Alami Leukositosis, Benarkah Gejala dari Leukemia?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Alami Leukositosis, Benarkah Gejala dari Leukemia?

Halodoc, Jakarta - Pada tubuh manusia, terdapat beberapa sel darah yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Jenis dari sel darah antara lain sel darah merah, sel darah putih, dan plasma darah. Ketika infeksi atau virus masuk ke tubuh, fungsi dari sel darah putih akan aktif untuk membunuh pengganggu tersebut.

Sel darah putih mempunyai peran yang cukup fatal untuk kesehatan tubuh. Selain itu, sel darah putih yang berada di dalam tubuh juga harus dalam takaran cukup. Hal yang terjadi apabila jumlah sel darah putih terlalu banyak adalah leukositosis. Kelainan ini juga dapat berhubungan dengan leukemia.

Baca juga: 6 Gejala Si Kecil Alami Leukositosis

Leukositosis Merupakan Gejala dari Leukemia

Leukosit atau sel darah putih berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sel darah ini diproduksi pada sumsum tulang belakang dan penting untuk melindungi diri dari penyebab penyakit, seperti virus, bakteri, atau parasit. Jumlah leukosit tidak boleh terlalu sedikit atau terlalu banyak pada tubuh.

Gangguan yang terjadi ketika leukosit pada tubuh terlalu tinggi adalah leukositosis. Umumnya, hal ini terjadi ketika kamu sakit. Namun, terkadang kondisi ini juga disebabkan oleh stres yang berlebihan. Di samping itu, jumlah sel darah putih yang tinggi dapat berhubungan dengan leukemia.

Leukosit pada tubuh terdiri dari beberapa kandungan. Salah satu kandungan yang mungkin menjadi pertanda seseorang mengalami leukemia, terutama leukemia mielositik kronik, adalah jumlah neutrofil yang tinggi. Bagian ini merupakan kandungan paling besar dari sel darah putih.

Leukositosis juga dapat terjadi berhubungan dengan kadar monosit yang abnormal. Hal ini terkadang dapat berhubungan dengan leukemia. Komponen terakhir dari sel darah putih yang dapat menyebabkan leukemia adalah basofil yang tinggi. Walau begitu, basofil merupakan komponen paling sedikit pada sel darah putih.

Lalu, berapakah jumlah komponen yang ideal pada sel darah putih tersebut? Leukosit terdiri dari lima bagian, yaitu neutrophil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Pada tiap bagian memiliki volume tersendiri, yang jika berlebih dapat menjadi suatu gejala dari gangguan. Pada neutrofil sekitar 40-60 persen, limfosit 20-40 persen, monosit 2-8 persen, eosinophil 1-4 persen, dan basofil 0,5-1 persen.

Pada intinya, jika leukositosis terjadi pada kamu, kemungkinan besar beberapa gangguan bisa terjadi. Gangguan tersebut antara lain terganggunya sistem kekebalan tubuh karena produksi sel darah putih berlebih, reaksi obat, gangguan sumsum tulang belakang, dan infeksi yang sangat parah. Jika kamu memiliki pertanyaan terkait gangguan ini, dokter dari Halodoc siap membantu kamu.

Baca juga: 3 Penanganan Leukositosis pada Anak

Faktor yang Meningkatkan Risiko Leukositosis

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap sel darah putih berlebih atau leukositosis. Beberapa hal tersebut antara lain reaksi yang timbul karena sistem kekebalan tubuh, kerusakan jaringan pada tubuh, infeksi atau peradangan, dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Pengobatan Terhadap Leukositosis

Leukosit atau sel darah putih pada tubuh kamu dapat kembali normal tanpa dilakukan pengobatan. Selain itu, ahli medis juga akan mengobati hal yang menyebabkan sel darah putih berlebih ini. Selain itu beberapa pengobatan yang dapat dilakukan adalah:

  • Cairan intravena dapat dilakukan untuk memberikan pengidapnya cairan ekstra dan elektrolit masuk ke tubuh.

  • Obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengurangi peradangan atau mengobati infeksi yang terjadi. Kamu mungkin akan diberikan obat yang berfungsi untuk mengurangi kadar asam dalam tubuh atau urine.

  • Leukapheresis, yaitu suatu cara untuk mengurangi jumlah sel darah putih dalam tubuh. Darah akan diambil dari tubuh melalui infus dan memisahkan sel darah merah. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan terhadap darah yang telah diambil tersebut.

Baca juga: Dampak Kelebihan Sel Darah Putih dalam Tubuh

Referensi:
Healthline (Diakses pada 2019).
Drugs.com (Diakses pada 2019).
WebMD (Diakses pada 2019).