kamu dapat memberikan kompres hangat, tetapi hindari untuk mengaplikasikannya ke bagian lengan dan kaki. Cara mengatasi hipotermia ini justru akan membuat suhu inti tubuh semakin menurun. Sebaiknya, terapkan kompres hangat pada area leher atau lipatan paha yang terdapat arteri utama.
  • Sebaiknya jangan memberikan bahan panas secara langsung ke kulit, seperti air panas atau lampu panas, tanpa melalui perantara. Selain akan merusak kulit, suhu panas tinggi bisa mengacaukan detak jantung.
  • Apabila pengidap hipotermia dalam keadaan sadar, minuman hangat dapat diberikan.
  • Selalu pantau pernapasan dan detak jantungnya.

Baca Juga: Malam Tahun Baruan di Gunung? Waspadai Hipotermia

Apabila kamu sudah mengupayakan hal di atas, tetapi pengidap tidak juga sadarkan diri, atau tidak menunjukkan denyut nadi atau tanda-tanda bernapas, segera hubungi bantuan darurat segera. CPR (resusitasi jantung paru) harus diberikan sesegera mungkin (jika kamu tahu caranya) saat denyut tidak dapat dirasakan dan tidak ada tanda-tanda pernapasan. Selalu cek denyut nadi selama satu menit penuh sebelum memulai CPR, karena jantung mungkin berdenyut sangat lambat dan kamu tidak harus melakukan CPR jika ada detak jantung.

CPR harus tetap dilanjutkan tanpa istirahat, dengan tidak adanya tanda-tanda bernapas atau denyut jantung, sampai paramedis muncul atau orang tersebut dibawa ke rumah sakit. Sangat penting untuk menangani orang yang sedang mengalami hipotermia dengan lembut dan hati-hati. Setelah suhu tubuh mulai naik, jaga tubuh orang tersebut tetap kering dan terbungkus dengan selimut hangat. Lindungi kepala dan lehernya juga.

Baca Juga: Kalau Naik Gunung, Waspadai Hipertermia

Kamu dapat berdiskusi pada dokter melalui aplikasi Halodoc mengenai tanda-tanda terjadinya hipotermia dan cara mengatasinya. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.